Senin, 4 Mei 2026

Sejarah 41 Tahun Lalu, Pengepungan Masjidil Haram yang Mengubah Sejarah Arab Saudi

Pendudukan masjid suci itu dan upaya pembebasannya menyebabkan ratusan orang tewas, sedangkan lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka

Tayang:
Editor: bakri

Pendudukan masjid suci itu dan upaya pembebasannya menyebabkan ratusan orang tewas, sedangkan lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka. Sebagian besar bagian masjid rusak parah, tapi Ka’bah sama sekali tak tersentuh oleh pertempuran hebat tersebut.

20 November 1979 atau 41 tahun lalu, di Arab Saudi pernah terjadi peristiwa paling dramatis, tepatnya di Masjidil Haram, Kota Mekkah. Pagi itu, puluhan ribu jamaah dari seluruh pelosok dunia berkumpul di Masjidil Haram menanti shalat Subuh. Masjid suci itu dibangun di sekeliling Ka’bah yang dianggap sebagai Baitullah alias "Rumah Allah" dan menjadi arah bagi seluruh umat Islam dalam menunaikan ibadah shalat di mana pun mereka berada.

Mereka semua pun melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Ketika shalat selesai, sekitar 200 jamaah mengenakan jubah putih mengeluarkan senapan otomatis yang mereka selundupkan. Sebagian jamaah bersenjata tersebut mengambil posisi di sekitar imam yang memimpin shalat dan mengambil alih mikrofon. Melalui pengeras suara, mereka pun menyampaikan pernyataan yang mengejutkan.

Dilansir dari BBC Indonesia, mereka berkata, "Kami menyampaikan hari ini kedatangan Mahdi, yang akan membawa keadilan dan kebenaran di bumi, yang sudah penuh dengan ketidakadilan dan penindasan." Berdasarkan naskah-naskah Islam, Mahdi adalah "penebus Islam" yang akan membersihkan dunia dari kejahatan dan memerintah pada hari-hari menjelang akhir dunia.

Bagi kelompok pimpinan Juhayman Al Otaybi yang menduduki Masjidil Haram itu, aksi mereka adalah awal dari hari kiamat. Salah satu jamaah yang mengikuti shalat pada Subuh yang nahas itu adalah seorang mahasiswa yang baru saja menuntaskan ibadah hajinya.

"Kami sangat kaget karena begitu shalat selesai, beberapa orang mengambil alih mikrofon dan menyampaikan pengumuman di Masjidil Haram. Mereka mengatakan bahwa Mahdi sudah datang," "Orang-orang bergembira karena sang penyelamat sudah datang. Orang-orang senang dan memekikkan takbir," kenangnya.

Jamaah bersenjata yang menduduki Masjidil Haram itu adalah kelompok ultra-konservatif Muslim Sunni yang dipimpin ulama muda dari suku Arab Badui bernama Juhayman Al Otaybi. Lewat pengeras-pengeras suara di Masjidil Haram, mereka menyatakan bahwa Imam Mahdi ada di sana, ada di antara mereka.

Seorang pria kemudian muncul ke depan, Mohammed Abdullah Al Qahtani, yang merupakan ipar Al Otaybi. Dia menyatakan dirinya sebagai Mahdi, sang penyelamat. "Kemudian Juhayman datang dan menyatakan kesetiaan kepada Imam Mahdi. Dia meyakinkan orang-orang sehingga mereka menyatakan kesetiaan kepada Mahdi," kenang mahasiswa muda tadi.

Seorang mahasiswa lain, Abdulmanan Sultan, yang menyelinap ke dalam masjid pun memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. "Orang-orang sangat terkejut melihat senjata di Masjidil Haram. Ini hal yang tidak biasa bagi mereka. Tidak diragukan lagi hal itu membuat mereka takut. Sesuatu yang amat tidak patut," tutur Abdulmanan.

Juhayman Al Otaybi memerintahkan para pria bersenjata pengikutnya untuk menutup Masjidil Haram dan menempatkan penembak jitu di menara masjid, siap berperang melawan musuh-musuh Mahdi. Bagi mereka, Pemerintah Arab Saudi dianggap tidak bermoral, korup, dan berorientasi pada Barat.

Ketika polisi mendekati masjid untuk mencari tahu yang terjadi di dalam, mereka melepas tembakan dan korban jiwa pun berjatuhan. Mark Hambley, yang saat itu merupakan pejabat bidang politik di Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Arab Saudi, mengingat bahwa pihak berwenang Arab Saudi menerapkan kebijakan "black out" berita atau melarang berita tentang peristiwa tersebut.

Tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya yang menduduki Masjidil Haram dan apa pula alasannya. Namun, dia bisa mendapat informasi dari seorang pilot helikopter Amerika Serikat yang terbang di atas Mekkah bersama aparat keamanan setempat. "Yang pertama merupakan upaya yang naif tapi berani dari sejumlah besar pasukan pengawal nasional dan polisi yang berada di sekitarnya. Dan banyak yang mati ditembak," kenang Hambley.

Pemerintah Arab Saudi mengerahkan ribuan tentara dan pasukan khusus ke Mekkah untuk mengambil alih Masjidil Haram. Mereka membawa kendaraan lapis baja dan pesawat tempur juga dikerahkan. Keluarga raja meminta persetujuan para pemuka agama untuk menggunakan kekerasan atau kekuatan bersenjata di dalam masjid.

Dalam beberapa hari berikutnya pertempuran meningkat dengan pasukan pemerintah yang melancarkan serangan demi serangan. Sebagian masjid rusak dan jumlah korban mencapai ratusan jiwa. Abdulmanan Sultan yang menjadi saksi mata dan sempat menyelinap ke dalam masjid mengatakan kepada BBC bahwa tembakan dan ledakan terdengar hampir setiap jam hingga Subuh.

"Saya melihat artileri ditembakkan langsung ke arah menara masjid. Dan saya juga melihat helikopter berseliweran di atas tak henti-hentinya," tutur Abdulmanan Sultan yang kemudian bersembunyi di balik Ka’bah. Setelah pertempuran selama beberapa hari, pasukan khusus Arab Saudi akhirnya berhasil memasuki kompleks masjid dan menguasai teras lantai satu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved