Rabu, 15 April 2026

Internasional

Turki Akhirnya Mengecam Pemenggalan Kepala Guru Sejarah Prancis

Pemerintah Turki akhirnya juga mengecam pemenggalan kepala guru sejarah Prancis Samuel Paty setelah Prancis menyatakan kekecewaannya atas kurangnya ke

Editor: M Nur Pakar
AP
Samuel Paty, Guru Prancis Yang Dipenggal Kepalanya, seusai memperlihatkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya. 

SERAMBINEWS,COM, ANKARA - Pemerintah Turki akhirnya juga mengecam pemenggalan kepala guru sejarah Prancis Samuel Paty setelah Prancis menyatakan kekecewaannya atas kurangnya kecaman resmi dari Ankara.

"Kami mengutuk keras pembunuhan keji Samuel Paty di Prancis dan kami menolak kebiadaban ini," kata juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin di Twitter.

"Tidak ada yang sah tentang pembunuhan ini," tambahnya, lansit AP, Senin (26/10/2020).

Paty diserang di jalan pada 26 Oktober 2020 dan dibunuh karena mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya dalam kelas tentang kebebasan berbicara.

Baca juga: Uni Eropa Dukung Presiden Prancis, Kutuk Presiden Turki, Terkait Penerbitan Kartun Nabi Muhammad

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah membuat marah negara-negara mayoritas Muslim termasuk Turki yang secara resmi sekuler, dengan sikap keras terhadap Islam radikal yang mulai muncul sebelum pembunuhan Paty.

Setelah Erdogan berulang kali meminta Macron untuk menjalani pemeriksaan kesehatan mental, Paris menanggapi dengan memanggil duta besarnya untuk Ankara.

Pada Minggu (25/10/2020), Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menyatakan kekecewaannya karena Turki tidak mengeluarkan kecaman atas pembunuhan guru tersebut.

Baca juga: Liga Muslim Dunia Kutuk Penghinaan Terhadap Agama, Terkait Pernyataan Presiden Prancis

Kalin juga membela amarah umat Islam atas karikatur Nabi Muhammad dengan mengatakan:

"Beberapa mungkin tidak mengerti bagaimana kita mencintai Nabi kita lebih dari diri kita sendiri."

"Mereka mungkin tidak mengerti bagaimana kita melihat penghinaan kepadanya juga sebagai penghinaan bagi kita."

"Mereka mungkin menyebut kasih sayang kita fanatisme."

"Itu adalah kemalangan bagi mereka," kata Kalin.

"Kami akan menjelaskan hal ini kepada mereka secara terus menerus dan dengan cara terbaik," tambahnya.

Baca juga: Prancis Tarik Dubes Dari Turki, Erdogan Sebut Emmanuel Macron Butuh Pemeriksaan Kesehatan Mental

Menyusul pernyataan Le Drian pada Minggu (25/10/202), kementerian luar negeri Turki mengatakan negara itu sedih dengan pembunuhan Paty.

Sebuah pesan yang disampaikan kepada otoritas Prancis oleh duta besarnya untuk Paris.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved