Rabu, 6 Mei 2026

Dunia Medis Aceh Berduka

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Seorang dokter ahli anestesi (pembiusan) di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, dr Imai Indra

Tayang:
Editor: bakri
KOMPAS.COM/RAJA UMAR
Tim medis di RSUZA berbaris sambil melantunkan shalawat saat pelepasan mobil ambulan jenazah dokter Imai Indra sebagai bentuk penghormatan terakhir, Rabu (2/9/2020). 

* Dokter Spesialis RSUZA Meninggal karena Covid-19

BANDA ACEH - Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Seorang dokter ahli anestesi (pembiusan) di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, dr Imai Indra SpAN, Rabu (2/9/2020) pagi meninggal dunia. Imai mengembuskan napas tersebut setelah lebih dari dua minggu dirawat akibat terinfeksi Covid-19. Kepergian dr Imai untuk selama-lamanya tak hanya menjadi duka bagi keluarga besar RSUZA dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, tapi juga bagi dunia medis dan masyarakat Aceh secara umum.

Betapa tidak, dr Imai merupakan dokter pertama di Tanah Rencong yang meninggal dunia akibat Covid-19. Dokter Imai Indra yang juga tenaga pengajar pada Jurusan Anestesiologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), ini mengembuskan napas terakhir di Respiratory Intensive Care Unit (RICU) RSUZA pada pukul 09.40 WIB, kemarin.

Beberapa teman sejawat almarhum menyampaikan kabar duka tersebut kepada Serambi, pagi kemarin. Salah satunya, dr Aslinar SpA yang juga berdinas di RSUZA dan sudah sembuh dari Covid-19. Di grup WhatsApp (WA) IDI Aceh dan Green Black HMI Aceh, informasi itu juga tersiar pada pukul 10.00 WIB, atau 20 menit setelah dr Imai berpulang.

Kabar tersebut beredar di kedua grup WA itu karena dr Imai dulu merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banda Aceh dan hingga akhir hayatnya merupakan anggota IDI Banda Aceh. Pria putih ganteng kelahiran Provinsi Riau, ini meninggalkan seorang istri dan dua anak. Ketiga orang terkasih almarhum pun terinfeksi Covid-19 dan hingga kini masih dirawat di Poliklinik Pinere RSUZA.

Segera setelah dr Imai dinyatakan meninggal, Tim Instalasi Pemulasaraan Jenazah (IPJ) RSUZA melakukan fardhu kifayah terhadap jenazah almarhum. Mulai dari dimandikan, dikafankan, hingga dishalatkan, semuanya berlangsung di lingkungan RSUZA lama yang letaknya bersebelahan dengan RSUZA baru atau New Hospital RSUZA. Jenazah almarhum dikebumikan di tempat tinggalnya Gampong Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, sekitar pukul 13.30 WIB, kemarin.

Dalam video yang dikirim Ketua IDI Wilayah Aceh, Dr dr Safrizal Rahman SpOT, kepada Serambi, Rabu (2/9/2020) siang, tampak ratusan pegawai RSUZA, serta teman sejawat dan kerabat almarhum memadati areal parkir RSUZA lama, kawasan Lampriek, Banda Aceh, sekitar pukul 12.00 WIB, kemarin. Tujuan mereka untuk melakukan shalat jenazah dan memberikan penghormatan terakhir kepada dr Imai Indra SpAN.

"Alhamdulillah, jenazah almarhum dishalatkan oleh ratusan pegawai RSUZA, teman sejawat, kerabat, dan handai tolan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, menjaga jarak, dan memakai masker," kata Safrizal yang juga dokter FK Unsyiah kepada Serambi, kemarin siang.

"Kami sangat kehilangan. Dokter Imai adalah pribadi yang sangat baik. Dia bekerja penuh dedikasi, baik di kampus maupun di rumah sakit. Semoga Allah memberinya pahala syahid dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini," timpal Safrizal.

Menurut Safrizal, dr Imai terpapar virus Corona setelah tiga minggu lalu sempat melakukan tindakan operasi terhadap pasien positif Covid-19. Tak lama setelah melakukan tindakan itu, lanjut Ketua IDI Aceh, dr Imai langsung melakukan swab dan hasilnya ia dinyatakan positif Corona. “Swabnya sudah seminggu lalu, sudah dirawat di RICU, nggak sadar dan langsung koma,” pungkas Safrizal Rahman.

Ucapan duka cita juga disampaikan Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT. "Kami sangat kehilangan. Semoga almarhum diampuni segala dosa dan husnul khatimah. Keluarga yang ditinggalkan hendaknya tabah menghadapi cobaan ini. Amin ya Rabbal ‘alamin," ungkap Dr Azharuddin.

Terpisah, Humas RSUZA, Rahmadi, kepada Serambi, kemarin, menyebutkan, tak kurang dari seratus orang ikut menyalatkan jenazah dr Imai di Kompleks RSUZA lama. “Ramai yang ikut menyalatkan, termasuk Pak Direktur RSUZA, dan Pak Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah. Kami semua--dokter, tenaga medis, dan staf--tadi (kemarin-red) juga ikut menyalatkan jenazah almarhum,” jelas Rahmadi.

Menurutnya, proses shalat jenazah dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Jenazah dr Imai ditempatkan dalam ambulans dan kemudian jamaah mengatur saf dengan menjaga jarak. Bahkan, sambungnya, tak sedikit para tenaga medis yang tetap mengenakan alat pelindung diri (APD) saat shalat jenazah tersebut.

Sebelum dikembumikan di Blang Krueng, sambung Rahmadi, jenazah almarhum kembali dishalatkan oleh masyarakat gampong setempat, dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

“Masyarakat minta shalatkan juga di sana, karena almarhum memang orangnya baik sekali. Di rumah sakit, semua kita juga mengakui bahwa beliau adalah dokter yang cukup baik,” pungkas Rahmadi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved