Breaking News:

Banyak Perpustakaan Belum Miliki Pustakawan

Saat ini masih banyak perpustakaan di Aceh yang belum melibatkan pustakawan dalam pengelolaannya

www.serambitv.com
Kehadiran dua mobil Perpustakaan Keliling di Gampong Paseh, Juli, Bireuen, menjadi kebahagian sendiri bagi anak-anak. 

BANDA ACEH - Saat ini masih banyak perpustakaan di Aceh yang belum melibatkan pustakawan dalam pengelolaannya. Padahal keberadaan pustaka dianggap sangat penting untuk menunjang pendidikan dan kemajuan negeri.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Aceh, Nazaruddin Musa MLis, dalam bincang-bincang Serambi Podcast, Minggu (14/2/2021). Dalam podcast yang mengangkat tema 'Menata dan Membangun Daya Tarik Pustaka di Aceh" itu, Nazaruddin menyampaikan, masih sangat banyak 'pekerjaan rumah' yang harus dilakukan dalam mengembangkan perpustakaan.

Salah satunya, masih banyak pustaka di Aceh yang selama ini belum dikelola oleh pustakawan. Karena, diakuinya, pada tahun-tahun sebelumnya, Aceh memang masih sangat minim lulusan ilmu pustaka. Sehingga, di pustaka sekolah banyak dikelola oleh guru yang sebagian tidak memiliki latar belakang ilmu perpustakaan.

Dari ratusan pustaka yang ada di Aceh, jumlah perpustakaan yang belum melibatkan pustakawan dalam pengelolaan, persentasenya masih diatas 50 persen. Namun saat ini, Aceh sudah memiliki banyak sumber daya manusia dalam bidang perpustakaan, UIN Ar-Raniry saja hingga saat ini sudah meluluskan sekitar 800-pustakawan, yang kini tersebar di seluruh Aceh. Sehingga sudah saatnya melibatkan pustakawan dalam dunia literasi ini.

Kata Dosen UIN Ar Raniry tersebut, untuk membuat sistem dan pengelolaan yang memenuhi standar, maka sudah seharusnya perpustakaan memiliki tenaga pustakawan yang profesional. Kata Nazar, supaya hal itu mengikat, maka pemerintah harus membuat regulasi terkait penempatan pustakawan di perpustakaan.

"Sistem belajar yang belum berbasis belajar di perpustakaan menjadi aspek utama yang menyebabkan perpustakaan belum dipedulikan. Orang memang harus ada kewajiban untuk ke pustaka, guna mendapatkan informasi yang bagus. Selama ini pustaka hanya jadi tempat simpan buku saja, belum ada kegiatan interaktif antara pustawan sekolah dengan guru," ujar Nazaruddin.

Selain itu, lanjut Nazar, masih banyak perpustakaan di Aceh harus ditata kembali, sehingga sistem pengelolaan mengikuti standar yang sudah ada. Kemudian, guna mengikuti perkembangan zaman, maka pustaka juga harus melakukan digitalisasi hingga memenuhi keberagaman koleksi buku.

"Perpustakaan ini menjadi indakator kemajuan sebuah bangsa, kalau mau melihat kemajuan sebuah negara maka lihatlah kemajuan perguruan tingginya, apabila mau melihat perguruan tinggi maju maka lihatlah perpustakaannya. Hal itu bisa kita lihat juga di Aceh," ujar Nazar.(mun)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved