Breaking News:

Salam

Biden Perbaiki Sikap AS Terhadap Dunia Islam

Sikap itu antara lain diperlihatkan dengan pernyataan segera mencabut larangan masuk ke AS bagi warga Muslim

AP/Carolyn Kaster
Joe Biden dan Pemerintahan AS yang baru disebut akan meluncurkan sejumlah perubahan kebijakan yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump, selama 10 hari pertama menjabat.(AP/Carolyn Kaster) 

Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden mulai menunjukkan sikap bersahabat dengan dunia Islam. Sikap itu antara lain diperlihatkan dengan pernyataan segera mencabut larangan masuk ke AS bagi warga Muslim. Biden menyatakan mencabut larangan itu pada hari pertama setelah ia dilantik pada Rabu  (20/10).  Larangan itu sebelumnya diterbitkan Presiden Donald Trump guna membatasi gerakan Muslim di negara Paman Sam itu.

Joe Biden akan mencabut larangan itu melalui perintah eksekutifnya. Kepala Staf Gedung Putih yang baru, Ron Klain mengatakan Pemerintah AS meluncurkan serangkaian pengembalian kebijakan yang sebelumnya diterapkan Presiden AS Donald Trump. Kebijakan ini akan diterapkan selama 10 hari pertama Biden menjabat sebagai Presiden AS.

“Sebagai presiden, saya bekerja dengan Anda untuk menghancurkan kebencian dari masyarakat kita untuk menghormati kontribusi Anda dan mencari ide‑ide Anda. Pemerintahan saya akan terlihat seperti Amerika, dengan muslim Amerika yang melayani di setiap tingkatan,” ucapnya.

Sebelumnya, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang melarang wisatawan dari tujuh negara mayoritas muslim untuk memasuki AS. Negara tersebut adalah Iran, Libya, Somalia, Suriah, dan Yaman. Larangan itu sering dikaitkan dengan terorisme yang menghantui dunia, terutama Amerika Serkat.

Para analis politik mengatakan, mungkin hal terburuk yang ditimbulkan Presiden Trump adalah terbentuknya suasana “sok kuasa” kaum putih yang dikenal dengan white supremacy atau white nationalist semakin menjadi‑jadi. Akibatnya kekerasan kepada nonwhite, termasuk Muslim, Hispanic, Kulit Hitam, bahkan Yahudi yang dianggap non White semakin merajalela.

Biden mengaku sangat memikirkan hal-hal semacam itu. Termasuk mengajukan undang‑undang baru untuk menyediakan naturalisasi 11 juta orang tidak berdokumen yang saat ini tinggal di negara tersebut. Selain itu, ada juga kebijakan untuk memvaksinasi 100 juta orang dalam 100 hari pertamanya menjabat.

Selain itu, masih ada janji‑janji Biden yang ditunggu realisasinya. Sebab, ketika mencalonkan diri menjadi Presiden AS, Biden mengemukakan sejumlah janji pada umat muslim yang pada masa pemerintahan Donald Trump merasa terdiskriminasi. "Saya ingin bekerja dalam kemitraan dengan Anda untuk memastikan suara Anda termasuk dalam proses pengambilan keputusan saat kami bekerja untuk membangun kembali bangsa kita," kata Biden dalam acara virtual yang diselenggarakan komunitas muslim di AS pada Juli 2020.

Biden mengatakan bahwa suara umat muslim amat penting. Ia juga berharap agar masyarakat AS lebih menghargai umat muslim. "Saya berharap kita diajari lebih banyak di sekolah‑sekolah kita tentang iman Islam. Saya harap kita bisa berbicara mengenai semua agama, agama dengan pengakuan yang besar. Suara muslim Amerika penting tapi kita semua tahu bahwa suara Anda tidak selalu dikenali dan diwakili. Itu hak Anda sebagai warga negara."

Dalam pidatonya kala itu, Biden sempat mengutip hadist yang menginstrusikan, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah'."

Yang sangat mengundang simpati, Joe Biden juga berjanji memperluas perawatan kesehatan untuk umat muslim Amerika terlepas dari pendapatan atau ras mereka. Di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) secara global, Biden pun mengecam pelanggaran HAM terhadap muslim Uyghur di China dan Rohingnya di Myanmar.

Di Amerika Serikat sendiri, saat ini umat Islam termasuk kelompok minoritas. Menurut survei Pew Research Center, beberapa tahun lalu, ada 2,75 juta jiwa warga AS yang beragama Islam.v Dari jumlah itu, 63 persen umat Islam Amerika Serikat adalah imigran. AS sendiri memiliki sejarah yang panjang dalam hubungannya dengan Islam. Makanya, cukup banyak tokoh dan pergerakan umat Islam yang mendorong Amerika Serikat benar-benar menjadi negeri multirasial dan menjunjung tinggi asas kebebasan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved