Kamis, 7 Mei 2026

Destinasi Wisata Aceh Tengah

Bur Telege Kini Punya Tugu, Kios Souvenir dan Panggung Seni

Fasilitas yang baru dibangun itu adalah tugu Bur Telege dengan ornamen kerawang Gayo, dua kios souvenir, jalur pejalan kaki dan panggung seni.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
For Serambinews.com
Tugu Bur Telege, dibangun oleh Bank Indonesia 

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Kawasan wisata di Aceh Tengah,  Bur Telege Takengon, makin keren karena telah dikengkapi berbagai fasilitas pendukung yang nyaman bagi pengunjung.

Fasilitas-fasilitas yang baru dibangun itu adalah tugu Bur Telege dengan ornamen kerawang Gayo, dua kios souvenir, jalur melingkar bagi pejalan kaki, dan panggung seni.

Pengunjung tang datang ke Bur Telege dalam rangka libur akhir tahun menikmati semua fasilitas tersebut, kecuali panggung seni yang masih dalam pengerjaan.

Misriadi, Reje Kampung Hakim Bale Bujang (HBB) yang mengelola kawasan wisata tersebut mengatakan, untuk tugu dibangun oleh Bank Indonesia, panggung seni dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

Tiga buah penginapan juga sedang dalam pengerjaan dengan bentuk bangunan kerucut. 

Selama pandemi Covid-19 kawasan wisata Bur Telege ikut ditutup dan baru dioperasionalkan kembali menjelang  pergantian tahun dengan penerapan protokol kesehatan.

Pengelola juga menanam kopi arabika di puncak Bur Telege dan beberapa tanaman bunga seperti dahlia dan bunga matahari. Tanaman lain adalah markisah dan alpokat yang kelak akan disajikan kepada pengunjung.

Puncak Bur Telege berada di ketinggian 1.360 meter di atas permukaan laut. Di tempat itu terdapat grafiti raksasa bertuliskan “Gayo High Land” yang bisa disaksikan dengan jelas dari kejauhan.

Dulu graffiti dibuat dari susunan pohon pinus, hingga terbaca "Tanoh Gayo." Pinus itu terbakar saat kemarau. Pemerintah Aceh Tengah lalu menggantinya dengan tulisan dari lempengan baja  ringan.

Bur Telege begitu viral, menyimpan pesona istimewa. Wisatawan berkunjung ke Tanah Gayo selalu menyempatkan diri singgah ke sana. Selain letaknya mudah dijangkau, berada di pusat kota, juga di tempat itu terdapat tempat swafoto yang menarik, dengan latar hutan pinus, danau, gunung, dan wajah kota. 

Foto-foto Bur Telege telah menyebar demikian luas, dan mendapat pujian banyak orang. Lokasi wisata ini seluruhnya  208 hektar lebih.

Penguasaan lahan terpilah jadi  tiga bagian; tanah adat, tanah pemerintah, dan milik pribadi.

Baca juga: Heboh Butiran Emas di Sungai Alas, Warga Aceh Tenggara Ramai-ramai Jadi Pendulang

Baca juga: Jalan Menuju Tripe Jaya Tertimbun Longsor, Arus Transportasi Terganggu

Baca juga: VIDEO - Viral Seorang Pemuda Berusaha Mengubur Diri di TPU, Ngaku Sudah Mati

Reje Misriadi,  menjelaskan  objek wisata Bur Telege  beroperasi sejak September 2018.

"Kami bersyukur, ternyata mendapat respon sangat baik dari masyarakat. Kami masih melakukan banyak pembenahan," kata Reje HBB itu. Reje dalam terminologi Gayo adalah sebutan untuk  kepala desa.

Bur artinya gunung. Telege artinya sumur. Konon di puncak itu dulu terdapat beberapa sumur tua sebagai penampung air hujan untuk kebutuhan air di kawasan itu.

Pengelola wisata Bur Telege kini melengkapi dengan beberapa fasilitas seperti tempat foto, flying fox, kedai.

Ada toilet, mushola kecil, ayunan, permadani yang memberi efek sedang terbang saat difoto. Objek wisata Bur Telege digagas dan  dikelola pemuda Hakim Bale Bujang (HBB). 

Selain menggunakan mobil dan kendaraan roda dua,  Bur Telege juga bisa dicapai dengan jalan setapak menaiki seribu anak tangga.

Serambinews.Com mencoba menjajal Bur Telege melalui jalur “1000 anak tangga itu” dengan gerbang  masuk dari Kampung Hakim. Pintu masuk melewati rumah penduduk  hanya bisa dilalui  pejalan kaki.

Kalau menggunakan kendaraan, sebaiknya diparkir di jalan raya dekat Masjid Taqwa.

Tapi kalau Anda menginap atau berada di seputaran Kota Takengon, sebaiknya kendaraan diparkir di penginapan. Sebab tidak banyak tempat di sana yang bisa dijadikan area parker. Anda bisa mulai berjalan kaki dari penginapan.

Jalur “1000 anak tangga” ke puncak Bur Telege cukup memberi suasana takjub, mendebarkan,  dan menyenangkan. Terutama saat berada di pertengahan perjalanan. Tatapan mata langsung bisa menyapu seluruh wajah Kota Takengon, dan hamparan Danau Laut Tawar. Indah dan menenangkan.

Hanya saja diperlukan kehati-hatian saat menaiki anak tangga demi anak tangganya, karena   bersemak dan beberapa bagian licin oleh hujan.

Sepertinya, jalur ini belum mendapat perawatan yang cukup, sehingga di seputaran anak tangga penuh dengan rumput dan semak.

Baca juga: Pengacara Trump Sempat Minta Wapres Mike Pence Ditembak, Sudah Jadi Pengkhianat

Baca juga: Proud Boys, Pendukung Trump Siap Demonstrasi 6 Januari 2021, Cegah Kemenangan Biden

Baca juga: VIDEO - Ratusan Burung Mati Penuhi Jalan Roma, Diduga Mati karena Kembang Api Pesta Malam Tahun Baru

Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia, kawasan wisata Bur Telege juga ikut ditutup. Barangkali karena alasan itulah, maka tidak dilakukan pemeliharaan.

Namun seiring dengan mulai dioperasionalkan kembali kawasan wisata Bur Telege, maka mau tidak mau jalur “tangga seribu” harus mendapat perawatan dan penanganan. Sehingga, wisatawan yang menempuh jalur ini memperoleh kenyaman dan tidak kuatir terpeleset.

Sitti Afraghassani, mahasiswa alumni IPB University dan adiknya, Siti Zettarenggali yang ikut menjajal jalur tersebut mengaku sangat terpesona dengan pemandangan alam Tanah Gayo.

Mereka berangkat pagi hari, ketika kabut awan masih menyelimuti punggung gunung. Di beberapa bagian, tampak kabut awan di depan mata dengan hiasan pohon pinus  berjajar indah.

Tidak butuh waktu lama  tiba di puncak, hanya sekitar 1/5 jam sampai 1 jam. Sebab pendakian bisa terhenti terutama untuk kebutuhan berfoto selfie atau merekam perjalanan dalam bentuk video telepon seluler.

Anda dapat langsung mengupload seluruh rekaman perjalanan ke sosial media, karena sinyal telepon cukup mantap dan maksimal.

Reje Misriadi,  menyebutkan, fasilitas 1000 anak itu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah guna mendukung dunia kepariwisataan.

“Sebelum covid, banyak wisatawan dan terutama mereka yang memiliki kegemaran berjalan kaki, memanfaatkan fasilitas tersebut,” ujar Misriadi yang akrab disapa Adi Bale.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved