Ramadhan Mubarak
Melawan Haditsul Ifki
Perkembangan dan pemanfaatan media sosial yang luar biasa dewasa ini ditambah perilaku konsumtif pengguna medsos, akhirnya menyebabkan
Oleh Usamah El-Madny
Perkembangan dan pemanfaatan media sosial yang luar biasa dewasa ini ditambah perilaku konsumtif pengguna medsos, akhirnya menyebabkan berbagai informasi yang tidak sahih atau hoaks begitu mudah tersebar. Dalam hitungan menit sebuah peristiwa sudah sampai ke berbagai penjuru.
Di satu sisi kecepatan distribusi berita melalui medsos menguntungkan. Tapi di sisi lain, bila berita yang beredar cepat itu adalah berita bohong dan provokatif, tentu sangat merugikan sebuah masyarakat.
Dalam literasi kita, berita bohong tersebut disebut hoaks. Wikipedia menyebut hoaks sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya agar mempercayai sesuatu. Padahal, pencipta berita tersebut tahu bahwa berita yang ia berikan adalah berita palsu.
Dalam buku Sirah Nabawiyah yang ditulis Muhammad Sa'id Ramadhan Al- Buthy, hoaks itu disebut dengan haditsul ifki. Berita bohong yang terjadi di masa Rasulullah Saw ini efek kekejiannya luar biasa. Padahal ketika itu belum ada medsos. Informasi hoaks disebar melalui oral presentation.
Haditsul ifki terjadi pada tahun 5 H/626 M. Ketika itu Nabi Saw ditemani Ummul Mukminin Saidatina Aisyah bersama sahabatnya pulang dari Perang Bani Musthaliq. Abdullah bin Ubay--munafikin pertama dalam Islam--memfitnah istri Nabi SAW tersebut teribat serong dalam perjalanan itu. Nabi Saw dibikin repot dengan hoaks tersebut sampai kemudian Allah swt klarifikasi melalui wahyu.
Seiring zaman, haditsul ifki terus berlangsung. Hatta saat ini, medsos adalah ladang subur hoaks. Di Aceh mayoritas medsos yang digunakan masyarakat adalah facebook dan wathsapp group. Melalui dua media inilah haditsul ifki tanpa sengaja atau sengaja ‘diternakkan’.
Yang sengaja ‘menternakkan’ hoaks tidak kita diskusikan di sini karena itu pilihan hidup, Seperti pilihan Abdullah bin Ubay. Yang kita sayangkan adalah saudara kita yang tanpa sengaja menjadi distributor hoaks karena perilaku konsumtif dalam bermedia.
Kita berharap bulan Ramadhan dan segala ibadah yang kita jalankan di bulan ini dapat memotivasi dan menginspirasi kita memerangi hoaks. Kita prihatin di sejumlah whatshap group yang anggotanya orang terpelajar bahkan asatidz, sangat ringan ujung jarinya mendistribusikan konten haditsul ifki tanpa mau sedikit berlelah terlebih dahulu membaca tuntas dan mentabayyun kesahihan berita itu.
Padahal beberapa perbuatan yang dibenci Allah Swt-termasuk di bulan Ramadhan antara lain berdusta (al-kidzb), bertutur kata buruk (al-fakhsy). Pada konteks ini tentu termasuk menyebarkan hoaks di media sosial dan menyebarkan kebencian. Allah juga membenci hambanya yang berkonflik. Jika di antara kita ada yang diajak berkonflik maka dianjurkan untuk secepatnya menghindari, ucapkan saja secara lugas: Inni shaimun, saya sedang berpuasa.
Menyebarkan hoaks di bulan Ramadhan memang tidak membatalkan puasa. Puasa Ramadhan tetap sah. Meskipun demikian untuk apa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sambil melakukan perbuatan yang Allah benci? Maka di bulan Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki perilaku kita dan membuang perilaku buruk kita.
Apa langkah yang harus kita ambil untuk memperbaikinya? Terdapat hadits Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan Ibn Majah, "Dari Hudazaifah, saya pernah mengadu kepada Rasulullah tentang ucapanku yang buruk, beliau bersabda, dimana permohonan ampun kamu kepada Allah sedangkan aku memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali setiap hari?".
Maka jelaslah bahwa Allah membenci perilaku hoaks, baik memproduksi maupun menyebarkannya. Segeralah memohon ampun berulang kali kepada Allah Swt sebagai langkah sikap yang mengiringi setiap perbuatan hoaks yang terlanjur telah dilakukan.
Karena jika tidak diikuti dengan permohonan ampun (istighfar) maka secara otomatis sang pelaku sulit menjauh dari sifat bohong, menggunjing, sumpah serapah, adu domba, konflik dan perdebatan yang tidak ada manfaatnya. Dan semua itu tentu kontra produktif bagi masyarakat kita.
Rasulullah Saw telah mengingatkan kita agar selalu menjaga lisan yang dalam konteks medsos terefentasi melalui ujung jari: "Qul khairan aw liyasmut". Pilihannya hanya dua yaitu bertutur kata yang baik; atau jika tidak bisa maka diamlah. Menshare berita yang baik-baik dan melokalisir berita hoaks.
Selamat berpuasa!
* Penulis adalah Kepala Biro Keistimewaan dan Kesra Setda Aceh. Email: usamahelmadny@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/usamah-el-madny-3.jpg)