Internasional
China Akan Gelar Latihan Militer di Laut China Selatan, Marah Atas Masuknya Kapal Induk AS
Pemerintah China akan menggelar latihan militer besar-besaran di Laut China Selatan pada minggu ini.
SERAMBINEWS.COM, BEIJING - Pemerintah China akan menggelar latihan militer besar-besaran di Laut China Selatan pada minggu ini.
Tindakan itu diambil, hanya beberapa hari setelah Beijing marah atas masuknya kelompok kapal induk AS ke perairan yang disengketakan.
Administrasi Keselamatan Maritim China telah mengeluarkan pemberitahuan.
China melarang masuk ke sebagian perairan di Teluk Tonkin, barat semenanjung Leizhou, baratdaya China dari 27 Januari hingga 30 Januari 2021.
Baca juga: China Minta Indonesia Perlakukan Pelautnya Dengan Baik
Tetapi tidak memberikan rincian kapan latihan tersebut dilakukan atau pada skala apa.
Sebuah kelompok kapal induk AS yang dipimpin oleh USS Theodore Roosevelt memasuki Laut China Selatan pada Sabtu (23/1/2021).
AS ingin mempromosikan "kebebasan laut," kata militer AS beberapa hari setelah Joe Biden memulai masa jabatannya sebagai presiden.
Perairan yang diperebutkan telah menjadi titik ketegangan lain dalam hubungan bilateral yang semakin sulit antara Beijing dan Washington.
Dilansir Reuters, Rabu (27/1/2021), Militer AS terus meningkatkan aktivitasnya di sana dalam beberapa tahun terakhir ini.
Baca juga: China Uji Tembak Rudal Balistik JL-3, Bisa Jangkau Benua Amerika dari Kapal Selam
Karena China terus menegaskan klaim teritorialnya di wilayah yang berkonflik dengan negara-negara tetangga.
Termasuk Vietnam, Malaysia, Filipina, Brunei, dan Taiwan.
Pengumuman latihan di Teluk Tonkin, tepat di timur Vietnam, datang ketika negara Asia Tenggara itu membuka kongres penting Partai Komunis di Hanoi.
China pada Senin (25/1/2021) mengeluhkan Amerika Serikat sering mengirimkan pesawat dan kapal ke Laut China Selatan.
Baca juga: 8 Pesawat Pembom dan 4 Jet Tempur China Masuki Wilayah Udara Taiwan, Begini Reaksi Taipei
Jalur ini dilalui triliunan dolar AS dalam arus perdagangan setiap tahun.
China mengatakan tindakan seperti itu tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan itu.(*)