Breaking News:

Wali Kota Borong Produk UMKM di Bazaar Gampong Peuniti

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, membuka secara resmi Bazaar UMKM dan Jajanan Kuliner Gampong Peuniti

FOTO HUMAS PEMKO BANDA ACEH
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman bersama Ketua TP PKK Hj Nurmiati AR sedang berbelanja produk UMKM yang ditampilkan pada acara Bazaar UMKM dan Jajanan Kuliner Gampong Peuniti, Rabu (3/2/2021) di Pasar Pagi Peuniti, Banda Aceh. 

* Minta Masyarakat dan Pelaku Usaha Kecil Jauhi Rentenir

BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, membuka secara resmi Bazaar UMKM dan Jajanan Kuliner Gampong Peuniti,  Rabu (3/2/2021) di Pasar Pagi Peuniti.

Wali Kota mengaku sangat senang dan mengapresiasi kegiatan yang turut disponsori Bank Indonesia (BI) tersebut.  Pada saat tiba di lokasi, wajahnya tampak sumringah. Disambut Praja IPDN saat turun dari mobilnya,  langkah wali kota yang datang bersama Ketua TP PKK, Hj Nurmiati begitu pasti menuju panggung utama untuk membuka kegiatan itu. 

Baginya Bazaar yang digelar Pemerintah Gampong Peuniti menjadi sarana memberi  ruang mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Me nengah (UMKM) di ‘Kota  Gemilang’.

Sebagaimana diketahui, Aminullah memang me miliki komitmen tinggi men dorong UMKM di Banda Aceh untuk terus tumbuh dan  ber kembang. Seperti yang disampaikannya saat se si wawancara, Pemko telah mela kukan berbagai program  agar pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di Banda Aceh tetap berdaya, apalagi di tengah gempuran pandemi Covid-19 sektor ini menjadi perhatian serius Aminullah.

Katanya, selama ini Pemko telah melakukan program pelatihan skill dan bantuan peralatan usaha. Tidak berhenti di situ, UMKM di Banda Aceh juga mendapatkan  akses modal usaha melalui PT Mahirah Muamalah Syariah (MMS) yang didirikan Aminullah dua tahun lalu.

Dengan program-program itu, UMKM tumbuh pe sat. Tahun 2017, jumlah UMKM di Banda Aceh berjumlah 9.551 unit, meningkat jumlahnya menjadi 15.107 di tahun 2020, naik sig nifi kan hingga 98 persen. Tumbuh dan berkembangnya UMKM di ibukota Provinsi Aceh tidak terlepas dari hadirnya MMS yang kemudian secara otomatis mampu memutus hubungan pelaku usaha kecil dengan rentenir.

“Ketika UMKM sudah mudah mendapatkan modal usahadi Mahirah, mereka tidak berhubungan  lagi dengan rentenir. Survei terbaru yang dilakukan ASA Solution, ketergantungan pedagang di lima pasar besar di Banda Aceh hanya 2 persen saja. Jauh menurun dibanding dimana MMS belum didirikan  yang dulunya mencapai 80 persen,” ungkap Ketum MES Provinsi Aceh ini.

Pada kesempatan ini, ia pun tidak lupa berpesan agar masyarakat kota dan pelaku UMKM di Peuniti menjauhi para tengkulak. Menurut Aminullah, selain bertentangan  de ngan syariat Islam, berurusan dengan rentenir juga mem buat pelaku UMKM sulit berkembang karena beban bunga yang sangat besar. “Misalkan bunganya 1 per sen per hari, bayangkan ka lau setahun bisa 365 hari. Terlalu besar itu, sulit UMKM berkembang,” ujarnya dengan nada geram.

Sesaat sebelum meninggalkan lokasi, Aminullah dan istri berkesempatan berkeliling melihat produk-produk yang ditampilkan. Ada souvenir, jajanan seperti kue dan sejenisnya hasil karya ibuibu pelaku UMKM Peuniti. Wali Kota mengaku produk-  produk UMKM Banda Aceh tidak kalah dari produk luar. Ia pun memborong produk- produk itu, termasuk jajanan dan aneka jenis kue untuk dicicipi bersama istri dan para staf. 

Turut hadir pada kegiatan ini, Perwakilan BI, Tgk Amir Hamzah yang kemudian ikut membagikan QRIS kepada beberapa pelaku UMKM di acara tersebut.  Hadir juga Camat Baiturrahman, Muhammad Rizal SSTP beserta Muspika dan Keuchik Kamaruddin Latief yang menyampaikan terima kasih kepada wali kota atas kehadiran dan dukungan terhadap terlaksananya kegiatan yang diikuti 100 UMKM Gampong Peuniti tersebut.(hba/*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved