Pembangunan Bendungan Rukoh Dikebut

Pembangunan Bendungan Rukoh di Kecamatan Titeu, Pidie, terus dikebut. Sebab, bendungan yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 3 triliun

Editor: bakri
Serambi Indonesia
Terowongan air di Bendungan Rukoh, Kecamatan Titeu, Pidie, Minggu (13/12/2020). 

SIGLI - Pembangunan Bendungan Rukoh di Kecamatan Titeu, Pidie, terus dikebut. Sebab, bendungan yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 3 triliun ini harus rampung pada tahun 2022 mendatang. Bendungan di areal seluas 122 hektare dengan kapasitas air 128 juta meter kubik per detik yang masuk dalam daftar Proyek Srategis Nasional (PSN) ini dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera I Ditjen Sumber Daya Air.

Kadis PUPR Pidie, Samsul Bahri, kepada Serambi, Minggu (13/12/2020) mengatakan, beberapa waktu lalu, Direktur Kompetensi dan Produktivitas Konstruksi Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Ir Nanang Handono Prasetyo MT, dan Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Djaya Sukarno, sudah meninjau proyek tersebut. Tujuannya, sebut Samsul, untuk melihat perkembangan pembangunan proyek bendungan terbesar kedua di Aceh.

Bendungan tersebut, menurutnya, memiliki dua terowongan bawah tanah yang masing-masing panjangnya 335 dan 520 meter. "Kehadiran bendungan itu nantinya akan mendukung peningkatan ketahanan pangan (pertanian) dan pemenuhan kebutuhan air bagi petani di Pidie," jelas Samsul di sela-sela pelatihan kompetensi langsung kerja bidang perakit panel sruktur di Dinas PUPR Pidie, Minggu (13/12/2020).

Menurut keterangan Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Djaya Sukarno, tambah Samsul Bahri, Bendungan Rukoh akan mampu menyuplai air ke lahan pertanian seluas 11.950 hektare. Dengan adanya bendungan itu, kata Samsul lagi, petani di Pidie diharapkan bisa turun ke sawah dua sampai tiga kali dalam setahun.

Untuk penyediaan air, sebutnya, bendungan itu nanti mampu menyediakan air baku 0.90 meter kubik per detik bagi 22.848 jiwa di Kecamatan Titeu, untuk energi listrik 1,22 megawatt, dan untuk pengendali banjir sebanyak 116,83 meter kubik per detik. Saat beroperasi nanti, tambah Samsul, air dari Bendungan Tiro bisa disuplai ke Bendungan Rukoh. Sebab, debit air Bendungan Tiro lebih tinggi dibanding Bendungan Rukoh.

Pada bagian lain, Kadis Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Pidie, Samsul Bahri,  mengatakan, lokasi Bendungan Rukoh di Kecamatan Titeue, Pidie, bisa menjadi tempat wisata. Sebab, dengan luas lahan sekitar 122 hektare, kawasan itu sangat potensial untuk ditata atau dikembangkan menjadi obyek wisata yang menarik bagi wisatawan.

Menurutnya, pengunjung bisa melihat hamparan sawah yang menghijau di Kecamatan Titeu dan Keumala, Pidie, dari ketinggian bukit yang dikelilingi bendungan. Tak hanya itu, tambah Samsul, gugusan pepohonan yang hijau dan sebagiannya mengililingi Bendungan Rukoh juga bisamenjadi wahana  menghilangkan penat bagi pengunjung.

"Saya rasa Bendungan Rukoh akan menjadi distinasi wisata, terutama bagi warga lokal. Tentunya, ini juga menjadi harapan menambah pendapatan asli daerah (PAD) bagi daerah," ujarnya. Selai itu, sebut Samsul, di bendungan itu bisa dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mengingat sumber airnya sangat mendukung. (naz)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved