Breaking News:

Hadirkan Investor, Cara Aminullah Bangun Kota Banda Aceh

Sebuah daerah atau kota jika ingin dijadikan maju maka harus memiliki beberapa unsur dalam pencapaiannya

DOK HUMAS PEMKO BANDA ACEH
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman bersama pengusaha muslim yang juga Founder and Chairman CT Corp, Chairul Tanjung meninjau salah-satu lahan yang akan dijadikan bangunan Transmart di Banda Aceh pada Maret ta¬hun 2018 lalu. Saat ini Transmart sedang dibangun di kawasan Jl P Nyak Makam, Lampineung Banda Aceh. 

BANDA ACEH - Sebuah daerah atau kota jika ingin dijadikan maju maka harus memiliki beberapa unsur dalam pencapaiannya. Pun Banda Aceh, sebagai kota jasa, pendidikan, dan tujuan wisata ini tak cukup jika hanya bemandiri dengan Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) yang ada.

Banda Aceh sebagai Ibu Kota Provinsi Aceh dengan kapasitas penduduk mencapai 265.111 jiwa dengan kepadatan 43 jiwa/Ha, su­dah sepatutnya mengejar kemajuan dengan memperkuat pembangunan infrastruktur. Dipimpin oleh Aminullah Usman bersama Zainal Arifin, Banda Aceh sebagai kota sasaran urbanisa­si dari Kabupaten/Kota di Aceh untuk melanjutkan pendidikan dan mencari kerja kini telah ditata lebih baik.

Oleh ‘master plan’ Aminullah Usman, ekonom kelas nasional yang cukup dikenal di Aceh ini, Banda Aceh bak disulap menjadi daerah yang punya daya tarik tinggi bagi para investor Nasional, maupun Mancanegara. Akan dibangun dian­taranya Trans Studio Mal termewah di pulau Sumatera dan perdana yaitu di Banda Aceh dengn nilai investasi hampir mencapai Rp. 1 triliun, dan pengusaha dari Malaysia pun akan membangun pusat perbelanjaan dan hotel di eks lahan Terminal Keudah.

Hal itu berkat tuah dari nego­siator ulung yang pernah membawa Bank Aceh Syariah (dulunya PT BPD Aceh) dari keterpurukan, bangkit da­lam kurun waktu 10 tahun dengan jumlah aset awal 660 M menjadi 13 T dan kembali masuk kategori Bank “sehat”. Rahasianya, Aminullah mampu mendatangkan investor baru dikala masa krisis; krisis moneter 1999, konflik bersenjata antara RI dan GAM, gempa bumi dan tsunami 2004, diantaranya kerja sama den­gan Jerman, Turki dan Malaysia.

Jurus jitunya itu pun kerap dit­erapkannya dalam mendongkrak laju pembangunan infrastruktur di Ban­da Aceh. Aminullah berjuang keras mencari sumber dana diluar APBK, menyenter mulai dari APBA, APBN, hibah luar negeri, dan dengan men­datangkan para investor.

Kemudahan berinvestasi di Banda Aceh juga ditandai dengan meningkatnya realisasi investasi di Kota Banda Aceh. Sebagai perbandin­gan, realisasi investasi Banda Aceh (tri­wulan I s/d triwulan 4), yaitu tahun 2016 realisasi investasi sebesar Rp. 15.9 triliun, tahun 2017 realisasi investasi sebesar Rp. 118 triliun, tahun 2018 re­alisasi investasi sebesar Rp. 248 triliun, tahun 2019 realisasi investasi sebesar Rp. 566 triliun. Data ini membuktikan bahwa telah terjadi perkembangan dari segi investasi di Banda Aceh.

Di Banda Aceh, pada 2019 jumlah real estate sebanyak 262 unit, Hotel 4 unit, dan SPBU 1 unit. Dan da­lam 2020 real estate sebanyak 78 unit, spbu 1 unit, dan Hotel 1 unit.

Namun banyak investor khu­susnya penanam modal dalam negeri (PMDN) tidak menyampaikan lapo­ran dengan seharusnya, disebabkan terjadinya pandemi Covid-19 yang masih berlangsung di Indonesia dan turut berimbas di Kota Banda Aceh, terkait dengan hal tersebut aparatur juga tidak dapat melakukan pengen­dalian (pemantauan, pengawasan, pembinaan) yang dilakukan langsung di lokasi proyek disebabkan adanya aturan yang membatasi baik secara physical distancing maupun social dis­tancing. Salah satu tugas dari kegiatan ini adalah untuk mendongkrak realisasi investasi di Kota Banda Aceh. Dengan kata lain, Banda aceh sebelum covid yang sedang menjadi incaran investor, oleh sebab itu, ada beberapa investor yang sudah komit berinvestasi terpak­sa tertunda terhalang pandemi.

Indikator yang menjadi sebab datangnya investor melirik ibu kota Provinsi Aceh sebagai tempat mena­nam modal diantaranya pemerintah kota akan menyediakan lahan yang diperlukan sekaligus memberikan berbagai kemudahan perizinan, juga memiliki andalan utama sektor pari­wisata, kota di pantai barat ini pun memiliki prospek investasi di sektor pendidikan, kelautan, dan kesehatan.

Selain itu, Banda Aceh ditetap­kan sebagai kota terbaik dalam hal penanganan konflik sosial dari Ke­menterian Dalam Negeri (Kemend­agri) RI, dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia, Banda Aceh dinilai paling aman karena tidak pernah terjadi konflik sosial berbasis SARA. Aminullah melihat ini melihat hal itu berdampak positif terhadap iklim in­vestasi dan pariwisata Banda Aceh. Unsur ini pun menjadi indikator pent­ing dalam mendatangkan investor.

Mantan Bankir ini pun may­akinkan bahwa dengan adanya investasi baru maka akan menam­pung tenaga kerja baru pula yang berujung pada pemerataan dan peningkatan ekonomi warga (mul­tiplier effect). Tentu semua itu akan berpengaruh pada penurunan angka pengangguran dan kemiskinan, serta memberikan peluang bagi pelaku us­aha UMKM, meningkatkn kunjungan wisatawan dan juga berdampak pada keindahan kota.(hba/*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved