Selasa, 2 Juni 2026

Luar Negeri

Korban Tewas Perang Armenia dan Azerbaijan Capai 600 Orang

Sebanyak 600 orang dilaporkan tewas, dalam perang antara Armenia dan Azerbaijan di kawasan Nagorno-Karabakh selama dua pekan terakhir.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
AP PHOTO/Aziz Karimov
Dalam foto bertanggal 11 Oktober 2020 ini, tim penyelamat mengangkat korban luka ke ambulans setelah serangan dari artileri Armenia di kota Ganja, Azerbaijan. Perang dua negara di Nagorno-Karabakh selama dua pekan terakhir kini sudah menewaskan 600 orang.(AP PHOTO/Aziz Karimov) 

SERAMBINEWS.COM, STEPANAKERT - Sebanyak 600 orang dilaporkan tewas, dalam perang antara Armenia dan Azerbaijan di kawasan Nagorno-Karabakh selama dua pekan terakhir.

Militer Karabakh menerangkan, sebanyak 16 tentara mereka gugur, menjadikan mereka kehilangan 532 sejak baku tembak dimulai pada 27 September.

Azerbaijan sendiri tak menjabarkan berapa jumlah pasukan mereka yang tewas.

Namun, diperkirakan 42 warga sipil dari pihak mereka terbunuh.

Diyakini, korban tewas dalam perang di Nagorno-Karabakh ini jauh lebih banyak, karena dua kubu saling mengklaim merontokkan militer.

Ombudsman HAM di Karabakh, Artak Beglaryan, menyebut ada 31 warga sipil yang tewas pada Senin (12/10/2020), dengan ratusan lainnya terluka.

Dia mengunggah kicauan mengenai serangan terakhir di Katedral Ghazanchetsots di kota Shusha, di mana Armenia menyebut Baku bertanggung jawab.

Beglaryan kemudian menyerukan tindakan Azerbaijan itu adalah kejahatan perang, seraya menggulirkan tagar "#AzerbaijaniAggression" dan "#WarCrimes".

Konflik di Nagorno-Karabakh sudah berlangsung selama 25 tahun, dengan kedua negara saling menyalahkan meski dunia menyerukan agar mereka duduk semeja.

Pekan lalu seperti diwartakan Sky News Selasa (13/10/2020), kedua pihak menandatangani perjanjian gencatan senjata yang diprakarsai Rusia.

Namun, perjanjian tersebut mulai goyah setelah kedua negara pecahan Uni Soviet itu masih saling menyalahkan memulai baku tembak.

Pada Minggu (11/10/2020), Azerbaijan menuding Yerevan sudah melanggar kesepakatan itu dengan membombardir kota mereka dan membunuh sembilan orang.

Kemudian pada Selasa, Baku kembali melancarkan tudingan kepada tetangga Kaukasusnya itu, di mana wilayah mereka kembali diserang.

Adapun pemerintahan Karabakh yang berisi etnis Armenia menerangkan, Baku sudah berencana menggelar serangan skala besar di garis depan.

Baik Rusia dan Uni Eropa kini menyerukan agar kedua negara menghentikan perang, dan duduk bersama untuk membahas perjanjian damai.

Baca juga: VIDEO - PEMAKAMAN KORBAN Serangan Rudal Armenia di Kota Ganja, Penuh Isak Tangis dan Iringan Doa

Baca juga: VIDEO - Pejabat dan Warga Berikan Penghormatan kepada Korban Tewas Atas Serangan Militer Armenia

Kisah Lansia Korban Perang Azerbaijan-Armenia

Perseteruan Azerbaijan dan Armenia kembali panas setelah sejak pecah pertempuran pada 27 September di Nagorno-Karabakh.

Korban pertempuran tak hanya terdiri atas militer dari kedua belah pihak.

Warga sipil pun turut menjadi korbannya.

Salah satu warga yang paling parah terkena dampak perang adalah Kota Terter, bagian utara zona konflik, yang termasuk ke dalam wilayah Azerbaijan.

Banyak di antara warga kota tersebut mengungsi, namun banyak juga yang memilih tetap tinggal dan bersembunyi di dalam bungker bawah tanah.

Salah satu warga yang memilih untuk bersembunyi di bawah tanah adalah Tatyana Pashayeva (56) sebagaimana dilansir dari AFP, Selasa (13/10/2020).

Bersama dengan lebih dari 20 pria dan wanita, yang kebanyakan lanjut usia ( lansia), Pashayeva tinggal di dalam bungker tersebut sejak konflik meletus.

"Saya sangat, sangat ketakutan. Tidak ada yang memperingatkan kami bahwa perang akan segera dimulai," bisik pria tersebut.

Di wilayah tersebut, tim AFP melihat beberapa peluncur roket Azerbaijan melesat dan kemudian menembakkan salvo cepat ke pegunungan Nagorno-Karabakh.

Berulang kali rentetan peluru dan amunisi lainnya menghujani kota yang sepi dan rusak parah beberapa saat kemudian.

"Orang-orang Armenia terus-menerus menembaki kami. Mereka sekarang menembaki kita dengan senjata yang berbeda: dengan rudal, bom, tank, peluncur roket.

Mereka menggunakan semuanya," kata seorang pensiunan bernama Akif Aslanov.

Bersembunyi

Serangan terhadap Kota Terter mirip dengan yang dilakukan pasukan Azerbaijan di ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, dan kota-kota tempat tinggal etnis Armenia lainnya di kawasan itu.

Ada banyak orang di kota tersebut yang memilih untuk tidak melarikan diri.

Padahal duel artileri dari kedua belah pihak terus berdentuman.

Mau tidak mau, mereka harus bersembunyi di bungker bawah tanah untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Ruang bawah tanah di Terter sederhana: lantai kerikil dan dinding yang mengelupas diterangi dengan remang-remang cahaya lampu.

Beberapa keluarga memiliki radio bertenaga baterai yang mereka gunakan untuk mencari tahu perkembangan terkini ihwal pertempuran yang berkecamuk di atas kepala mereka.

 Mereka juga mendaftar untuk mendapatkan jatah makanan pokok yang didistribusikan oleh layanan darurat Azerbaijan selama jeda penembakan berkala.

"Apa lagi yang bisa Anda lakukan? Kami tidak punya pilihan," kata pensiunan lain bernama Roza Aliyeva dari ranjang sudutnya.

Pria lansia berusa 85 tahun itu menderita banyak luka ketika dia jatuh saat berjuang untuk sampai ke ruang bawah tanah selama serangan pertama.

"Kami lari, kami jatuh, kami berdiri lagi, kami terluka, dan sekarang kami di sini, bersembunyi," katanya.

 "Aku Tidak Akan Pergi"

Kedua belah pihak secara teknis telah menandatangani gencatan senjata kemanusiaan di Moskwa, Rusia, pada Sabtu (10/10/2020) yang dimaksudkan untuk memberi kesempatan kedua belah pihak membuka pembicaraan lagi.

Tetapi orang-orang Azerbaijan yang berlindung di ruang bawah tanah di Koya Terter mengatakan mereka tidak dapat tidur selama lebih dari dua pekan karena pertempuran tidak pernah berhenti. "Secara umum, kami tidak bisa tidur," kata Azer Mammadov, seorang veteran pertempuran masa lalu di Karabakh.

"Saat mereka berhenti menembaki selama satu jam setengah jam, kami bisa memejamkan mata dan tidur siang," sambung dia.

Mammadov adalah salah satu dari beberapa pria yang tinggal di ruang bawah tanah yang ikut bertempur dalam konflik Nagorno-Karabakh pada 1990-an.

Pertempuran tersebut yang menewaskan 30.000 orang.

Di sisi lain, para wanita lansia di kota tersebut juga menyatakan siap menderita demi mengambil kembali tanah yang mereka anggap sebagai rumah leluhur mereka.

Sariya Makharramova mengatakan dia juga tetap tinggal di Kota Terter ketika konflik berkobar pada 2016.

Pensiunan tua itu mengatakan putra dan cucunya ikut berjuang di garis depan dalam konflik ini. Dia menambahkan tidak bisa meninggalkan kota tersebut.

"Saya tidak pergi pada 1992, saya tidak pergi pada April 2016, tidak pergi juga sekarang - saya tidak akan pernah pergi," tegas Makharramova.

Baca juga: Ribuan Guru di Pidie Jaya Jalani Test UKG, Ini Harapan Bupati Aiyub Abbas

Baca juga: Kiprah Mahasiswa Asal Papua, Menjalin Persaudaraan di Lhokseumawe

Baca juga: Motormu Boros BBM? Mungkin Ini 5 Penyebabnya: Periksa Angin Ban

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Korban Tewas Perang Armenia-Azerbaijan di Nagorno-Karabakh Capai 600 Orang",

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved