Rabu, 22 April 2026

Berita Banda Aceh

Tanggapi Polemik Kamus Sejarah Indonesia, Illiza: Sangat Kami Sayangkan

"Terkait tidak masuknya nama-nama ulama dan tokoh agama dalam buku Kamus Sejarah Indonesia buatan Kemendikbud, sangat kami sayangkan," kata Illiza...

Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Nurul Hayati
For Serambinews.com
Hj Illiza Sa'duddin Djamal, anggota Komisi X DPR RI. 

"Terkait tidak masuknya nama-nama ulama dan tokoh agama dalam buku Kamus Sejarah Indonesia buatan Kemendikbud, sangat kami sayangkan," kata Illiza kepada Serambinews.com, Rabu (21/4/2021).

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PPP, Illiza Sa’aduddin Djamal mengkritisi penerbitan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dan II yang disusun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Kamus tersebut dinilai memuat banyak kejanggalan di dalamnya, dimana di dalam buku jilid I tidak mencantumkaan keterangan terkait kiprah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari.

Padahal, Hasyim Asy'ari dikenal sebagai pahlawan nasional yang mendorong tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Begitu juga pada jilid II, juga ditemukan tidak ada nama Soekarno dan Mohammad Hattta dalam entry khusus.

Padahal, nama tersebut masuk pada penjelasan di awal kamus.

Sedangkan, nama-nama tokoh yang dinilai tidak jelas kontribusinya dalam proses pembentukan maupun pembangunan bangsa, justru masuk entry khusus untuk diuraikan latar belakang personalnya.

Baca juga: Diplomasi Lagu untuk Pilkada Aceh 2022, Politisi dan Tokoh Aceh Bertemu Mahfud MD

"Terkait tidak masuknya nama-nama ulama dan tokoh agama dalam buku Kamus Sejarah Indonesia buatan Kemendikbud, sangat kami sayangkan," kata Illiza kepada Serambinews.com, Rabu (21/4/2021).

Padahal, sambungnya, sejarah bangsa Indonesia sejak era pra hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak terlepas dari peran besar ulama, santri, dan tokoh agama.

Hal ini sudah menjadi sejarah perjungan Indonesia yang telah ada dalam buku pelajaran untuk rumpun ilmu humaniora (Permendikbud Nomor 124 tahun 2021 tentang Rumpun, Pohon dan Cabang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Pembentukan Lembaga Akreditasi Mandiri).

"Kemampuan dan pemahaman para penulis buku Kamus Sejarah Indonesia tersebut perlu dikritisi. Peneliti historiografi harusnya menuliskan hasil pemahaman dan interpretasi atas fakta-fakta sejarah dalam bentuk analisis naratif deskriptif yang menarik, logis, dan dapat dipertanggunjawabkan dengan bukti-bukti konkrit yang komprehensif," ujar dia.

Baca juga: Fadli Zon Nilai Kemendikbud Disusupi PKI, Sebut Dirjen Kebudayaan Mau Belokan Sejarah

Politikus PPP ini menambahkan, apabila peran ulama, santri, dan tokoh agama kurang dipertegaskan dalam buku Kamus Sejarah Indonesia tersebut dapat mengakibatkan generasi bangsa kehilangan integritasnya, karena mereka tidak mengenal sejarah bangsanya.

"Generasi bangsa yang tidak mengenal sejarah, maka dia tidak akan mengenal dirinya. Tidak ada seorang manusia yang dapat dikatakan menyadari dirinya sendiri, jika dia tidak mengenal para leluhurnya, semangat, pengorbanan, dan prestasi mereka," ungkap mantan wali kota Banda Aceh ini.

"Kita tidak akan mampu membangkitkan semangat kepahlawanan dalam diri generasi muda kita, jika mereka ahistoris terhadap itu semua. Jika hal ini terjadi, maka penguatan pendidikan karakter generasi yang akan datang akan mengalami jalan buntu," lanjutnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved