Breaking News:

Polda Tahan Dua Owner Yalsa Boutique, Dana yang Dihimpun Capai Rp 164 M

Kasus Yalsa Boutique yang diduga melakukan investasi bodong terus berlanjut dan hingga kini masih ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus

Editor: bakri
For Serambinews.com
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy. 

BANDA ACEH - Kasus Yalsa Boutique yang diduga melakukan investasi bodong terus berlanjut dan hingga kini masih ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Aceh. Jumat (19/3/2021), Polda Aceh mengabarkan telah menahan dua orang terkait kasus tersebut.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy melalui Kasubdit 2 Perbankan AKBP Erwan SH MH, menyebutkan, penahanan tersebut dilakukan berdasarkan hasil penyidikan Ditreskrimsus Polda Aceh tentang adanya dugaan tindak pidana perbankan.

Dikatakan AKBP Erwan, kedua tersangka yang ditahan tersebut berinisial S (30) dan SHA (31). Keduanya merupakan Owner di Yalsa Boutique.

"Sudah ada lebih dua alat bukti dan saksi terhadap dugaan tindak pidana perbankan yang dilakukan oleh kedua tersangka. Ditambah lagi dengan keterangan saksi ahli dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan Perbankan, sehingga sudah melebihi dua alat bukti berdasarkan pasal 184 KUHAP," sebut Erwan.

Erwan juga menambahkan, dari hasil penggeladahan juga turut diamankan uang tunai sejumlah Rp 46.060.000, laptop, sejumlah emas dengan berbagai bentuk, surat pembelian emas sebanyak 87 lembar, pedang samurai, pisau lipat, kartu ATM, buku rekening, printer, jam tangan dan barang bukti lainnya.

"Kami sudah menyita sejumlah uang, emas dan barang lainnya yang patut diduga merupakan hasil dari investasi bodong yang dilakukan tersangka. Polda Aceh masih terus melakukan asset tracing untuk kasus TPPU-nya (tinda pidana pencucian uang)," ucapnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kasus Yalsa Boutique ini bermula karena adanya laporan masyarakat dengan nomor laporan model A, tertanggal 11 Februari 2021. Kasus itu dilaporkan oleh member butik itu sendiri yang belakangan merasa tertipu karena telah menyetor uang sebagai investasi dengan perjanjian mendapatkan keuntungan dari penjualan busana oleh Yalsa Boutique.

Yalsa Boutique menggunakan sistem rekrut member dalam meraup untung. Mereka menghimpun dana dari masyarakat dengan menjanjikan keuntungan penjualan baju dari sekitar 30 sampai 50 persen setiap penjualan. Alih-alih medapatkan keuntungan, para member justru harus gigit jari karena uang yang telah disetor tak juga dikembalikan.

Dana yang sudah diinvestasi baru bisa dicairkan setelah 6 bulan. Tetapi karena kondisi perusahaan yang sudah mulai krodit, dana investasi member itu tidak boleh diambil lagi atau hangus, meski telah sampai pada jangka waktu yang telah ditentukan. Hal ini lah yang kemudian menyebabkan kasus ini mencuat.

Capai Rp 164 miliar

Sementara itu, total dana yang berhasil dihimpun Yalsa Botique dari masyarakat disebutkan Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy, mencapai 164 miliar dari 202 reseler dan sekitar 17.800 member.

Penghimpunan uang dari masyarakat tersebut dilakukan Yalsa Boutique tanpa memiliki izin usaha dari Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak bulan Desember 2019 sampai bulan dengan Februari 2021. "Adapun pasal yang disangkakan adalah Pasal 46 ayat (1) Undang- Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan atau pasal 2 ayat (1) huruf g, pasal 3 dan pasal 5 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)," pungkas Erwan.(dan)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved