Senin, 4 Mei 2026

Dijanjikan Uang Banyak, Pelajar SMP Malah Jadi Korban Prostitusi Online

Mereka dijadikan ‘barang dagangan’ oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sayangnya, hingga saat ini orang tua pelajar yang terlibat prostitusi

Tayang:
Editor: bakri
Serambi Indonesia
Para peserta rembuk pendidikan dalam menghadapi pandemi dan bencana sosial dari berbagai instansi terkait menyusun draf untuk diajukan kepada bupati guna dijadikan acuan dalam pembuatan regulasi untuk sekolah, Rabu (25/11/2020), di Kantor MPD Aceh Barat di Meulaboh. 

* Ketua MPD Aceh Barat Ungkap Fakta Mengejutkan

Kondisi itu menjadi berita miris bagi dunia pendidikan, lantaran pelaku asusila itu adalah pelajar. Mereka dijadikan ‘barang dagangan’ oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sayangnya, hingga saat ini orang tua pelajar yang terlibat prostitusi online dan pihak sekolah mereka belum berani melaporkan kasus tersebut ke polisi. Sehingga hal itu belum terungkap ke publik.

Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Barat, 24-26 November 2020, mengadakan Rembuk Pendidikan di kantor lembaga tersebut kawasan Meulaboh. Kegiatan yang mengusung tema ‘Siaga Pandemi dan Bencana Sosial’ diikuti peserta dari berbagai instansi terkait. Pada kesempatan itu, Ketua MPD Aceh Barat, Irsyadi Aristora, mengungkapkan satu fakta mengejutkan. Fakta dimaksud adalah meski kabupaten itu berstatus sebagai daerah syariat, ternyata ada pelajar SMP di Meulaboh yang terlibat dalam praktik prostitusi online.

Kondisi itu menjadi berita miris bagi dunia pendidikan, lantaran pelaku asusila itu adalah pelajar. Mereka dijadikan ‘barang dagangan’ oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sayangnya, hingga saat ini orang tua pelajar yang terlibat prostitusi online dan pihak sekolah mereka belum berani melaporkan kasus tersebut ke polisi. Sehingga hal itu belum terungkap ke publik.

Menyangkut masalah tersebut, MPD Aceh Barat sedang merumuskan acuan draf untuk dijadikan regulasi yang diterapkan di sekolah-sekolah. "Kita sudah tiga hari melaksanakan Rembuk Pendidikan menyangkut siaga pandemi dan bencana sosial yang melibatkan perwakilan dari sejumlah instansi terkait," ungkap Irsyadi Aristorakepada Serambi, di sela-sela kegiatan tersebut, Rabu (25/11/2020).

Ia berharap Rembuk itu bisa menghasilkan draf untuk dijadikan acuan dalam membuat regulasi daerah menyangkut pendidikan di wilayah itu. "Salah satu poin dalam draf itu adalah, siswa nantinya dilarang membawa handphone (Hp) ke sekolah. Draf ini akan kita ajukan ke bupati untuk dibuat aturan di sekolah guna menyelamatkan siswa dari dekadensi moral," jelasnya.

Ia membeberkan, bencana sosial yang terjadi saat ini adalah adanya pelajar SMP yang menjadi korban prostitusi online. Kondisi ini sangat miris karena pelajar terjerumus dalam dunia gelap yang bisa merusak masa depan mereka. Terungkapnya kasus pelajar terlibat dalam prostitusi online, ungkap Ketua MPD, berawal dari video dan foto mereka yang ditampilkan pada salah satu grup media sosial.

Grup tersebut khusus beranggotakan mereka yang menjalani praktek prostitusi tersebut. Hanya mereka saja yang bisa melihat dan menawarkan pelajar SMP kepada pria hidung belang. Jika ada yang menginginkan, pelajar tersebut bisa ‘dipakai.’ "Fakta itu sangat memiriskan kita semua. Sebab, walau masih duduk di bangku SMP, merela sudah terjerumus dalam kenakalan remaja yang bisa merusak masa depan mereka sendiri," ungkap Irsyadi.

Menurut Irsyadi, pihaknya sudah menyarankan kepada orang tua dan sekolah untuk melaporkan masalah tersebut ke polisian. Namun, hingga saat ini belum ada yang berani membuat pengaduan.

Disebutkan, pihaknya mengetahui kasus tersebut pada November 2020 saat ada beberapa pelajar yang dimanfaatkan oleh seseorang untuk terlibat dalam kasus prostitusi online.

Irsyadi menceritakan, berdasarkan temuan dan keterangan yang diperoleh pihaknya dari pelajar tersebut, awalnya mereka punya satu grup di media sosial. Pada tahap awal, mereka diminta untuk telanjang, dan yang berani bugil paling lama di grup media sosial tersebut akan diberikan uang dalam jumlah yang lebih banyak. Lalu, foto dan video mereka direkam oleh pengelola grup tersebut. Yang bisa melihat foto dan video tersebut khusus mereka yang bergabung dalam grup itu.

Setelah itu, pelajar pun diajak berhubungan badan dan bagi yang menolaknya diancam video telanjang mereka akan dikirimkan kepada orang tua dan sekolahnya. Karena takut, mereka akhirnya menuruti hasrat pria hidung belang untuk melakukan hubungan layaknya suami istri. Karena sudah terbiasa melakukan perbuatan terlarang itu, mereka akhirnya menjadi ketagihan.

Terkait persoalan itu, Irsyadi berharap kepada semua orang tua dan sekolah untuk benar-benar mengawasi anaknya masing-masing agar menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. (c45)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved