Jumat, 8 Mei 2026

Internasional

Sadiq al-Mahdi, Mantan Perdana Menteri Sudan Meninggal Dunia, Terserang Virus Corona

Sadiq al-Mahdi, mantan Perdana Menteri Sudan yang terpilih secara demokratis dan pemimpin partai politik terbesar di negara itu, meninggal dunia

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/File
Sadiq al-Mahdi, Mantan Perdana Menteri Sudan tutup usia. 

SERAMBINEWS.COM, KHARTOUM - Sadiq al-Mahdi, mantan Perdana Menteri Sudan yang terpilih secara demokratis dan pemimpin partai politik terbesar di negara itu, meninggal dunia karena terserang Covid -19.

Dia menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di Uni Emirat Arab dalam usia 84 tahun pada Kamis (26/11/2020).

Al-Mahdi dibawa ke Abu Dhabi untuk perawatan pada awal November 2020.

Jenazahnya diharapkan tiba di Sudan untuk dimakamkan pada Jumat (27/11/2020) pagi, Partai Umat Nasional tweeted.

Sebelumnya telah diumumkan al-Mahdi dinyatakan positif mengidap virus Corona pada 29 Oktober 2020.

Baca juga: Kisah Pengungsi Ethiopia di Sudan, Lari Dari Bawah Tembakan, Gurun Tandus, Sampai Melahirkan

Al-Mahdi digulingkan dalam kudeta yang didukung Islam pada 1989 yang membawa otokrat lama Omar al-Bashir ke tampuk kekuasaan.

Partai Al-Mahdi bersekutu dengan pemberontakan pro-demokrasi Sudan yang menyebabkan militer menggulingkan al-Bashir pada April 2019.

Sudan sejak itu diperintah oleh pemerintahan sipil-militer transisi.

Pemilu kemungkinan bisa digelar pada akhir 2022.

Al-Mahdi adalah salah satu penentang paling gigih dari normalisasi hubungan Sudan baru-baru ini dengan Israel, yang dia anggap sebagai negara apartheid atas perlakuannya terhadap Palestina.

Dia juga menuduh Presiden Donald Trump rasis terhadap Muslim dan orang kulit hitam.

Baca juga: PBB Persiapkan Kemungkinan 200.000 Pengungsi Ethiopia di Sudan, 32.000 Orang Telah Lari dari Tigray

Al-Mahdi lahir pada bulan Desember 1935 di kota kembar Khartoum, Omdurman.

Dia adalah cicit dari Mohammad Ahmad al-Mahdi, seorang pemimpin agama yang gerakannya berhasil berperang melawan pemerintahan Mesir-Ottoman di Sudan pada paruh kedua abad ke-19.

Ia belajar filsafat, politik dan ekonomi di Universitas Oxford.

Dia adalah seorang politikus dan teolog dan menulis beberapa buku tentang hukum Islam, demokrasi dan politik Sudan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved