Ketahanan Pangan

TPID Aceh Bahas Ketahanan Pangan Sambut Bulan Ramadhan

Tingginya permintaan masyarakat yang tidak diiringi dengan jumlah pasokan barang yang cukup, mengakibat harga melambung naik, atau yang dalam ilmu eko

Penulis: Mawaddatul Husna | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/Humas Polres Bener Meriah
Bhayangkari Polres Bener Meriah bersama personel Polres melaksanakan panen perdana kebun ketahanan pangan yang ditanam di kompleks Polres setempat, Jumat (16/10/2020). 

Laporan Mawaddatul Husna I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dalam waktu kurang dari 100 hari, umat Islam akan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang diperkirakan jatuh pada pertengahan April 2021.

Apabila melihat data historis, momen kedatangan bulan Ramadhan biasanya diiringi dengan kenaikan harga barang, terutama bahan pangan.

Tingginya permintaan masyarakat yang tidak diiringi dengan jumlah pasokan barang yang cukup, mengakibat harga melambung naik, atau yang dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah inflasi.

Menyikapi pola laju inflasi tersebut yang terus berulang setiap tahunnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh menggelar rapat koordinasi teknis, di Aula Kantor Bank Indonesia Provinsi Aceh, Selasa (12/1/2021).

Pertemuan dipimpin oleh Kepala BI Aceh, Achris Sarwani selaku Wakil Ketua TPID Aceh, dan dihadiri SKPA terkait, Kakanwil Bea Cukai, Bulog, BPS, PT PEMA, dan Kepala BI Lhokseumawe.

Pada keterangan tertulis yang diterima Serambinews.com, disampaikan dalam rakor TPID kali ini terdapat sesi diskusi khusus mengenai program ketahanan pangan nasional bersama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

PT RNI merupakan sebuah BUMN Pangan yang ditugaskan oleh Kementerian BUMN untuk membentuk Holding BUMN Pangan dalam rangka mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional.

Pada kesempatan tersebut, Achris Sarwani menyampaikan informasi mengenai kondisi perpanganan nasional dan Aceh, diantaranya terkait masih besarnya impor pangan nasional saat ini untuk komoditas tertentu seperti gandum, gula, dan kedelai.

Baca juga: Anggaran untuk Polres Aceh Utara Tahun Ini Meningkat dari Tahun 2020, Ini Jumlahnya

Baca juga: Anggaran untuk Polres Aceh Utara Tahun Ini Meningkat dari Tahun 2020, Ini Jumlahnya

Baca juga: Wanita 55 Tahun Tewas Dibunuh Secara Sadis di Langkat, Golok Masih Menancap di Area Vital Korban

Pada 2020, impor ketiga komoditas tersebut tercatat masing-masing mencapai USD 2,4 miliar, USD 1,8 miliar, dan USD 0,9 miliar. Padahal sebenarnya dengan kondisi alam Indonesia yang subur, ketiga komoditas tersebut dapat dihasilkan sendiri tanpa perlu diimpor.

Lebih lanjut Achris mengutarakan bahwa Aceh dapat berperan besar dalam program ketahanan pangan nasional, mengingat selama ini Aceh telah menyumbangkan beberapa komoditas untuk memenuhi kebutuhan nasional, seperti beras, jagung dan cabai.

“Apabila potensi yang dimiliki Aceh dapat dioptimalkan, maka kontribusi Aceh dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional akan semakin besar yang juga tentunya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh,” sebutnya.

Sementara Direktur Komersial PT RNI, Frans Marganda Tambunan pada kesempatannya memaparkan progress program pembentukan holding BUMN Pangan, serta isu strategis lainnya di sektor perpanganan.

Frans menyebutkan holding tersebut ditargetkan dapat terbentuk di tahun 2021, dengan 8 BUMN pangan yang menginduk kepada PT RNI supaya tidak terjadi overlaping bisnis.

Lebih jauh lagi pembentukan holding ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor dan ke depannya dapat melakukan swasembada pangan dari hasil produksi domestik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved