Selasa, 2 Juni 2026

Konservasi Penyu

Jalan Menuju Kawasan Konservasi Penyu Berlumpur dan Bau Busuk

Akibatnya, para pengendara khususnya yang menggunakan kendaraan roda dua harus ekstra berhati-hati saat melewati jalan tersebut.

Tayang:
Penulis: Riski Bintang | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/RISKI BINTANG
Kondisi jalan menuju lokasi konservasi Penyu Aron Meubanja, Aceh Jaya, Minggu (4/4/2021). 

Laporan Riski Bintang I Aceh Jaya

SERAMBINEWS.COM, CALANG - Jalan menuju lokasi konservasi penyu Aron Meubanja, di kawasan Desa Keude Panga, Kecamatan Panga, Aceh Jaya mengalami kerusakan parah.

Informasi yang diperoleh Serambinews.com, Minggu (4/4/2021) akses menuju lokasi konservasi penyu satu-satunya di Aceh Jaya tersebut dibangun pada tahun 2019 menggunakan dana APBK.

Pengunjung mengatakan kerusakan jalan tersebut sangat menganggu akses wisatawan dan para pengunjung yang hendak ke lokasi tersebut.

“Kerusakan itu paling parah di salah satu titik, dimana hampir sepanjang jalan tersebut digenangi air dan lumpur,” tandasnya.

Akibatnya, para pengendara khususnya yang menggunakan kendaraan roda dua harus ekstra berhati-hati saat melewati jalan tersebut.

Tidak hanya itu saja, sepanjang jalan yang rusak itu juga menimbulkan bau yang menyegat dan tidak sedap.

“Kalau engga hati-hati bisa-bisa berlumpur kita, dan juga bau seperti kotoran kerbau sangat menyengat, sangat mengganggu memang,” tandasnya.

Jaga Kamtibmas di Bener Meriah, Polisi & Brimob Patroli Bersama, Sasar Tempat Keramaian dan Wisata 

Petamburan Trending, Ternyata Kritik Pernikahan Atta-Aurel, Ferdinand Hutahaean: Banyak Tak Paham

Sementara itu, pengelola Konservasi Penyu Aron Meubanja, Aceh Jaya, Dedi Penyu mengatakan jalan tersebut dibangun baru sekitar dua tahun lalu.

Namun kondisi genangan itu terjadi lataran bahu jalan lebih tinggi dibandingkan dengan badan jalan yang berkonstruksi kerikil.

“Jalan baru dibangun beberapa tahun lalu menggunakan APBK, hanya genangan terjadi karena bahu lebih tinggi dari pada badan jalan, dan pada bahu jalan juga engga ada saluran pembuangan air sehingga mengedap di badan jalan,” pungkasnya.

"Jalan itu tida hanya digunakan untuk menuju lokasi konservasi penyu, tapi juga digunakan oleh masyarakat untuk menuju ke kandang hewan ternaknya, dan lokasi memancing dan melaut," tambahnya.

Dedi menambahkan, jika dengan kondisi jalan seperti itu, animo masyarakat khususnya wisatawan yang ingin belajar dan tahu tentang mamalia laut tetap tinggi.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved