Breaking News:

Wawancara Eksklusif

‘Pernyataan Petinggi ISIS Jadi Pemantik Lone Wolf’

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan pernyataan para petinggi ISIS memantik kelompok radikal di Indonesia

FOR SERAMBINEWS.COM
Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid, Direktur Pencegahan BNPT 

* (Bagian I)

BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan pernyataan para petinggi ISIS memantik kelompok radikal di Indonesia untuk melakukan lone wolf. Lone wolf adalah sebutan bagi mereka yang melakukan aksi teror seorang diri.

"Ada statement dari petinggi ISIS Bahrun Syah dan Bahrun Naim, begitu di Suriah, Irak, dibombardir sama pemerintahan maupun pasukan multinasional," ujar Ahmad saat berbincang bersama Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network Domuara D Ambarita, Jumat (2/4/2021).

Aksi ‘lone wolf’ itu merupakan inisiatif pribadi atau tidak didesain oleh kelompok tertentu. Di tengah melemahnya kelompok ekstrem di Indonesia, lone-wolf’ ini menjadi ancaman baru. Aksi lone wolf menjadi lebih sulit dicegah karena perencanaannya bukan berdasarkan kelompok atau jaringan. Berikut petikan wawancara eksklusif bersama Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid:

Dalam tiga hari dua kali serangan terorisme di Indonesia. Keduanya melibatkan perempuan. Segawat apa terorisme di Indonesia saat ini?

Kalau kita membaca terorisme, maka kita juga harus membaca radikalisme. Karena radikalisme itu paham yang merupakan fase menuju terorisme. Paham yang menjiwai aksi terorisme. Jadi terorisme itu tindakannya, aksinya, perbuatannya. Radikalisme itu pahamnya. Semua teroris pasti berpaham radikal. Tapi belum tentu seseorang yang berpaham radikal otomatis melakukan aksi terorisme.

Indonesia dalam konteks saat ini telah memiliki Undang-undang nomor 5 Tahun 2018 yang merupakan revisi dari Undang-undang nomor 15 tahun 2003 yang sebelumnya juga pembaruan dari Perpu nomor 1 tahun 2002 tentang terorisme. Undang-undang ini meskipun bagus, karena memungkinkan Densus 88 antiteror untuk melakukan preventif strike, tindakan untuk mencegah, namun belum mampu menjangkau aspek paham atau ideologinya.

Jadi kalau yang kejadian kemarin, ya orang sering bertanya apakah ini kecolongan atau kelalaian dan lain sebagainya. Kalau saya ingin mencoba mengatakan secara obyektif, yang pertama tidak ada kesempurnaan dalam hidup ini. Yang kedua katakanlah ada semacam, kalau penegak hukum atau densus, BNPT, TNI-Polri, berhasil mencegah dari 1000 kemungkinan berhasil dicegah 999. Satu atau dua kejadian itu juga akan digeneralisir dan itu tidak bijak juga. Orang ujian soalnya 100 salahnya 1 atau 2 kan tidak bijak kalau tidak lulus. Kami siap dikritik. Karena memang bagi kami dipuji tidak akan terbang, dicaci, dihina, tidak akan tumbang. Karena niatan kami mengabdi untuk masyarakat dan negara.

Di level mana saat ini? Siaga atau waspada terkait terorisme di Indonesia?

Saya akan jelaskan dulu bahwa radikalisme dan terorisme bukan monopoli satu agama. Tapi ada di setiap agama, sekte, kelompok, bahkan potensial di setiap individu manusia. Tapi yang jelas ada hasil riset atau survei dari LIPI, kalau tidak salah sekitar 2017-2018 yang menyebutkan bahwa sekitar 4% atau 10 juta penduduk Indonesia siap berjihad untuk ISIS.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved