Breaking News
Rabu, 3 Juni 2026

Internasional

AS Ribut di Dalam Negeri, Rusia Perkuat Armada Militer, Dari Samudra Hindia Hingga Afrika

Pemerintah Rusia memanfaatkan keributan yang terjadi di dalam negeri Amerika Serikat (AS) seusai pemilu 3 November 2020.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
Reuters
Sebuah kapal perang Rusia berlayar melewati Jembatan Dvortsoviy di atas Sungai Neva selama parade Hari Angkatan Laut di Saint Petersburg, Rusia. 

SERAMBINEWS.COM, MOSKOW - Pemerintah Rusia memanfaatkan keributan yang terjadi di dalam negeri Amerika Serikat (AS) seusai pemilu 3 November 2020.

Kerusuhan di AS yang dipicu penolakan Presiden AS Donald Trump mengakui kemenangan Joe Biden terus berlanjut.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pada Senin (16/11/2020) menyetujui pembangunan fasilitas Angkatan Laut Rusia di Sudan yang mampu menambatkan kapal bertenaga nuklir.

Hal itu akan membuka jalan bagi pijakan militer substansial pertama Moskow di Afrika sejak jatuhnya Uni Soviet, seperti dilansir Reuters.

Fasilitas baru, yang direncanakan dibangun di sekitar Port Sudan, akan mampu menampung hingga 300 personel militer dan sipil.

Baca juga: VIDEO - Pasukan Rusia Tempati POS PENGAMATAN di Nagorno-Karabakh

Sehingga akan meningkatkan kemampuan Rusia untuk beroperasi di Samudra Hindia dan memperluas pengaruhnya di Afrika.

Putin memimpin KTT Rusia-Afrika tahun lalu, sebuah acara yang dirancang untuk meningkatkan pengaruh Rusia di benua itu.

Dua pembom Rusia berkemampuan nuklir mendarat di Afrika Selatan pada saat yang sama untuk menunjukkan niatnya.

Putin, dalam sebuah keputusan mengatakan telah menyetujui proposal pemerintah Rusia untuk mendirikan pusat logistik Angkatan Laut di Sudan.

Putin langsung memerintahkan Kementerian Pertahanan untuk menandatangani perjanjian untuk mewujudkannya.

Sebuah draf dokumen yang terkait dengan masalah yang dipublikasikan awal bulan ini oleh pemerintah berbicara tentang fasilitas yang dapat menambatkan tidak lebih dari empat kapal pada saat yang bersamaan.

Baca juga: Cara Rusia Perkuat Pengaruh di Afrika, Bangun Fasilitas Angkatan Laut Baru di Sudan

Pangkalan itu akan digunakan untuk perbaikan dan pasokan operasi dan sebagai tempat di mana personel Angkatan Laut Rusia dapat beristirahat, katanya.

Tanah untuk pangkalan akan disediakan secara gratis oleh Sudan.

Moskow akan mendapatkan hak untuk membawa senjata, amunisi, dan peralatan lain yang dibutuhkan melalui bandara dan pelabuhan Sudan untuk mendukung fasilitas baru tersebut.

Rusia memiliki fasilitas serupa di pelabuhan Tartus di Suriah, negara tempat ia juga mengoperasikan pangkalan udara.

Moskow ingin meningkatkan pengaruhnya di Afrika, sebuah benua dengan 54 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Apalagi kaya dengan mineral dan pasar yang berpotensi menguntungkan untuk senjata-senjata buatan Rusia.

Rusia ingin memperebutkan pengaruh dan pijakan militer di Afrika dengan negara lain, termasuk China.

Djibouti adalah rumah bagi pangkalan angkatan laut China, AS dan Prancis, sementara angkatan laut lainnya sering menggunakan pelabuhan itu.

Baca juga: Spionase Digital - Peretas Korut dan Rusia Berusaha Curi Rahasia Vaksin Corona Lewat Serangan Siber

Kantor berita TASS yang dikendalikan negara telah memperkirakan bahwa fasilitas baru tersebut akan memudahkan Angkatan Laut Rusia untuk beroperasi di Samudera Hindia.

Sehingga, akan dapat menerbangkan awak pengganti untuk kapal jarak jauhnya.

Ia juga memperkirakan Rusia akan memperkuat pos terdepan Afrika barunya dengan sistem rudal permukaan-ke-udara yang canggih.

Sehingga memungkinkann untuk membuat zona larangan terbang sejauh bermil-mil.

"Pangkalan kami di Sudan akan menjadi argumen lain bagi orang lain untuk mendengarkan kami dan memperhatikan," kata sebuah opini di TASS tentang fasilitas baru itu.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved