Breaking News:

Pengkaderan Teroris Dilakukan dengan Cara tak Biasa

Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Aceh, Prof Dr Yusni Sabi MA turut mengomentari penangkapan lima terduga teroris

Editor: bakri
For Serambinews.com
Kabid Humas Polda Aceh memperlihatkan barang bukti terduga teroris dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Sabtu (23/1/2021). 

Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Aceh, Prof Dr Yusni Sabi MA turut mengomentari penangkapan lima terduga teroris di Aceh baru-baru ini. Yusni yang dimintai pandangannya, menyorot keterlibatan salah satu pegawai negeri sipil (PNS) dalam kelompok tersebut.

Yusni mengaku tidak heran dengan adanya keterlibatan abdi negara di dalamnya. Karena dalam pelatihan teroris di Bukit Jalin Jantho yang berhasil dibongkar aparat keamanan beberapa tahun silam, juga melibatkan seorang PNS.

"Kasus di Jalin juga ada PNS kan? Jadi saya sendiri tidak heran, karena ideologi yang disebarkan oleh para sumbernya ini bisa mempengaruhi siapa saja," kata Yusni Sabi kepada Serambi Senin (25/1/2021) tadi malam.

Mantan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh ini menengarai, keterlibatan oknum PNS dalam terorisme itu disebabkan beberapa faktor. Faktor pertama tentu masuknya ideologi yang diajarkan oleh kelompok tersebut.

"Faktor lain yang cukup mempengaruhi keinginan yang bersangkutan untuk ikut adalah, mungkin akibat ketidakpuasan dalam profesinya sebagai PNS, kemudian karena godaan yang begitu kuat," ujar Yusni.

Menurut Yusni Sabi, pengkaderan teroris di Indonesia dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Sumber yang membawa ideologi biasanya adalah orang yang bepengaruh. "Tentu ada inspirasi dari dalam. Juga ada pengaruh dari luar Aceh, juga dari gerakan-gerakan yang sama di luar Indonesia," tambahnya.

Mantan Rektor IAIN Ar-Raniry ini juga menyebutkan, pengkaderan teroris ini bukan hanya PNS, tetapi juga menyasar lintas profesi lainnya. "Kan juga ada tukang, ada pengusaha, macam-macam. Semuanya tentu dilatarbelakangi beberapa hal, biasanya karena ketidakpuasan kepada pemerintah hingga godaan yang kuat dari sumber-sumbernya," sebut Yusni.

Khusus keterlibatan PNS, Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini meminta pemerintah benar-benar melakukan penyeleksian dengan ketat saat perekrutan PNS. Ia juga juga menyebutkan, cara paling ampuh mencegah keterlibatan masyarakat dalam kelompok ekstremisme adalah dengan memberi pelayanan prima kepada masyarakat.

Gerakan kelompok dan personal ini menurut Yusni, bisa dipicu dengan berbagai hal. Salah satunya adalah rasa ketidakpuasan terhadap pemerintah dalam dalam pelayanan dan berbagai kebijakan. "Makanya beri pelayanan dengan baik kepada masyarakat. Jangan ada lagi kita dengar pejabat bermasalah, aparatur pemerintah tersangkut kasus korupsi, birokrasi bermasalah, dan lain-lain. Jika semuanya baik, saya rasa semuanya akan aman dan tentram, karena masyarakat tentu sejahtera," ujarnya.

Terakhir, Yusni meminta kepada para alim ulama untuk sering memberi syarahan agama yang sejuk dan tidak provokasi. "Masyarakat harus diberi pendidikan yang baik, peringatan, kewaspadaan. Pengajian harus memberi ketenangan, karena pengajian agama yang mengikuti Alquran dan Sunnah itu adalah rahmatal lilalamin, tidak mengajarkan kebencian di dalamnya," demikian Yusni Sabi.(dan)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved