Breaking News:

Alat Uji Swab di RSUCM Habis, Tak Bisa Lagi Periksa Sampel Pasien Covid-19

Stok alat uji swab pasien yang reaktif dan positif Covid-19 berupa cartridge polymerase chain reaction (PCR) di Rumah Sakit Umum Cut Meutia

For Serambinews.com
Humas RSU Cut Meutia Ach Utara, Jalaluddin SKM MKes. 

LHOKSUKON - Stok alat uji swab pasien yang reaktif dan positif Covid-19 berupa cartridge polymerase chain reaction (PCR) di Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara, sejak Selasa (15/9/2020) dilaporkan kosong. Akibatnya, rumah sakit tersebut sekarang tak bisa lagi memeriksa sampel swab pasien Covid-19. Sehingga, sampel tersebut harus dikirim ke Banda Aceh. Sementara dalam beberapa terakhir, RSUCM masih bisa melakukan uji sampel swab langsung di laboratorium, sehingga hasilnya bisa diketahui lebih cepat.

Untuk diketahui, RSUCM sekitar dua bulan yang lalu menerima cartridge PCR bantuan dari Kementerian Kesehatan RI melalui Dinas Kesehatan Aceh sebanyak 120 unit. Dari jumlah itu, 70 unit di antaranya sekitar sebulan lalu dikirim ke Dinas Kesehatan Aceh karena stok di sana juga sudah menipis. “Sementara 50 unit yang tersisa, sudah kita gunakan untuk memeriksa pasien yang reaktif dan positif Corona, sehingga mulai Selasa (15/9/2020) sore sudah kosong,” ujar Humas RSUCM, Jalaluddin MKes, kepada Serambi, Rabu (16/9/2020).

Untuk satu pasien, sebutnya, pemeriksaan uji swab harus dilakukan dua sampai tiga kali. Karena itu, dibutuhkan stok alat tersebut yang memadai di rumah sakit. Apalagi, menurut Jalaluddin, selama ini setiap hari selalu ada pasien rujukan yang reaktif Covid-19. Terlebih, sambungnya, RSCM merupakan rumah sakit rujukan kedua untuk pasien Corona di Aceh. “Jadi, selama ini pasien rujukan reaktif Covid bukan saja dari Lhokseumawe dan Aceh Utara, tapi juga dari kabupaten/kota lain di Aceh dan bahkan dari luar Aceh,” jelas Jalaluddin.

Karena itu, katanya, alat tersebut harus selalu tersedia. Sebab, jumlah pasien yang masuk setiap hari tidak bisa diprediksi. Dengan adanya stok alat tersebut, akan memudahkan petugas medis dalam merawat dan memastikan kondisi pasien tersebut positif Corona atau tidak hanya dalam waktu beberapa jam. Tapi, jika alat tersebut kosong, sampel swab harus dikirim ke Banda Aceh atau Jakarta biasanya membutuhkan waktu tujuh sampai delapan hari.

“Kita sudah usul lagi ke Kemenkes RI melalui Dinkes Aceh. Harapannya, permohonan itu segera direspons agar alat tersebut bisa tersedia lagi di RSUCM. Sehingga saat dibutuhkan sudah ada,” pungkas Jalaluddin.

Pada bagian lain, Humas Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara, Jalaluddin MKes, mengungkapkan, sebagai rumah sakit rujukan kedua bagi pasien Covid-19 di Aceh, RSUCM memiliki dua ruangan untuk untuk menampung pasien Corona. Ruangan itu terdiri atas Ruang Penyakit Infeksi New Emerging and Reemerging (Pinere) untuk merawat pasien dari kalangan orang tanpa gejala (OTG) dan reaktif serta Ruang Respiratory Intensive Care Unit (RICU) untuk isolasi pasien yang positif Covid-19.

Kedua ruangan tersebut diresmikan Bupati Aceh Utara pada pertengahan Agustus 2020. “Di dua ruangan tersebut, kita memiliki 17 bed. 12 bed di ruang Pinere dan lima bed di ruang RICU,” ujarnya, kemarin. Sedangkan total bed di RS tersebut mencapai 311 unit. “Memang belum memadai jumlah bed untuk menampung pasien Corona, karena seharusnya harus tersedia 10 persen dari jumlah total bed, berdasarkan intruksi Plt Gubernur Aceh,” timpalnya.

Namun, menurut Jalaluddin, di ruang Pinere masih bisa ditambah bed jika pasien Covid-19 terus bertambah. Ia menambahkan, pihaknya terus berupaya menambah bed dalam kedua ruangan itu hingga mencapai kuota (31 bed) sesuai intruksi Plt Gubernur Aceh. “Kalau nanti dibutuhkan, akan kita tambah bednya. Tapi, sekarang di ruangan tersebut masih ada bed yang kosong,” jelas Jalaluddin. (jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved