Luar Negeri
PM Inggris Kembali Berlakukan Jam Malam, Cegah Penyebaran Virus Corona Makin Luas
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Selasa (22/9/2020) mengerem kembalinya ke kantor dan kehidupan sosial yang normal.
SERAMBINEWS.COM, LONDON - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Selasa (22/9/2020) mengerem kembalinya ke kantor dan kehidupan sosial yang normal.
Dia mengatakan Inggris berada pada titik balik yang berbahaya dalam perang melawan virus Corona.
Dia mengatakan Inggris harus bertindak sekarang atau menghadapi gelombang besar kedua dari penyakit itu.
Johnson mengumumkan paket pembatasan baru jam malam, termasuk mewajibkan pub, restoran, dan tempat hiburan lainnya di Inggris untuk tutup antara pukul 10 malam dan 5 pagi.
Mendesak orang-orang untuk bekerja dari rumah jika memungkinkan, lansir AP, Selasa (22/9/2020).
"Ini saatnya kita harus bertindak," katanya.
Dia memperingatkan tindakan tersebut mungkin harus tetap dilakukan selama enam bulan ke depan.
Disebutkan, orang-orang harus memakai masker wajah di taksi dan juga di angkutan umum.
Jumlah pertemuan dibatasi, dengan pernikahan dibatasi hanya 15 orang, bukan 30 orang.
Rencana untuk membawa penonton kembali ke stadion olahraga mulai Oktober ditunda.
Pemerintah Inggris juga menaikkan sanksi karena melanggar aturan.
• Arab Saudi Perkenalkan Bahasa Inggris ke Murid Kelas Satu SD Mulai Tahun Depan
Pengumuman itu datang sehari setelah penasihat ilmiah dan medis utama pemerintah Inggris mengatakan infeksi virus Corona baru berlipat ganda dalam tujuh hari terakhir ini.
Sehingga dapat meningkat menjadi 49.000 orang sehari pada pertengahan Oktober jika tidak ada yang dilakukan untuk membendung arus.
Pada Senin (21/9/2020), pemerintah melaporkan 4.300 kasus baru yang dikonfirmasi, jumlah tertinggi sejak Mei 2020.
Inggris secara bertahap meningkatkan pembatasan seiring dengan meningkatnya kasus, termasuk melarang orang bertemu dalam kelompok besar.
• Kasus Virus Corona Arab Saudi, 552 Kasus Baru dan 30 Kematian
Tetapi tindakan tersebut tidak seketat penguncian nasional yang diberlakukan pada Maret 2020 yang membatasi sebagian besar populasi dan menutup sebagian besar bisnis.
Inggris mengurangi pengunciannya mulai Juni 2020, karena kasus-kasus mulai menurun, tetapi tren itu sekarang telah berbalik.
Beberapa anggota parlemen dari Partai Konservatif yang memerintah merasa tidak nyaman tentang pengetatan pembatasan bisnis dan kehidupan sehari-hari.
Karena dampaknya pada ekonomi Inggris yang sudah goyah dan pembatasan kebebasan sipil.
Pengusaha dan pekerja di bisnis perhotelan juga menjadi perhatian.
Kate Nicholls, kepala eksekutif badan perdagangan UKHospitality mengatakan sebelum pengumuman pembatasan tersebut merupakan pukulan telak bagi banyak bisnis.
Tetapi kebanyakan ahli epidemiologi percaya bahwa pembatasan sekali lagi diperlukan dan bahkan khawatir bahwa rencana pemerintah mungkin tidak berjalan cukup jauh.(*)
• Arab Saudi Peringati Hari Nasional 23 Desember, Atraksi Udara Sudah Dimulai di Jeddah
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pm-inggris-boris-johnson1.jpg)