Breaking News

Masyarakat di Daerah Aliran Sungai Disarankan Bangun Rumah Panggung Antisipasi Luapan Air

Masyarakat yang hidup di Daerah Aliran Sungai atau DAS  di Aceh disarankan untuk kembali membangun rumah panggung, sebagai antisipasi luapan banjir...

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Nuriza Auliatami. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Masyarakat yang hidup di Daerah Aliran Sungai atau DAS  di Aceh disarankan untuk kembali membangun rumah panggung, sebagai antisipasi luapan banjir yang setiap tahun datang menerjang. Rumah panggung merupakan bentuk kearifan lokal yang dikembangkan oleh nenek moyang.

Saran ini diutarakan Nuriza Auliatami SS MSi menanggapi musibah banjir yang kerap menyapu pemukiman masyarakat di Aceh, seperti  juga melanda Kabupaten Aceh Tamiang beberapa waktu lalu.

"Pemerintah dan masyarakat harus kembali memperhatikan adat dan budaya secara serius. Banjir ini sudah jadi tamu rutin berkunjung. Selain faktor alam yang kurang terjaga dengan baik, faktor-faktor lain juga harus kita pertimbangkan, ya.. salah satunya faktor adat istiadat dalam bidang arsitektur rumah," tutur pemuda yang kerap disapa dengan panggilan “Aulia” ini.

Menurut alumni jurusan Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan, Sekolah Pascasarjana USU yang saat ini bertugas sebagai Penggiat Budaya di lingkungan Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, pemerintah dan masyarakat sudah sangat jauh menganggap kebudayaan hanya sebagai satu bentuk ornamen penghias pembangunan saja.

"Agenda kebudayaan kita masih sangat kaku dan bersifat seremonial saja. Sehingga kebudayaan jarang sekali dilibatkan dalam pembangunan suatu wilayah. kita harus memandang ke belakang. Dahulu, nenek moyang kita menciptakan rumah panggung itu tidak dalam waktu yang singkat," ujar Aulia.

Dikatakannya, mereka belajar dari kondisi alam sekitarnya. Mereka belajar tentang pasang surut air, belajar tentang ilmu falaq sebagai media prediksi curah hujan, serta mengukur debit air, sehingga dengan kebijaksanaan dan kearifan dalam berpikir, nenek moyang kita menciptakan rumah panggung sebagai solusi kehidupan.

"Ini yang dinamakan kearifan lokal. Sangat arogan jika kita mengabaikan kebijaksanaan hidup leluhur kita ini.” sambungnya.

Kian langkanya pembangunan rumah panggung di kalangan masyarakat terutama yang tinggal di Daerah Aliran Sungai, kemudian menjadi perhatian khusus oleh Aulia. Menurutnya, kesadaran akan pentingnya budaya leluhur sebagai salah satu pertimbangan dalam melakukan pembangunan daerah perlu direvitalisasi.

Ya, tidak ada solusi lain selain memperkecil resiko kerugian saat banjir dengan merevitalisasi pembangunan rumah panggung di masyarakat. Setidaknya, pada banjir dengan debit air yang masih terhitung kecil, masyarakat tidak perlu mengungsi, kecuali pada debit air yang terhitung besar.

"Pemerintah perlu melahirkan program revitalisasi rumah panggung ini lagi. Selain menjadi solusi, hal ini juga menjadi wujud pelestarian kebudayaan yang sudah di ajarkan oleh indatu atau tetuhe (red; leluhur) kita,"  tutup Aulia sambil menyeduh teh di Kedai Teh Falsafah yang dikelolanya," ujar  Aulia.(*) 

Baca juga: Baru 12 Hari Jadi Presiden AS, Joe Biden Ancaman Jatuhkan Kembali Sanksi ke Myanmar

Baca juga: Setelah 14 Jam Berlayar, KMP Aceh Hebat 1 Bersandar di Pelabuhan Kolok Sinabang

Baca juga: Sekjen Kemendagri: Perlu Lima Hal Agar Program Sekolah Penggerak Efektif

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved