Kamis, 4 Juni 2026

Internasional

Mantan Laksamana Turki Ditangkap, Ingin Geser Kebijakan Luar Negeri, Beralih ke China dan Rusia

Gelombang penangkapan terbaru Turki yang menargetkan mantan laksamana yang menandatangani deklarasi kritis pada malam hari memicu perdebatan sengit.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP
Kapal Angkatan Laut Turki, dalam foto file 2017 ini, berlabuh di pangkalan pelabuhan di selat Bosporus, pinggiran Istanbul, dekat Laut Hitam. 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Gelombang penangkapan terbaru Turki yang menargetkan mantan laksamana yang menandatangani deklarasi kritis pada malam hari memicu perdebatan sengit.

Apakah tindakan keras itu, hasil dari pergeseran Eurasianis negara itu.

Pada Senin (5/4/2021), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh 104 mantan komandan angkatan laut mencoba melakukan kudeta politik.

Melalui surat terbuka yang mengkritik jalur air buatan pemerintah sepanjang 45 kilometer, yang dijuluki Kanal Istanbul.

Dampak langsungnya pada Montreux 1936 Konvensi yang mengatur lalu lintas kapal perang di selat Istanbul.

Di antara para penandatangan, nama yang paling terkenal adalah Cem Gurdeniz, dalang dari doktrin maritim maksimalis kontroversial Turki, yang dikenal sebagai Blue Homeland.

Gurdeniz, yang telah ditahan polisi sejak Senin (5/4/2021) merupakan anggota terkenal dari faksi Eurasianist terkemuka dalam militer Turki.

Kelompok tersebut menganjurkan strategi anti-Barat, dan hubungan yang lebih kuat dengan Rusia dan China.

Baca juga: Arab Saudi dan Bahrain Perkuat Kerjasama, Targetkan Kurangi Campur Tangan Iran dan Turki di Teluk

Dr. Berk Esen, seorang ilmuwan politik dari Universitas Sabanci di Istanbul, mengatakan pernyataan para laksamana itu muncul pada saat yang kritis.

Dilansir AraNews, Rabu (7/4/2021), pemerintahan Erdogan sedang mengkalibrasi ulang posisinya di arena internasional.

"Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Turki telah mengupayakan hubungan yang lebih dekat dengan rezim otoriter seperti Rusia dan Qatar," katanya.

"Hal itu untuk menarik dukungan bagi langkah-langkah revisionisnya di kawasan yang lebih luas," tambahnya.

Menanggapi kritik Barat terhadap politik Turki yang tidak demokratis, Esen mengatakan beberapa pejabat Turki telah mengumpulkan dukungan dari pensiunan perwira dan analis dari faksi Eurasia.

Selama beberapa tahun, gerakan Eurasianist telah mendorong kepemimpinan Turki menuju pemulihan hubungan dengan Rusia dan China.

Telah dikabarkan faksi tersebut telah memperoleh pengaruh signifikan dalam pemerintahan, membiarkannya membentuk arah kebijakan luar negeri dan keamanan Turki.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved