Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Hama Burung Pipit Mengganas di Abdya

HAMA burung pipit dalam jumlah besar menyerang ratusan hektare tanaman padi milik petani yang kini mulai berisi

Tayang:
Editor: hasyim
FOTO: SERAMBINEWS/ZAINUN YUSUF
Petani di areal persawahan Cot Seutui Desa Keude Siblah, Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya), harus menjaga tanaman padi yang mulai berisi. Penjagaan dilakukan dari pagi hingga menjelang malam untuk mencegah serangan hama burung pipit yang mengganas. Foto direkam Minggu (15/11/2020). 

* Akibat Tanam Padi tak Serentak

Petani di sejumlah desa di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terpaksa harus menjaga sawahnya seharian untuk menjaga serangan hama burung pipit. Serangan hama tersebut kali ini cukup ganas. Imbas dari musim tanam yang tidak dilakukan secara serentak.

HAMA burung pipit dalam jumlah besar menyerang ratusan hektare tanaman padi milik petani yang kini mulai berisi. Petani pun terpaksa harus berjaga dari pagi hingga menjelang malam untuk menghalau kawanan burung tersebut.

Ratusan hektere padi itu merupakan program Indek Pertanaman 300 (IP 300) dari Dinas Pertanian Aceh tahun 2020. Seluas 148 hektare dikembangkan di areal Blang Cot Seutui, Gampong Keude Siblah dan Kuta Bahagia Kecamatan Blangpidie, dan 115 hektare di Blang Beuah, Gampong Pawoh dan Pantee Perak, Kecamatan Susoh.

Padi-padi itu ditanam pada awal September lalu. Masalahnya, meski musim tanam gadu ditetapkan Pemerintah sejak awal September, tetapi penanaman padi IP 300 itu lebih cepat dari sawah-sawah lainnya. Saat ini saja, sawah-sawah sekitar baru selesai tanam dan ada yang masih dalam proses penanaman.

Penanaman yang tidak serentak inilah yang kemudian menyebabkan mengganasnya serangan hama burung pipit. Para petani harus ekstra ketat menjaga areal persawahannya secara silih berganti, melibatkan seluruh anggota keluarga, tidak terkecuali ibu rumah tangga.

“Jika tidak dijaga, dipastikan hasil panen akan berkurang drastis akibat dimangsa burung,” kata petani Gampong Keude Siblah, Blangpidie, Suib, kepada Serambi, Minggu (15/11/2020).

Menurut Suib, serangan hama burung pipit kali ini lain dari biasanya. Selain lebih banyak, serangannya juga lebih ganas. “Ketika dihalau, burung pindah ke lokasi yang tidak terlalu jauh. Kalaupun terbang jauh, tidak lama kemudian sudah kembali lagi,” imbuhnya.

Selain harus dijaga, beragam cara lainnya juga dilakukan oleh petani. Sebagian besar memasang potongan plastik warna perak dan hitam yang diikat pada bentangan tali di hamparan sawah. Beberapa petani lainnya yang memiliki kelebihan dana ada yang memasang jaring.

“Kalau tidak benar-benar kita jaga, hasil panen kali ini bisa menurun drastis dan bahkan bisa gagal,” pungkas petani lainnya di Blang Beuah, Gampong Pawoh, Susoh.

Burung pipit menyerang  dan memakan bulir padi muda atau pada saat usia tanaman padi berkisar 70-80 hari. Burung ini melakukan serangan secara bergerombol, dengan waktu serangan bisa dari pagi sampai sore hari. Jika tidak dikendalikan, serangan burung akan membuat produksi padi berkurang 30-50 persen.(zainun yusuf)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved