Breaking News:

33 Narapidana Diberikan Asimilasi di Rumah

Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Takengon memberikan program asimilasi di rumah untuk 33 Warga Binaan Pemasyaratan (WBP)

For Serambinews.com
Plt Kepala Rutan Kelas IIB Takengon, Husni SH MM menyerahkan SK asimilasi dirumah kepada sejumlah warga binaan pemasyaratan yang berlangsung Senin (1/2/2021). 

TAKENGON - Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Takengon memberikan program asimilasi di rumah untuk 33 Warga Binaan Pemasyaratan (WBP) yang dilaksanakan Senin (1/2/2021) di kompleks Rutan Kota Takengon. Program serupa juga telah dilaksanakan pada tahun lalu untuk 99 WBP.

“Jika dibandingkan, memang ada sedikit perbedaan tahun ini dengan tahun lalu. Tahun lalu, peraturan yang menjadi dasar hukum kita adalah Permenkum HAM R I Nomor 10 Tahun 2020. Tetapi untuk tahun 2021 ini, yang menjadi dasar hukum adalah Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor 32 tahun 2020,” kata Plt Kepala Rutan Kelas IIB Takengon, Husni SH MM.

Menurut Husni, di dalam peraturan baru tersebut, terkait tindak pidana perlindungan anak yang dijerat dengan pasal 81 dan pasal 82, tindak pidana kesusilaan yang dijerat dengan pasal 285 sampai dengan pasal 290 KUHP, tindak pidana pembunuhan yang dijerat dengan pasal 339 dan pasal 340 KUHP serta tindak pidana pencurian yang dijerat dengan pasal 365 KUHP, tidak dapat lagi diberikan program asimilasi di rumah.

Selain itu, terhadap narapidana residivis, narapidana yang menjalani 2 putusan bahkan lebih dan narapidana yang masih ada perkara lain juga tidak mendapatkan program asimilasi. “Terkait tindak pidana korupsi, terorisme, kejahatan HAM berat dan narkotika yang dipidana 5 tahun ke atas masih sama seperti peraturan sebelumnya, tetap tidak mendapatkan program asimilasi di rumah,” jelasnya. 

Disebutkan Husni, dalam penyerahan SK Asimilasi di rumah, pihak rutan mengeluarkan 18 WBP yang telah memenuhi syarat untuk menjalani asimilasi di rumah sesuai dengan peraturan Menkumham RI, Nomor 32 Tahun 2020 tentang syarat dan tata cara pemberian asimilasi, pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas, dan cuti bersyarat bagi narapidana dan anak dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Disebutkan Plt Kepala Rutan Takengon ini, program asimilasi di rumah bukanlah bebas sepenuhnya. Pogram ini untuk menjalankan sisa pidana di rumah yang nantinya akan diawasi oleh pihak BAPAS, kepolisian, dan juga kelompok masyarakat.

“Jadi saya ingatkan, WBP yang menjalani asimilasi memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan, diantaranya wajib di rumah selama asimilasinya belum berakhir. Tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum serta perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya. 

Di sisi lain, Husni juga mengaskan bahwa program asimilasi di rumah bagi puluhan WBP sama sekali tidak dipungut biaya. Bila ada pihak yang melakukan pratik penyimpangan atau indikasi korupsi dalam pelayanan ini, bisa segera melaporkan ke penegak hukum. “Jika ada, saya akan tindak tegas dan diproses secara hukum. Saya tidak ingin ada praktik KKN di Rutan Takengon ini,” tegasnya lagi.

Program asimilasi di rumah ini juga sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19 di lingkungan lapas/rutan se-Indonesia. Apalagi seluruh rutan mengalami over kapasitas, termasuk di Rutan Takengon yang mencapai 446 persen. “Jadi dengan adanya program ini bisa menciptakan ruang gerak serta menurunkan angka over kapasitas, sehingga bisa mencegah penyebaran Covid-19,” pungkasnya.(my)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved