Breaking News:

Aceh Akan Perjuangkan ke Pusat, Terkait Pelarangan Penerbangan Asing di Bandara SIM

Pemerintah Aceh akan memperjuangkan ke pemerintah pusat bahwa bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) sangat prosepektif

For Serambinews.com
T Ahmad Dadek 

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh akan memperjuangkan ke pemerintah pusat bahwa bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) sangat prosepektif sebagai bandara internasional. Itu sebabnya  pemerintah pusat diminta tetap menjadikan bandara SIM terbuka bagi penerbangan maskapai asing. Pelarangan penerbangan asing di bandara SIM mengacu kepada Keputusan Menteri Hukum dan HAM  Nomor MHH 01 GR .03.01 tahun 2020 tentang Tempat Pemeriksaan Imigrasi Tertentu Sebagai Tempat Masuk Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru.

Untuk membahas persoalan ini, Bappeda Aceh pada Senin (1/2/2021) melaksanakan paparan pengembangan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) sebagai Bandara Internasional yang prospektif, dengan mengundang tiga lembaga, yaitu DPMPTSP, Angkasa Pura II, Dishub Aceh dan lembaga terkait lainnya. Pemaparan terkait potensi Bandara SIM bagi pemasukan penerimaan negara dari sektor pariwisata, investasi, perdagangan, jasa, dan lainnya.

"Acara ini kita laksanakan sebagai upaya Pemerintah Aceh, agar  Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) sebagai Bandara Internasional, tetap terbuka untuk maskapai penerbangan asing yang sudah melakukan kerjasamanya, membuka rute peerbangannya ke Aceh," kata Kepala Bappeda Aceh, H T Ahmad Dadek SH MHum di Aula Bappeda Aceh, Senin (1/2/2021).

Pembahasan bersama itu dilakukan untuk menyikapi Keputusan Menteri Hukum dan HAM  Nomor MHH 01 GR .03.01 tahun 2020 tentang Tempat Pemeriksaan Imigrasi Tertentu Sebagai Tempat Masuk Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, yang menetapkan tujuh bandara  yang boleh masuk penerbangan asing. Yaitu Bandara Kuala Namu Sumut, Hang Danim Batam, Soekarno-Hatta, DKI Jakarta, Juanda Surabaya, Sam Ratulangi Manado, Hasanuddin Makassar, dan I Gusti Gurah Rai, Bali.  Sementara Bandara Sultan Iskandra Muda (SIM) tidak masuk dalam daftar Keputusan Menteri Hukum dan HAM tersebut.

Untuk meyakinkan kembali pemerintah pusat bahwa potensi Bandara SIM sebagai Bandara Internasional sangat besar, maka Bappeda Aceh melakukan presentasi hasil kajian dan analisa potensi pengembangan Bandara SIM sebagai Bandara Internasioal yang cukup prospektif, baik untuk pemasukan PT Angkasa Pura II selaku operator, juga bagi perkembangan industri pariwisata, investasi, perdagangan, dan jasa lainnya di Aceh. 

“Karena itu perlu kita perjuangkan ke pusat agar bandara SIM tetap dikecualikan dari penutupan masuknya maskapai penerbangan asing sementara ke Aceh dalam masa adaptasi kebiasaan baru, masa pandemi Covid-19 ini,” kata dia.

Menurut Kepala Bappeda Aceh H T Ahmad Dadek, jumlah penumpang dari luar negeri yang masuk dalam tiga tahun terakhir, sebelum masa pandemi Covid-19, cenderung meningkat.

Tahun 2017, jumlah penumpang luar negeri sudah mencapai 210.521 orang, tahun 2018 meningkat menjadi 260.106 orang, tahun 2019 naik lagi menjadi 370.525 orang. Sedangkan pada tahun 2020 dalam masa pandemi turun menjadi 57.331 orang.

Sementara penumpang domestik malah cenderung menurun. Tahun 2018 sebanyak 1.013.304 orang, tahun 2019 turun menjadi 736.257 orang, tahun 2020 turun lagi menjadi 324.058 orang.

Melonjaknya penumpang luar negeri di Bandara SIM, menurut pihak PT Angkasa Pura II, karena ada dua perusahaan maskapai penerbangan asing yang masuk ke Bandara SIM, yaitu Fire Fly dengan rute penerbangan Bandara SIM- Penang. Kemudian Air Asia dengan rute Bandara SIM-Kula Lumpur.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved