Breaking News:

Anak Imami Shalat Jenazah Abu Sanusi

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tokoh senior Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tgk Sanusi Bin Muhammad atau Abu Sanusi

Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/ SENI HENDRI
Makam almarhum Tgk Sanusi Bin Muhammad atau Abu Sanusi di komplek pemakaman keluarga Dayah Darul Muta'allimin Gampong Kruet Lintang, Peureulak Timur, Aceh Timur, Selasa (29/12/2020). 

IDI - Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tokoh senior Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tgk Sanusi Bin Muhammad atau Abu Sanusi, Selasa (29/12/2020), meninggal dunia. Mantan Panglima GAM wilayah Pereulak ini menghembuskan nafas terakhir dalam usia 71 tahun di kediamannya, Gampong Kruet Lintang, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur.

Kabar duka itu dengan cepat berhembus, terutama di kalangan mantan kombatan GAM serta jajaran pengurus Partai Aceh (PA) dan Partai Nanggroe Aceh (PNA), karena kedua partai ini memang memiliki basis kekuatan yang sama. Terlebih, Abu Sanusi semasa hidupnya juga pernah menjadi pengurus di kedua partai lokal tersebut.

Karena itu, tak heran banyak masyarakat yang datang melayat ke rumah duka. Pantauan Serambi kemarin, prosesi shalat jenazah diikuti oleh ratusan jamaah. Shalat diimami oleh Tgk Munzir, anak pertama Abu Sanusi. Hadir antara lain ulama kharismatik Aceh, Tgk H Abdullah Rasyid (Abu Kruet Lintang pimpinan Dayah Darul Muta'allimin), Tgk Yusuf Kardi, Tgk H Idris (Abu Julok), para pimpinan dayah, dan santri.

Prosesi pemakaman sempat terhenti sejenak karena hujan. Almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga kompleks Dayah Darul Muta'allimin, Kruet Lintang. "Proses pemakaman selesai sekitar pukul 13.00 WIB," ungkap Tgk Ruslan Razali, keponakan almarhum.

Kepastian tentang kabar meninggalnya Abu Sanusi, awalnya diperoleh Serambi dari salah satu cucu almarhum. “Benar almarhum telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa pagi sekitar pukul 07.10 WIB, di kediaman almarhum,” ungkapnya.

Di Banda Aceh, kabar meninggalnya Abu Sanusi dibenarkan oleh Sekjen PNA, Miswar Fuady. Namun dia mengaku tidak tahu pasti tentang penyebab meninggalnya Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Peureulak (2005-2012) ini. "Ada gejala sesak napas, tapi belum tahu pasti juga," kata Miswar.

Menurut penuturan Tgk Ruslan Razali, keponakan almarhum, Abu Sanusi sudah tiga tahun sakit, dengan keluhan penyempitan saraf pinggang dan beberapa penyakit lainnya, seperti jantung koroner dan sejak sebulan terakhir sering mengalami sesak napas. “Sudah tiga tahun terakhir sejak 2017 almarhum mengalami sakit yang menyebabkan beliau harus duduk di kursi roda,” ungkap Tgk Ruslan Razali.

Selama sakit, Abu Sanusi dia katakan, menjalani rawat jalan dan bulan lalu sempat opname di RS Sulthan Abdul Aziz Syah Peureulak, termasuk dirawat RSUZA Banda Aceh.

Untuk diketahui, Abu Sanusi merupakan salah satu tokoh senior GAM. Atas musyawarah dan kepercayaan dari dr Zubir Mahmud (Menteri Sosial dan Gubernur GAM Wilayah Peureulak) dan Abu Kruet Lintang (Abu M Yusuf Ibrahim), almarhum Abu Sanusi direstui oleh Tgk Hasan Tiro memimpin gerilyawan GAM wilayah Peureulak sejak tahun 1976.

“Tahun 1976 beliau mendapatkan kepercayaan dari almarhum dr Zubir Mahmud dan direstui oleh almarhum Tgk Hasan Tiro menjadi pimpinan gerilyawan GAM wilayah Peureulak, hingga beliau menjabat sebagai Panglima GAM wilayah Peureulak hingga MoU Helsinki,” ungkap Ruslan.

Setelah Aceh damai, almarhum Abu Sanusi pernah menjabat sebagai Ketua DPW PA Aceh Timur dan kemudian pindah ke PNA dengan posisi dewan penasehat hingga saat ini.

Abu Sanusi lahir di Gampong Kruet Lintang, Kecamatan Peureulak Timur, tahun 1949. Ayahnya bernama Tgk Muhammad bin Idris dan ibunya Mariah Usman. Almarhum merupakan cucu dari Abu Usman (Tgk Tuha) pendiri pertama Dayah Darul Muta'allimin Kruet Lintang. Almarhum juga keponakan dari almarhum Abu Yusuf bin Ibrahim (Abu Kruet Lintang) salah seorang ulama Aceh era 80-an). Ia dibesarkan di Peureulak dan sempat belajar di Dayah Darul Muta'allimin Kruet Lintang.

Tadi malam yang merupakan malam pertama meninggalnya Abu Sanusi, Bupati dan Wakil Bupati Aceh Timur, H Hasballah Bin HM Thaib SH dan Syahrul bin Syama'un beserta rombongan datang ke rumah duka untuk menggelar takziah. Rombongan dipimpin oleh Tgk H Muhammad Idris (Abu Rih Julok).

Menurut bupati yang akrab disapai Rocky ini, banyak hal yang bisa dikenang dan diambil pelajaran dari seorang sosok Abu Sanusi. “Beliau sosok yang alim, juga adalah seorang pejuang,” ungkapnya.(c49)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved