Persawahan Kering Terus Meluas, Capai 1.744 Ha di Tujuh Daerah
Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Perkebunan (BPTPHB) Aceh menyatakan, kemarau yang melanda Aceh dalam beberapa minggu
BANDA ACEH - Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Perkebunan (BPTPHB) Aceh menyatakan, kemarau yang melanda Aceh dalam beberapa minggu ini terus memberikan dampak bagi pertanian. Hingga Rabu (3/3/2021), luas areal persawahan yang sudah mengalami kekeringan mencapai 1.744 hektare (ha).
Jumlah lahan yang kekeringan itu tersebar di tujuh daerah, yaitu Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Timur, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Jaya, dan Sabang. “Dari tujuh daerah tersebut, daerah paling luas terdampak kemarau adalah Aceh Besar, mencapai 1.121 hektare,” kata Kepala BPTPHP Aceh, Zulfadli SP MP kepada Serambi, Kamis (4/3/2021).
Kekeringan yang melanda lahan tanaman padi di Aceh Besar, sebutnya, tersebar di empat kecamatan. Dan kecamatan yang paling terdampak adalah Kuta Cot Glie, seluas 759 hektare. “Di Kuta Cot Glie lahan yang mengalami kekeringan ringan seluas 425 hektare, kekeringan sedang 239 hektare, kekeringan berat 99 hektare. Sedangkan yang gagal panen (puso) 22 hektare,” terang Zulfadli.
Selain Kuta Cot Glie, di Kecamatan Seulimeum lahan pertanian yang mengalami kekeringan seluas 307 ha. Terdiri dari kekeringan ringan 205 ha, kekeringan sedang 76 ha, kekeringan berat 26 ha, belum ada yang puso. Sedangkan di Kecamatan Kuta Baro luas lahan yang kekeringan mencapai 50 hektare. Semuanya dalam kondisi kekeringan ringan. Selanjutnya Kecamatan Baitussalam, seluas 5 ha, semuanya masih dalam kondisi kekeringan ringan.
Daerah kedua yang areal tanaman padinya luas dilanda bencana kekeringan adalah Aceh Utara seluas 537 hektare, tersebar di sembilan Kecamatan yaitu Baktiya Barat 262 ha, Buloh Blang Ara 53 ha, Lhoksukon 50 ha, Sawang 40 ha, Dewantara 35 ha, Samudera 30 ha, Geurudong Pase 30 ha, Baktiya 25 ha, Meurah Mulia 12 ha.
Selanjutnya Kabupaten Bireuen, baru ada satu kecamatan, yaitu Peusangan seluas 51 ha, Aceh Timur, juga baru di Peureulak seluas 25 ha. Aceh Tenggara baru di Kecematan Bukit Tusam seluas 3 ha, Aceh Jaya di Kecamatan Panga seluas 3 ha dan Sabang, di Kecamatan Sukakarya seluas 4 ha, dua hektar diantaranya sudah puso dan sisanya kekeringan berat.
“Untuk menangani kekeringan itu, akan dilakukan pompanisasi yang akan dilakukan pemerintah dan dinas pertanian setempat, Distanbun Aceh, UPTD BPTPHP serta UPTD Alsintani,” terang Zulfadli. umumnya bibit yang ditanam adalah bibit padi tahan hama dan kekeringan. Seperti inpari, ciherang, galur, mikonga dan lainnya. Tapi karena kondisi kekeringan yang terjadi cukup berat, ada juga tanaman padi yang sudah puso atau gagal panen, seperti yang terjadi di areal persawahan Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar.
Ketua Komisi II DPRA, Irpanusir mengatakan, petani yang masuk asuransi dan tanamannya mengalami puso, akan dibayar pihak asuransi dalam bentuk uang sebesar Rp 6 juta/hektare. Sementara pembayaran premi asuransinya pada awal tanam padi hanya berkisar Rp 180.000/hektar.
Kabid Penyuluhan Distanbun Aceh, Mukhlis, terkait pelaksanaan asuransi tadi mengatakan, pada tahun anggaran 2021 ini, Pemerintah Aceh melalui Distanbun Aceh, ada mengalokasikan asuransi tani untuk lahan sawah seluas 5.000 hektare. Dari kuota yang disediakan itu, baru terpakai 1.000-an hektare.(her)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/lahan-sawah-yang-kering-akibat-kemarau-di-kawasan-kecamatan-kuta-cot-glie-aceh-besar.jpg)