Rabu, 8 April 2026

Berita Luar Negeri

Dua Pendemo AntiKudeta Militer Tewas Ditembak Polisi Myanmar

Setidaknya dua orang tewas dalam tembakan polisi di Myanmar semalam. Mereka tewas merupakan akrivis pro demokrasi yang anti kudeta militer

Editor: Muhammad Hadi
AFP/STR
Para demonstrasn bereaksi saat gas air mata ditembakkan oleh polisi anti huru hara selama demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, Senin (8/3/2021) 

SERAMBINEWS.COM - Setidaknya dua orang tewas dalam tembakan polisi di Myanmar semalam.

Media domestik melaporkan, ketika para aktivis menyerukan lebih banyak protes anti-kudeta pada peringatan kematian seorang siswa yang pembunuhannya pada tahun 1988 memicu pemberontakan melawan pemerintah.

Seruan protes hari Sabtu datang ketika para pemimpin Amerika Serikat, India, Australia dan Jepang berjanji untuk bekerja sama untuk memulihkan demokrasi di Myanmar di mana kekerasan telah meningkat ketika pihak berwenang menindak protes dan pembangkangan sipil.

 Media domestik melaporkan dua pengunjuk rasa tewas dalam penembakan polisi di distrik Tharketa, ibu kota komersial Myanmar, Yangon, semalam.

DVB News mengatakan polisi menembaki kerumunan yang berada di luar kantor polisi Tharketa menuntut pembebasan orang yang ditangkap.

Baca juga: Harta Karun Bawah Laut Indonesia Sering Dicuri Asing, Begini Kata Jubir Menteri KP

Poster-poster tersebar di media sosial yang menyerukan kepada orang-orang untuk turun ke jalan untuk memprotes junta dan untuk menandai peringatan kematian Phone Maw, yang ditembak dan dibunuh oleh pasukan keamanan pada tahun 1988 di dalam tempat yang kemudian dikenal sebagai Institut Teknologi Rangoon.

Penembakan terhadap siswa lain yang meninggal beberapa minggu kemudian memicu protes luas terhadap pemerintah militer yang dikenal sebagai kampanye 8-8-88, karena mencapai puncaknya pada bulan Agustus tahun itu. Diperkirakan 3.000 orang tewas ketika tentara menumpas pemberontakan.

Baca juga: Harga Emas Turun, Berikut Daftar Lengkap Harga Emas Hari Ini Sabtu 13 Maret 2021

Aung San Suu Kyi muncul sebagai ikon demokrasi selama gerakan dan ditahan di rumah selama hampir dua dekade.

Dia dibebaskan pada 2008 ketika militer memulai reformasi demokrasi dan Liga Nasional untuk Demokrasi miliknya memenangkan pemilu pada 2015 dan sekali lagi pada November tahun lalu.

Pada 1 Februari tahun ini, para jenderal menggulingkan pemerintahannya dan menahan Suu Kyi dan banyak rekan kabinetnya, mengklaim penipuan dalam pemilihan November.

Lebih dari 70 orang telah tewas dalam protes yang meluas sejak itu, kata kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Baca juga: Sederet Pebulutangkis Indonesia yang Pernah Menjuarai All England, Berawal dari Tan Joe Hok di 1959

Kudeta di Myanmar, di mana militer memiliki hubungan dekat dengan China, adalah ujian awal utama bagi Presiden baru AS Joe Biden.

Pemerintahannya menandai pertemuan virtual dengan para pemimpin India, Jepang dan Australia pada hari Jumat, pertemuan puncak resmi pertama dari kelompok yang dikenal sebagai Quad, sebagai bagian dari dorongan untuk menunjukkan komitmen AS yang diperbarui terhadap keamanan regional.

"Sebagai pendukung lama Myanmar dan rakyatnya, kami menekankan kebutuhan mendesak untuk memulihkan demokrasi dan prioritas penguatan ketahanan demokrasi," kata keempat pemimpin itu dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh Gedung Putih.

Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan telepon dari Reuters untuk meminta komentar.(*)

Baca juga: Gunung Emas di Kongo, Ternyata Berton-ton Logam Mulia tak Dilaporkan Hingga Diselundupkan

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Lagi, protes anti kudeta di Myanmar menewaskan dua aktivis pro demokrasi

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved