Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Paripurna dengan Ramadhan

rof Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menyebutkan "takwa" berasal dari rumpun kata "wiqayah" yang bermakna sebagai upaya memelihara hubungan baik

Paripurna dengan Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Hasan Basri M. Nur, M.Ag

Oleh Hasan Basri M. Nur, M.Ag

Hakikat ibadah puasa Ramadhan adalah terwujudnya manusia yang bertakwa (QS. Al-Baqarah:183). Prof Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menyebutkan "takwa" berasal dari rumpun kata "wiqayah" yang bermakna sebagai upaya memelihara hubungan baik dengan Allah. Hubungan baik dengan Sang Pencipta akan terwujud manakala manusia sebagai makhluk menjalankan semua perintah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.

Orang yang bertakwa kepada Allah (takwallah) akan senantiasa menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, walaupun secara kasat mata tak terlihat ada yang mengawasinya. Orang yang bertakwa percaya bahwa Allah itu maha melihat, sebagaimana mereka percaya keberadaan CCTV dalam merekam gerak-gerik manusia.

Oleh sebab itu, umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa senantiasa patuh pada rambu-rambu puasa. Rambu utama dalam berpuasa adalah menahan diri dari makan/minum dan segala sesuatu yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Puasa tergolong dalam kelompok ibadah yang bersifat pribadi, dalam artian tidak ada yang dapat melihat apalagi mengawasinya. Orang beriman dengan penuh kesadaran akan berupaya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Mereka tidak akan makan walaupun tak ada yang mengawasinya dan tak ada CCTV. Walaupun sangat haus, mereka tak akan menelan seteguk air saat berkumur-kumur ketika mandi atau berwudhuk.

Melalui ibadah puasa Ramadhan diharapkan akan terwujud manusia paripurna dalam ketakwaan. Alumni "Sekolah Ramadhan" diharapkan mematuhi dan mengamalkan perintah Allah dalam setiap aktivitas hidupnya, dimana pun dan kapan pun. Orang yang sudah mencapai derajat takwa merasa takut melanggar norma-norma Islam, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, baik di masjid maupun di kantor, baik di rumah maupun di pasar, dan seterusnya.

Mari evaluasi diri

Kita dapat menilai derajat ketakwaan alumni "Sekolah Ramadhan" dari perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sosial, manusia memiliki peran yang berbeda-beda. Ada yang memikul amanah sebagai penyelenggara pemerintahan (eksekutif), pembuat regulasi (legislatif), atau pengawal regulasi (yudikatif). Begitu pula di level masyarakat sipil, ada berperan sebagai pedagang, guru, advokat, jurnalis, petani, nelayan, buruh, dan lain-lain.

Idealnya, berbekal kesuksesan menjalankan ibadah puasa, maka proses perencanaan hingga pelaksanaan proyek pada kantor-kantor pemerintah tak ada lagi pejabat yang ‘bermain’ untuk mendapatkan keuntungan pribadi melalui pengaturan pemenangan proyek dan pengaturan fee atau bagi hasil antara pejabat dan kontraktor pelaksana. Para pejabat dan kontraktor yang sudah mencapai derajat takwa sejatinya percaya keberadaan malaikat yang berfungsi sebagai ‘CCTV’ Allah dalam melihat dan mencatat semua gerak gerik mereka.

Dalam konteks Aceh, sejatinya para Pengguna Anggaran (PA) atau Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam pemerintah daerah bekerja keras untuk membuat perencanaan dan penganggaran pembangunan guna mengeluarkan Aceh dari status provinsi termiskin di Sumatera. Gelar Aceh sebagai daerah miskin serta pendidikannya yang berada di zona merah seakan sudah menjadi penyakit kronis yang hanya mampu diurai oleh pejabat yang bertakwa.

Untuk itu, para pejabat yang sudah duduk bertahun-tahun dalam jabatan-jabatan strategis tapi tak mampu membawa kesejahteraan bagi rakyat, ada baiknya mengundurkan diri demi tidak berlanjutnya kesengsaraan umat. Kedudukan mereka sebagai pejabat negara akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhirat kelak. Malaikat sebagai ‘CCTV’ Allah akan membuka semua lembaran kebijakan dan tindakan mereka selama berkuasa. Kita tentu tak berharap jabatan itu akan menjadi beban dan penyesalan bagi mereka di pengadilan akhir.

Demikian juga di kalangan masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang, mereka tidak akan mengurangi timbangan atau menutup-nutupi barang yang busuk. Tukang becak tidak lagi sesuka hati menerobos lampu merah yang membayakan keselamatan orang lain. Guru/dosen tidak membiarkan anak-anak didik menunggu di ruang kelas tanpa kehadiran mereka. Jurnalis tidak menulis dan mempublikasikan berita bohong (hoaks) yang dapat menimbulkan fitnah, dan seterusnya. Semoga!

* Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah da Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: hb_noor@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved