Rabu, 8 April 2026

Ekspor Kopi Gayo Terkendala, Keterbatasan Kapal Pengangkut

Sejumlah eksportir kopi arabika Gayo mengeluhkan mulai terbatasnya kapal pengangkut komoditas unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG)

Editor: bakri
Humas Pemkab Aceh Tengah
Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah didampingi Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar dan Bupati Bener Meriah, H Sarkawi, Kamis (3/12/2020) melepas komoditi kopi arabika Gayo di Gudang Kopepi Ketiara, Takengon, untuk diekspor ke manca negara. 

TAKENGON - Sejumlah eksportir kopi arabika Gayo mengeluhkan mulai terbatasnya kapal pengangkut komoditas unggulan asal Dataran Tinggi Gayo (DTG) tersebut ke beberapa negara importir, sehingga banyak barang siap ekspor kini menumpuk di gudang-gudang kopi milik eksportir.

Ketua Asosiasi Ekspor Kopi Indonesia (AEKI) Aceh, Ir Armia kepada Serambi, Selasa (26/1/2021), membenarkan bahwa kapal pengiriman kopi arabika Gayo ke beberapa negara importir saat ini terbatas. "Kondisi ini masih berkaitan dengan dampak Covid-29, sehingga proses pengiriman belum begitu normal. Termasuk ketersediaan kapal pengangkut," kata Armia.

Menurut Armia, jalur ekspor kopi arabika Gayo dikirim melalui pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, dan akan transit di Malaysia dan Singapore. Dari Singapore dan Malaysia, komoditas ekspor akan dikirim ke beberapa negara importir seperti Amerika, Australia, dan Eropa. "Kalau dari Belawan menuju Malaysia dan Singapore, ketersediaan kapal cenderung masih normal," tuturnya.

Kendalanya, lanjut Ketua AEKI Aceh ini, kapal dari Malaysia dan Singapore menuju negara importir sering full space (penuh), sehingga pengiriman kopi Arika Gayo beberapa waktu ke belakang sering tertunda. "Biasanya pengiriman kopi seminggu sekali, tetapi karena kapal dari Malaysia dan Singapore full space, sehingga pengiriman terlambat, bisa dua minggu sekali terkirim," jelas Armia.

Dia menambahkan, keterbatasan kapal pengiriman juga masih berkaitan dengan masih adanya penyebaran Covid-19, sehingga berdampak juga terhadap proses maupun aktivitas angkutan kapal. "Banyak faktor juga, sehingga pengangkutan di kapal sering tertunda. Apalagi memang  pandemi Covid-19 belum ada tanda-tanda menuju pemulihan," imbuh Armia.  

Di sisi lain, permintaan ekspor kopi arabika Gayo masih sama seperti pada saat pertama penyebaran Covid-19. Beberapa importir seperti Amerika Serikat dan Australia masih berlaku pembatasan, sehingga cafe maupun roaster masih tutup. Lockdown yang terjadi di sejumlah negara Eropa mempengaruhi permintaan kopi.  "Ini juga berdampak sampai ke petani, pedagang lokal, serta eksportir. Termasuk juga harga jual kopi yang belum membaik," pungkasnya.(my)  

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved