Petani Garam Mengeluh Gunakan Metode Plastik

Kelompok petani garam di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Senin (14/12/2020), mengeluhkan pengelohan garam sistem geomembral

Editor: bakri
SERAMBI/ MUHAMMAD NAZAR
Petani garam di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie memperlihatkan pengolahan garam, Senin (14/12/2020). 

SIGLI - Kelompok petani garam di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Senin (14/12/2020), mengeluhkan pengelohan garam sistem geomembral. Pasalnya, petani tidak bisa melakukan pengelolahan sistem jemur pasir sebagai bahan baku garam memakai plastik.

Tgk Fauzi Usman (60) didampingi Ibrahim Mahmud (58) sebagai petani garam di Gampong Cebrek kepada Serambi, Senin (14/12/2020), mengatakan, pengolahan garam menggunakan plastik dengan sistem jemur tidak bisa diolah petani di lancang garam Kecamatan Simpang Tiga. Sebab, garam diproduksi sistem jemur itu hasilnya tidak maksimal seperti yang dimasak secara tradisional.

Menurutnya, pengolahan garam menggunakan plastik diadopsi pengolahan garam petani di Madura, Jawa Timur. Sebab, petani di Madura menggunakan seratus persen air laut. "Kalau kita kan menggunakan bahan baku pasir yang kemudian kita jemur. Produksi garam menggunakan plastik pernah dipanen, tapi hasil garam meleleh. Sehingga, garam itu tidak bisa kita pasarkan," jelasnya.

Menurut Tgk Fauzi, saat ini pengolahan garam geomembral tidak bisa digunakan petani, mengingat curah hujan tinggi, sehingga pengelohan garam dilakukan dengan cara memasak. Dikatakan, bantuan peralatan sistem pengelohan garam menggunakan plastik merupakan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh. Di mana dinas tersebut sudah memberikan bantuan dalam bentuk barang pada tahun 2019.

"Kita tidak bisa menggunakan pengolahan garam memakai plastik. Sehingga, kita menelantarkannya di lahan sekitar 1 hektare tersebut. Ke depan, pemerintah seharusnya membantu pembangunan lancang garam dengam membelikan perlengkapan untuk pengelohan garam secara tradisional," jelasnya.

Menurutnya, lancang garam di Pidie dengan jumlah petani garam 167 petani beraktivitas mengolah garam secara tradisional. Jumlah petani garam di Pidie merupakan angka terbesar di Aceh. Produksi garam petani Pidie dijual ke Langsa, Aceh Timur, Lhokseumawe, Banda Aceh, Aceh Barat, dan Aceh Selatan. Untuk itu, Pemkab harus memperhatikan nasib petani garam di Pidie.

Kasi Pengelolaan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, Afrizal yang dihubungi Serambi, Senin (14/12/2020), menjelaskan, bantuan peralatan yang diberikan kepada kelompok tani garam di Gampong Cebrek, guna membantu petani dalam pengolahan garam secara teknologi.

Sistem pengolahan garam geomembral adalah kolaborasi pengolahan yang dilakukan petani garam di Madura. "Kita menyayangkan patani di Pidie yang mengolah garam secara tradisional. Kehadiran pemerintah melakukan pendampingan, agar hasil produksi garam lebih baik," jelasnya.

Saat bantuan peralatan diserahkan kepada petani garam, sebut Afrizal, petani sudah menggunakan pengolahan garam sistem geomembral. Bahkan, laporan dari petugas bahwa petani yang dibantu peralatan tersebut sudah memproduksi garam sistem geomembral. Bantuan itu diberikan kepada petani dalam bentuk barang pada tahun 2019. Saat penyerahan peralatan itu melibatkan semua pihak, termasuk PPTK dan tim pemeriksaan. "Kalau sekarang kan musim penghujan, otomatis mempengaruhi produksi garam petani menurun," jelasnya.

Ia menambahkan, pendampingan petani dalam pengolahan garam geomembral sudah dilakukan sejak 2017. Sehingga, sudah banyak petani melakukan pengolahan sistem itu. Untuk 2020, sebutnya, tidak adanya bantuan untuk petani garam di Pidie.(naz)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved