Opini
Menjadikan Puasa Ujian Peningkatan Kualitas Diri
Haruman bulan puasa (Ramadhan) sudah semerbak, ada aroma kurma, aroma bumbu kanji, aroma meugang, pengajian-pengajian bertema menyambut puasa
Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc
Dosen Prodi Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala
Haruman bulan puasa (Ramadhan) sudah semerbak, ada aroma kurma, aroma bumbu kanji, aroma meugang, pengajian-pengajian bertema menyambut puasa, dan lain sebagainya. Ya, sebentar lagi kita akan memasuki bulan mulia ini. Kita pasti merindukan aktivitas seperti tarawih berjamaah, tadarrusan, buka puasa, dan makan sahur sebelum fajar menyingsing.
Secara rutin, setahun sekali Ramadhan pasti singgah ke rumah-rumah kita. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa diri, keluarga, dan masyarakat secara umum terjebak dalam arus dekadensi spiritual dengan berbagai latar belakang. Sebagian kita memahami agama secara salah makna (distorsi), terprovokasi oleh berbagai muatan online yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagian yang lain tertinggal dalam kebodohan karena kurangnya kesempatan memeroleh pendidikan formal maupun informal yang diperparah dengan rendahnya budaya membaca. Dapat dikatakan bahwa masyarakat kita masih berada dalam kesalahan dan kebodohan beragama yang dicirikan dengan peningkatan jumlah kemiskinan, pengangguran, pengemis, kejahatan, praktek asusila, praktek korupsi, kasus narkoba, miras, lingkungan hidup yang rusak, sampah dimana-mana, dan lain sebagainya.
Jadi pertanyaannya adalah bagaimana caranya supaya setelah Ramadhan tahun ini terjadi peningkatan kualitas kehidupan. Ada beberapa langkah persiapan yang dapat dilakukan, pertama adalah dengan menetapkan niat untuk memperbaiki diri kita dalam latihan berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini.
Definisi puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Perlu kita pahami bahwa puasa bukan semata menahan lapar dahaga, namun harus dibarengi dengan menahan diri dari emosi, akhlak buruk (mazmumah), dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, langkah kedua adalah membekali diri kita dengan ilmu terkait ibadah puasa, supaya ibadah puasa yang kita laksanakan sempurna dan diterima oleh Allah Swt. Pembekalan ini dapat diperoleh dengan mengikuti pengajian, membaca atau berdiskusi dengan teman-teman.
Langkah ketiga adalah melakukan latihan puasa sebagai latihan fisik dengan mengamalkan puasa sunnah seperti puasa hari senin dan kamis, puasa nabi Daud, puasa ayyamulbidh, dan puasa selama bulan Syakban. Latihan puasa ini bertujuan agar tubuh kita kuat menjalankan puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan nanti.
Langkah inti yang harus dilakukan adalah menjadikan bulan Ramadhan sebagai sebuah ujian. Ujian adalah proses menguji kemampuan, kepandaian, ketangguhan, dan sebagainya yang menjadi syarat mendapatkan suatu penghargaan. Biasanya kita akan mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum ujian tiba, dan di hari ujian kita akan mengerahkan kemampuan maksimal untuk membuktikan bahwa kita layak (capable).
Kita pasti akan berkonsentrasi penuh dan fokus dalam menghadapi ujian. Seseorang akan diberikan penghargaan seperti predikat juara, hadiah, atau kenaikan tingkat apabila bisa menyelesaikan ujian atau dinyatakan lulus.
Oleh karena itu kita perlu menetapkan Ramadhan kali ini sebagai ujian besar untuk reformasi kehidupan kita. Bagaimana kita menguji diri selama bulan Ramadhan? Kita melaksanakan puasa di siang hari, berhati-hati dalam setiap tindakan agar tidak membatalkan puasa, melakukan ibadah shalat tarawih di malam hari, melaksanakan tadarrus al-Quran dalam paket tahsin, tadabbur, maupun tahfiz, serta ditambah lagi dengan banyak bersedekah.
Semua kita lakukan dengan usaha sungguh-sungguh agar mencapai hasil yang terbaik. Perlu adanya penetapan target capaian, misalnya puasa 30 hari penuh, tarawih setiap malamnya, 1x khatam Alquran, sedekah rutin harian sebesar Rp 50.000, dan seterusnya.
Dalam masa ujian atau karantina ini, kita harus memaksa diri untuk mencapai target tersebut sehingga melahirkan model kehidupan yang konsisten. Kesempatan mengaplikasikan semua itu selama 1 bulan penuh adalah sebuah peluang untuk melahirkan keistiqamahan dalam perbuatan baik.
Tentu hadirnya Ramadhan tidak meliburkan kita dari pekerjaan rutinitas sesuai profesi kita. Ada yang berprofesi sebagai pejabat publik, guru, dosen, pedagang, pegawai, peternak, nelayan, buruh, dan lain sebagainya. Oleh karena itu perlu strategi khusus agar kinerja kita selama berpuasa tidak terganggu.
Semestinya kita dapat mendesain agar apapun profesi dilaksanakan dalam bingkai syariat Islam dengan lebih memerhatikan kedisiplinan waktu, kualitas, kehalalan, kebersihan, ketepatan takaran, tidak merusak lingkungan, dan lain sebagainya. Setiap kita adalah pemimpin untuk diri yang harus mengawal nafsu dan anggota tubuh untuk tidak keluar dari kerangka menyembah dan taqwa kepada Allah.
Seorang pejabat publik tidak terjebak dengan rutinitas, mengalokasikan waktu untuk mengawasi lapangan, membuat program-program yang bermanfaat, antikorupsi, tidak banyak makan, memastikan tidak ada pencemaran lingkungan, dan seterusnya.
Seorang dosen perlu memastikan diri untuk mengajar sesuai jadwal yang diberikan, menghindari pembatalan kegiatan akademik pada hari H, mempersiapkan materi ajar yang berkualitas, melaksanakan project penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan amanah dan seterusnya.
Seorang pedagang perlu memastikan barang yang dijualnya adalah halal, masih baik kualitasnya atau tidak kadaluarsa, tidak mencampur antara produk yang kurang bagus dengan yang masih bagus, menggunakan timbangan yang benar (di-tera secara regular), serta tidak mengambil keuntungan secara tidak wajar.
Sementara untuk setiap anggota masyarakat dapat memulai dari diri masing-masing melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, melakukan pemisahan sampah organik dan non organik, tidak melanggar aturan lalu lintas, tidak melakukan belanja berlebihan menjelang meugang dan hari raya, memastikan untuk hanya berbelanja produk-produk halal, tidak antri di produk subsidi seperti gas dan beras kalau tidak tergolong miskin, tidak meninggalkan toilet dalam keadaan kotor setelah pemakaian, dan seterusnya.
Perlu integrasi nilai-nilai Islam dalam berkehidupan sehingga segala sesuatu yang kita lakukan menjadi amal ibadah. Kesalahan kita selama ini adalah menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk fokus beribadah mahzah, yaitu melaksanakan ibadah dalam hubungan kita dengan Allah SWT (hablumminallah), dengan mengesampingkan hablumminannas.
Padahal seharusnya bukan demikian, Islam sebagai rahmatan lil alamin adalah konsep dasar untuk membentuk generasi yang paripurna, dengan kemampuan iman, taqwa, dan ilmu pengetahuan yang tinggi sehingga dapat melaksanakan kehidupan ini dalam kebajikan dan anti perusakan.
Semoga setelah Ramadhan nanti kita bisa lebih baik lagi, angka kejahatan dapat diturunkan, lingkungan dapat lebih bersih, tidak ada lagi tempat pembuangan sampah liar di pinggir-pingir jalan atau sungai, dan toilet-toilet umum dalam keadaan bersih terutama
yang berada di masjid atau langgar. Kita harus menuju manusia parpurna karena Islam adalah agama sempurna.