Selasa, 21 April 2026

Luar Negeri

Perang Armenia dan Azerbaijan Makin Sengit, Giliran Kota Ganja Dihujani Roket

Minggu (4/10/2020), Azerbaijan membombardir kota-kota di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh, yang dihuni etnis Armenia tapi berada di wilayah Azerbaij

Editor: Faisal Zamzami
rt.com
Perang Armenia Azerbaijan, Giliran Kota Ganja Dihujani Roket . Ibu Kota Nagorno Karabakh Stepanakert dan Kota Ganja kota kedua terbesar Azerbaijan sama sama jadi target serangan 

SERAMBINEWS.COM - Perang Armenia Azerbaijan makin sengit dan diperkirakan akan berlangsung lama sejak meletus Minggu (27/9/2020).

Minggu (4/10/2020), Azerbaijan membombardir kota-kota di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh, yang dihuni  etnis Armenia tapi berada di wilayah Azerbaijan.

Setelah perang 1990-an, Nagorno-Karabakh mendeklarasikan diri sebagai negara terpisah dari Azerbaijan.

Nagorno-Karabakh bergantung pada Armenia. 

Sedangkan pasukan Nagorno-Karabakh membalas dengan menggempur kota terbesar kedua Azerbaijan, Ganja.

Roket-roket menghancurkan beberapa perumahan di Kota Ganja.

Di Stepanakert, ibu kota Nagorno-Karabakh yang berpenduduk sekitar 55.000 orang, sirene meraung diikuti oleh beberapa ledakan di daerah tersebut.

Listrik padam dan penduduk bergegas ke tempat penampungan terdekat.

"Serangan baru menargetkan Stepanakert, ada kerusakan dan cedera di antara warga sipil," kata Kementerian Luar Negeri Nagorno-Karabakh.

Kemudian diumumkan bahwa telah terjadi korban jiwa di antara warga sipil.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Armenia merilis rekaman yang menunjukkan mobil dan bangunan terbakar, dan jalan-jalan berserakan dengan pecahan proyektil.

Pasukan Nagorno-Karabakh bersumpah memberikan balasan dengan menembakkan roket-roket ke Kota Ganja, kota terbesar kedua Azerbaijan.

Pejabat Azerbaijan membantah adanya kerugian materi di militer, tetapi mengonfirmasi bahwa Kota Ganja terkena serangan tembakan roket yang hebat, dan menuduh pasukan Armenia menembakkan rudal "ke daerah permukiman padat".

Hikmet Hajiyev, Penasihat Presiden Azerbaijan, mengatakan setidaknya empat rudal menghantam kota itu, mengunggah video yang menunjukkan dampak yang menghancurkan dari serangan itu.

S
Lokasi perang Armenia Azerbaijan (bbc)

Arab Saudi Buka Umrah dalam 3 Tahap, Jamaah Luar Negeri Dibuka 1 November 2020 dan Peserta Dibatasi

VIRAL Pria Ini Ngaku Hijrah dari Dunia LGBT, Cobaan Digoda Cowok-cowok Ganteng, Terjadi Perang Batin

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev telah memperingatkan bahwa negaranya tidak dapat lagi melakukan negosiasi 'sia-sia' dengan Armenia atas sengketa Nagorno-Karabakh, karena pertempuran baru terus berlanjut di wilayah tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, yang ditayangkan Sabtu, Aliyev mengatakan kelompok Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE) yang diketuai bersama AS, Prancis dan Rusia, “telah bekerja selama 28 tahun untuk menengahi konflik Nagorno-Karabakh, tetapi tidak berhasil. "

Pemimpin Azerbaijan itu menekankan bahwa penyelesaian konflik dengan tetangganya, Armenia harus ditemukan "secepat mungkin".

''Kami tidak dalam posisi untuk mendengarkan pernyataan seperti 'Hentikan, kami akan bekerja [dengan Anda], kami akan bernegosiasi, kami akan membantu.' Kami telah mendengar ini berkali-kali.

Kami tidak punya waktu untuk menunggu 30 tahun lagi. Konflik harus diselesaikan sekarang.''

Profesor Paul Robinson dari Universitas Ottawa, penulis sejarah Rusia dan Soviet, sejarah militer mengungkap akar konflik terbaru Armenia Azerbaijan seperti dilansir rt.com 

Azerbaijan tidak pernah melupakan kekalahan perang 1990-an yang dimenangkan Armenia hingga Nagorno-Karabakh berani mendeklarasikan negara sendiri.

Kini Azerbaijan sudah lebih kuat dari musuh bebuyutannya Armenia ditambah dukungan Turki.

Presiden Rusia Vladimir Putin pernah mengeluh bahwa pendiri komunis Vladimir Lenin telah menempatkan 'bom waktu' di bawah Rusia.

Bom waktu itu adalah prinsip federal setelah Bolshevik pimpinan Lenin mengambil alih kekuasaan pada tahun 1917 dengan menggulingkan Kekaisaran Tsar Rusia.

Lenin memberi etnis minoritas membentuk republik dalam Uni Soviet.

Lenin menciptakan situasi yang memungkinkan republik-republik itu memisahkan diri dari federasi begitu kekuatan komunis runtuh.

Federasi Soviet membawa masalah lain.

Partai Komunis Soviet memberikan otonomi yang lebih besar dalam bentuk 15 'Republik.'

Etnis yang lebih kecil yang berada dalam Republik juga mendapat otonomi, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Ada yang disebut 'republik otonom' (autonomous republics) dan 'daerah otonom (autonomous regions).'

Ketika Uni Soviet bubar, 15 Republik mendapatkan kemerdekaan, tetapi republik otonom dan wilayah di dalamnya tidak.

Tidak mengherankan, banyak minoritas kecil tidak terlalu senang dengan hasil yang agak sewenang-wenang ini, dan berusaha untuk memisahkan diri dari Republik yang merdeka setelah Soviet bubar.

Hasilnya adalah beberapa perang, yang pertama terjadi di Daerah Otonomi Nagorno-Karabakh, daerah kantong Armenia di Azerbaijan, setelah mencoba memisahkan diri dari Azerbaijan dan bergabung dengan Armenia.

Perang berakhir 1990-an dengan kemenangan Armenia.

Orang-orang Armenia tidak hanya mengusir suku Azeri dari Nagorno-Karabakh, tetapi mereka juga merebut sebagian wilayah Azeri yang menghubungkan Armenia dengan wilayah yang memisahkan diri.

Nagorno-Karabakh menjadi negara merdeka de-facto, meskipun tidak diakui oleh siapa pun dan sepenuhnya bergantung pada dukungan Armenia.

Sementara Azerbaijan tidak pernah meninggalkan klaimnya atas provinsi yang hilang maupun atas wilayah yang direbut oleh Armenia. (rt.com)

Air Bersih Masih Jadi Permasalahan Pokok Bagi Warga Aceh Singkil

Dorong Denyut Ekonomi di Era Pandemi Covid-19, Lazismu Lhokseumawe Luncurkan Kemasan UMKM Lokal

Vishal Kirti Bagikan Kenang-kenangan Foto Pesta Pernikahan Bersama Sushant Singh Rajput

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul INILAH Akar Permasalahan Perang Armenia Azerbaijan, Giliran Kota Ganja Dihujani Roket,

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved