Sabtu, 6 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Ritual Mandi Meugang di Aceh Tenggara

Kedatangan Ramadhan umumnya disambut dengan beragam sukacita, termasuk oleh masyarakat Aceh, terbukti dengan adanya istilah ‘meugang’

Tayang:
Editor: bakri
IST
MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane 

OLEH MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Kutacane

Tanpa terasa, Ramadhan kembali menyapa umat muslim di dunia. Kedatangan Ramadhan umumnya disambut dengan beragam sukacita, termasuk oleh masyarakat Aceh, terbukti dengan adanya istilah ‘meugang’ sebagai pertanda menyambut hari esok yang dianggap monumental.

Setiap daerah memiliki cara tersendiri menyambut bulan yang penuh ampunan ini, tak terkecuali di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), daerah yang dikenal dengan slogan ‘Sepakat Segenep.’

Agara memiliki kearifan lokal yang unik dalam menyambut bulan Ramadhan, yaitu ritual mandi meugang di Lawe Alas (Sungai Alas) pada sore hari. Ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak dulu hingga sekarang. Ritual mandi meugang di Lawe Alas dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari orang tua sampai yang muda, dari orang kaya hingga rakyat biasa. Semuanya senang tanpa ada sentimen pribadi atau golongan.

Bagi masyarakat Agara, ritual mandi meugang memberikan kebahagiaan tersendiri dan memiliki makna yang mendalam. Salah satu filosofi yang terkandung dalam mandi meugang adalah membersihkan serta menyucikan diri dari berbagai hawa nafsu yang dapat menghambat pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan nantinya.

Masyarakat Agara yakin bahwa dengan mandi di sungai, airnya yang mengalir dapat menghanyutkan hawa nafsu yang melekat di tubuh. Dengan begitu, setiap individu akan merasa lebih kuat dalam menunaikan ibadah puasa. Selain itu, di era kontemporer sekarang tidak sedikit yang menganggap mandi meugang adalah praktik adat yang bertujuan menyucikan tubuh dari berbagai hadas kecil atau besar sehingga lebih siap menghadapi bulan yang penuh kemuliaan ini.

Berbicara soal aktivitas mandi meugang itu sendiri, biasanya masyarakat Agara sudah berdatangan dan berkumpul di sepanjang tepi sungai Lawe Alas sejak pukul 15.00 WIB hingga menjelang magrib. Sebelum prosesi mandi, perlengkapan seperti sabun, odol, dan sikat gigi tidak lupa dibawa dan tidak lengkap rasanya kalau tidak membawa “limo mungkukh” (jeruk purut). Limo mungkukh yang dibawa pun bukan bahan mentah, melainkan sudah dibakar terlebih dulu. Hal ini bertujuan agar harumnya lebih dominan dan tahan lama.

Selain itu, mandi dengan jeruk purut dipercaya masyarakat dapat menjadikan tubuh lebih segar dan energik saat shalat Tarawih untuk pertama kalinya.

Masa kecil

Sewaktu kecil, saya dan teman-teman memiliki cara tersendiri menikmati mandi meugang di sungai. Hal yang masih teringat dan masih terkenang sampai sekarang adalah ketika saya dan teman-teman langi (berenang) menggunakan ban dalam dan pohon pisang. Begitu antusiasnya, kami rela berjalan kaki berkilo-kilometer hanya untuk mengarungi Sungai Alas di hari meugang.

Ketika melintasi aliran sungai, terlihat orang-orang sudah memadati sungai untuk melakukan mandi meugang bersama. Mereka pun memiliki bermacam-macam aktivitas, ada yang main bola kaki, ada yang piknik dengan membawa bekal makanan, ada juga yang berdua-duaan bahkan menyendiri di tepian sungai. Walaupun mandi di sungai merupakan salah satu rutinitas yang saya lakukan setiap harinya--baik mandi pagi maupun mandi pada sore harinya–tapi saat meugang, hal rutin tersebut terasa berbeda dan istimewa. Mungkin karena menyambut Ramadhan yang sudah di ambang mata atau lantaran keramaian yang memancarkan sejuta kebahagiaan.

Sebenarnya tradisi meugang memang telah dilakukan sejak Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh. Pada masa itu, sebagai bentuk rasa bahagia sultan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, ia menyembelih beberapa ekor kerbau atau sapi. Daging sembelihan itu kemudian dibagi-bagikan kepada rakyatnya secara merata. Kebiasaan ini berjalan turun-temurun hingga saat ini. Maka jangan heran, jika saat meugang di Aceh daging sapi dan kerbau akan diburu di pasaran.

Di balik semua itu, tradisi meugang bukan hanya sekadar melestarikan adat istiadat dan budaya secara turun-menurun. Jauh dari itu, tradisi meugang merupakan satu bentuk kebahagiaan bagi semua orang saat menyambut datangnya Ramadhan. Tidak hanya itu, meugang dianggap begitu sakral karena para perantau biasanya akan pulang ke kampung masing-masing. Semuanya tidak ingin meninggalkan momen indah untuk sahur dan berbuka bersama di awal Ramadhan. Inilah alasan paling kuat, mengapa perlu adanya masakan enak di hari meugang.

Menyikapi meugang yang penuh kisah dan sejarah, harus disikapi dengan pikiran positif dan penuh kesadaran, khususnya bagi kalangan milenial. Jangan sampai tradisi meugang dijadikan sebagai ajang gengsi ataupun unjuk kekayaan kepada mertua, tetangga, ataupun lingkungan sekitar karena mampu membeli daging ternak dalam jumlah banyak.

Jangan sampai tradisi meugang dijadikan momen bermaksiat bagi muda-mudi Aceh, terutama ‘belagakh bujang’ di Agara. Mandi meugang misalnya, jangan sampai dijadikan alasan untuk membolehkan berdua-duaan antara nonmahram dalam satu perahu atau pun satu ban (pelampung).

Kenyataan hari ini, sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Agara, terdapat oknum-oknum ‘belagakh bujang’ yang tak bertanggung jawab melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat saat perayaan ritual mandi meugang di sungai. Hal yang paling intens dijumpai adalah muda-mudi berpakaian ketat sehingga menampilkan lekuk-lekuk auratnya. Selain itu, ada pula oknum perempuan yang tak memakai jilbab di tempat umum. Fenomena ini seharusnya tak terjadi di Aceh, sebab perilaku tersebut bisa mengundang dosa bahkan bisa membahayakan diri sendiri.

Lebih parahnya lagi, beberapa kasus tak sedap bisa terjadi pada ritual meugang. Di antaranya seperti berbuat khalwat, ikhtilath, bahkan berzina di semak-semak karena peluang melakukan kemaksiatan itu pun masih terbuka. Padahal, perbuatan dosa yang disebutkan tadi tentu saja sangat memalukan bagi diri sendiri dan orang tua. Oleh karenanya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sudah selayaknya pemerintah daerah melalui Satpol PP dan WH Agara, instansi terkait seperti Majelis Permusyawatan Ulama (MPU), Dinas Syariat Islam, Kementerian Agama Agara, ikut andil dalam mengawasi maupun mencegah pelanggaran syariat Islam di hari meugang.

Selain itu, dibutuhkan pula kepekaan orang tua terhadap gerak-gerik anaknya. Tentu saja pengawasan saja tidak cukup, orang tua juga perlu memberikan pemahaman ataupun mengajarkan ilmu agama kepada anak-anaknya agar tidak melakukan perbuatan tercela. Temuan di lapangan, seringkali tindakan maksiat mandi meugang digandrungi oleh oknum remaja dan muda-mudi yang masih belia. Terakhir, marilah kita bentengi diri dan keluarga kita dengan ilmu agama, karena dengan ilmu agama kita bisa memahami bahwa kemaksiatan itu sangat merugikan bagi keluarga terkhus bagi diri sendiri.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved