Kamis, 9 April 2026

Covid-19 Pengaruhi Penjualan Kayu

Kalangan pedagang kayu di Banda Aceh dan Aceh Besar mengaku omzet penjualan kayu olahan di masa pandemi Covid-19 menurun

Editor: bakri
SERAMBI/HERIANTO
Salah satu lokasi penjualan kayu di Lambaro, Aceh Besar, Jumat (2/10/2020). 

BANDA ACEH - Kalangan pedagang kayu di Banda Aceh dan Aceh Besar mengaku omzet penjualan kayu olahan di masa pandemi Covid-19 menurun sekitar 40 persen. Akibatnya, terjadi penumpukan bahan bangunan tersebut di panglong mereka.

“Pada Januari-Februari 2020 lalu, omzet penjualan per bulan masih berkisar 10-20 kubik. Namun sejak Maret hingga Oktober ini, penjualan tinggal 6-12 kubik/bulan. Turun sekitar 40 persen,” kata Misriansyah, pedagangan kayu di Lambaro, Aceh Besar, kepada Serambi, Jumat (2/10/2020).

Ungkapan hampir senada juga dilontarkan Ridwan, pedagang kayu di Jalan T Iskandar, Gampong Lambhuk, Kota Banda Aceh. Dikatakan, suplai kayu dari berbagai daerah cukup banyak. Bahkan mereka punya stok kayu sebanyak 150 kubik. Meski stok melimpah, tuturnya, daya beli masyarakat di masa pendemi ini melemah, sehingga omzet penjualan menjadi menurun.

Dikatakan, penurunan terbesar terjadi pada Agustus dan September. “Penjualan memang sudah menurun sejak April. Namun terjadi penurunan drastis pada Agustus dan September. Padahal harga kayu yang dijual tidak mengalami kenaikan,” tutur Ridwan.

Diterangkan, harga kayu semantok saat ini berkisar Rp 6 juta-Rp 6,2 juta per kubik, damar Rp 5 juta/kubik, meranti Rp 4,8 juta-Rp 5 juta/kubik, krueng Rp 4,8 juta-5 juta/kubik, dan kayu sembarang Rp 3,3 juta-Rp 3,5 juta/kubik.

Misriansyah menambahkan, selama pandemi Covid-19, yang banyak dibeli orang adalah kayu jenis sembarang, karena harganya murah. Sedangkan kayu bagus, seperti semantok, meranti, damar, sudah jarang dibeli. Permintannya tetap ada, tapi jumlahnya tidak sebanyak sebelum pandemi Covid.(her)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved