Kamis, 23 April 2026

Berita Luar Negeri

Umat Islam di Timur Tengah Bersatu, Seruan Boikot Produk Prancis Meluas

Perancis mendesak negara-negara Timur Tengah untuk megakhiri seruan boikot mereka terhadap barang-barang produksi Perancis

Editor: Muhammad Hadi
(BORIS HORVAT / AFP )
Presiden Prancis Emmanuel Macron. 

SERAMBINEWS.COM - Prancis mulai resah atas meluasnya seruan untuk memboikot produk dari negara tersebut yang dinilai telah menghina Nabi Muhammad SAW lewat penayangan kartu.

Umat Islam di Timur Tengah bersatu memboikot produk Prancis.

Hal ini membuat Prancis meminta agar boikot terhadap produknya diakhiri.

Perancis mendesak negara-negara Timur Tengah untuk megakhiri seruan boikot mereka terhadap barang-barang produksi Perancis.

Boikot ini sebagai bentuk protes terhadap pembelaan Presiden Emmanuel Macron untuk menayangkan kartun Nabi Muhammad.

Baca juga: VIRAL Lagi Mengemudi Mobil, Kawan Disamping Malah Tidur, Tiba-tiba Dibangunkan di Depan Mobil Derek

Kementerian luar negeri Perancis mengatakan bahwa sedang terjadi seruan "tak berdasar" untuk memboikot barang-barang Perancis yang "didorong oleh minoritas radikal".

Melansir BBC pada Senin (26/10/2020), produk Perancis telah dihapus dari beberapa toko di Kuwait, Yordania, dan Qatar.

Sementara, protes terhadap pernyataan Macron yang menyiggung Muslim telah terlihat di Libya, Suriah, dan Jalur Gaza.

Reaksi dari beberapa negara Timur Tengah tersebut berasal dari komentar yang dibuat oleh Macron setelah terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang guru Perancis yang mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas.

Baca juga: Anak Jatuh dari Lantai 15, Saat Ibu Pergi Sebentar untuk Belanja, Istri Bingung Saat Ditelpon Suami

Presiden mengatakan Samuel Paty, "dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kami", tetapi Perancis "tidak akan melepaskan kartun kami".

Penggambaran Nabi Muhammad dapat dianggap pelanggaran serius bagi umat Islam, karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad dan Allah (Tuhan).

Namun, sekularisme negara atau laïcité, dianggap sebagai pusat identitas nasional bagi Perancis.

Sehingga, membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu, kata negara, merusak persatuan.

Pada Minggu (25/10/2020), Macron menggandakan pembelaannya terhadap nilai-nilai Perancis dalam sebuah tweet yang berbunyi,

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved