Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Menggapai Ramadhan Paripurna

Ramadhan merupakan bulan yang dirindukan oleh seluruh manusia beriman di muka bumi

Editor: bakri

Oleh Adnan, S.Kom.I, M.Pd

Ramadhan merupakan bulan yang dirindukan oleh seluruh manusia beriman di muka bumi. Ia menjadi medium kontemplasi (tafakkur, tadabbur), refleksi (muhasabah), motivasi (ghirah) untuk menggugurkan dosa dan menggapai pahala berlipat ganda. Disiapkan khusus sebagai arena bagi manusia beriman untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dan menggapai ampunan Allah SWT (maghfirah).

Meskipun demikian, banyak orang mengabaikan arena tahunan ini. Sehingga, ketika Ramadhan berlalu dosanya meningkat dan pahalanya tidak bertambah. Inilah yang dikhawatirkan oleh profetik bahwa banyak orang berpuasa tapi tidak memperoleh apapun kecuali hanya lapar dan dahaga saja (HR. Ibnu Majah).

Ramadhan mesti menjadi momentum untuk mengubah dan membentuk diri menjadi pribadi paripurna, yakni pribadi muttaqin, syakirin, dan rasyidin (QS. Al-Baqarah: 183, 185, dan 186). Tiga kepribadian itu dapat diperoleh orang berpuasa dengan mengisi Ramadhan secara paripurna, baik ibadah di siang hari (shiyam) maupun di malam hari (qiyam).

Maka, setiap orang perlu mendesain target ibadah yang ingin dicapai dalam bulan Ramadhan, agar hari-hari di bulan suci ini dapat produktif dalam beribadah, tanpa adanya perilaku sia-sia tanpa makna, semisal boros, menyia-nyiakan waktu, tidur berlebihan, mengumpat dan mencela, serta berbagai perilaku destruktif dan amoral lainnya yang dapat mengurangi pahala puasa.

Target ibadah

Pertama, khataman Alquran. Banyak orang ingin mengkhatamkan Alquran berkali-kali di bulan Ramadhan, tapi hanya sekadar angan-angan semata. Mestinya keinginan ini mampu diwujudkan selama Ramadhan. Caranya menyempatkan diri membaca Alquran satu juz setiap selesai shalat fardhu, sehingga dalam sehari dapat membaca 5 juz dengan jumlah 5 kali shalat fardhu.

Akhirnya, setiap enam hari mampu mengkhatamkan Alquran sekali, dan selama Ramadhan mampu mengkhatamkan Alquran 5 kali. Jika memberatkan, minimal selama Ramadhan mesti mengkhatamkan Alquran sekali. Dimana setiap hari membaca Alquran satu juz. Jika satu juz terdiri atas 10 lembar, maka setiap selesai shalat fardhu 5 waktu hanya diperlukan membaca Alquran dua lembar saja. Agar lebih mudah mencapai target ini, setiap orang perlu memiliki Alquran pribadi supaya mudah menanda dan melanjutkan bacaan sebelumnya.

Para sahabat dan ulama tempo dulu dapat menjadi cerminan dalam mengkhatamkan Alquran. Mereka sangat akrab dengan Alquran, laksana akrabnya kita dengan gadget hari ini. Lebih-lebih di bulan Ramadhan, mereka berlomba-lomba untuk mengkhatamkan Alquran berkali-kali.

Mansur bin Zadzan at-Tabi'i menyebut bahwa, Sayyid Al-Jalil Ibnu Katib Ash-Shufi ra, mampu mengkhatamkan Alquran dalam batas waktu antara Dhuhur dan Ashar, serta Magrib dan Isya, sedangkan dalam bulan Ramadhan ia mampu mengkhatamkan Alquran dua kali antara batas waktu Magrib dan Isya. Bahkan, Utsman bin Affan RA, Tamim ad-Dari, dan Sa'id bin Zubair, mampu mengkhatamkan Alquran dalam satu rakaat shalat (Al-Adzkar: 95).

Kedua, sedekah. Banyak orang tidak memiliki target dalam bersedekah di bulan Ramadhan, sehingga hartanya habis hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif semata. Pengeluaran rumah tangga di bulan Ramadhan meningkat drastis dibanding bulan lain. Maka, setiap orang berpuasa patut mempertanyakan orientasi berpuasa di bulan Ramadhan?

Sehingga puasanya tidak memberikan dampak positif dalam perilaku, termasuk mewabahnya perilaku konsumtif yang berakibat pada boros (mubazir). Padahal, perilaku boros diancam dalam Alquran sebagai perilaku syaitan (Qs. Al-Isra': 27). Idealnya, orang-orang puasa dapat menjauhkan diri dari perilaku buruk ini.

Oleh Sebab itu, jika setiap orang yang berpuasa memiliki target dalam ibadah, dan berusaha untuk menggapai target ibadah tersebut di bulan Ramadhan, maka lahirlah Ramadhan paripurna dalam hidupnya. Yakni sebuah Ramadhan yang mampu mengubah diri menjadi pribadi muttaqin, syakirin, dan rasyidin dengan memproduksi ragam ibadah baik fardhu maupun sunnah dalam bulan Ramadhan, sehingga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik sepanjang hidupnya. Jika tidak, maka Ramadhan akan berlalu tanpa memberi bekas positif pada setiap diri insan yang menunaikan ibadah puasa. Semoga!

* Penulis adalah Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, dan Penulis Buku "Parenting Qurani; Pendekatan Ayat-ayat Alquran. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved