Breaking News:

Harga Tuna di Brunei Capai Rp 250.000/Kg, Aceh Ekspor 12 Ton Ikan Beku

Harga ikan tuna beku di Brunei Darussalam ternyata lumayan tinggi, mencapai Rp 250.000 per kilogram

SERAMBINEWS.COM/HERIANTO
Plt Kepala DKP Aceh, Ir Aliman, Kepala UPTD PPS Kutaradja Lampulo, Oni Kandi, Kepala Karantina Ikan Lampulo, Diky, dan Dirut PT Yakin Pasifik Tuna, Almer Hafis Sandy, menyaksikan pemuatan ikan yang akan diekspor, Rabu (27/1/2021). 

BANDA ACEH - Harga ikan tuna beku di Brunei Darussalam ternyata lumayan tinggi, mencapai Rp 250.000 per kilogram. Hal itu lah yang membuat salah satu perusahaan pengolahan ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaradja, Lampulo, Banda Aceh, PT Yakin Pasifik Tuna, melakukan ekspor ikan ke negara tersebut.

Ekspor ikan ini merupakan yang pertama dilakukan oleh perusahaan ini. Totalnya mencapai 12 ton, yang terdiri dari berbagai jenis ikan. Acara penglepasan ekspor itu, Rabu (27/1/2021), dihadiri langsung oleh Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Ir Aliman; Kepala Badan Karantina Ikan PPS Kutaradja Lampulo, Diky Agung Setiawan; Kepala UPTD PPS Kutaradja Lampulo, Oni Kandi; Direktur PT Yakin Fasifik Tuna, Almer Hafis Sandy; dan sejumlah pejabat lainnya.

“Ikan tuna dan tenggiri di Brunei Darussalam harganya cukup lumayan bagus,” kata Direktur PT Yakin Fasifik Tuna, Almer Hafis Sandy.

Untuk jenis tuna beku, ia sebutkan, harga jualnya mencapai Rp 250.000 per kilogram (Kg), tuna jenis steak beku Rp 120.000/Kg, tenggiri beku Rp 72.000/Kg, kakap merah beku grade B Rp 52.000/Kg, dan ikan layur beku Rp 65.000/Kg.

Almer Hafis Sandy mengatakan, semua jenis ikan yang akan diekspor itu sudah melalui proses pemeriksaan oleh pihak pembeli di Brunei Darussalam. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi uji mikroba (bakteri dan virus) hingga kualitas ikan.

Selain melalui proses pemeriksaan, penanganannya juga tidak sembarangan. Setelah dibersihkan dan dipastikan terbebas dari bakteri dan virus, ikan dibekukan dengan dimasukkan ke dalam kamar pendingin khusus. Proses pengirimannya juga menggunakan kontainer khusus yang bisa menjaga suhu ikan tetap stabil hingga sampai ke negara tujuan.

“Proses pengiriman harus dilakukan dengan ektra ketat dan teliti. Jika tidak, kualitasnya bisa menurun. Ini yang membuat harga ikan ekspor lebih mahal,” jelas Almer Hafis Sandy.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, Ir Aliman, menyampaikan, informasi yang ia terima dari pihak perusahaan, ikan-ikan yang akan diekspor itu merupakan ikan yang dikumpulkan dari para nelayan setempat.

Rencana awal, ekspor akan dilakukan pada bulan Desember 2020 lalu. Tetapi karena untuk mendapatkan kontainer khusus untuk eskpor ikan beku harus menunggu antrian, jadwal ekspor molor dan baru bisa dilakukan pada minggu keempat Januari 2021.

“Ikan tuna dan tenggiri itu dikumpulkan pihak perusahaan sejak bulan Desember lalu dari boat-boat nelayan di PPS Kutaradja Lampulo,” ungkap Aliman kepada Serambi.

Pihaknya mengaku sangat senang, PT Yakin Fasifik Tuna tetap mampu melakukan ekspor 12 ton ikan beku di tengah kondisi paceklik ikan sepanjang Desember 2020 hingga Januari 2021. “Hal ini membuktikan kawasan laut di Aceh memang kaya akan ikan bernilai ekonomi tinggi,” tuturnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved