Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Mengenal Aneka `Menu' Ramadhan

Banyak orang melakukan kegiatan keagamaan di bulan Ramadhan hanya sebatas seremonial biasa tanpa mengetahui makna yang esensial

Mengenal Aneka `Menu' Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA

Oleh Dr. Tgk. H. Sulfanwandi Hasan, MA

Banyak orang melakukan kegiatan keagamaan di bulan Ramadhan hanya sebatas seremonial biasa tanpa mengetahui makna yang esensial di balik perintah Allah SWT dan Rasul-Nya itu. Sebagai contoh, ada anggapan bahwa Ramadhan adalah bulan berpuasa pada siang hari dan shalat Tarawih di malam hari. Itu pun, dilakukan sekadar menyelesaikan kebiasaan Ramadhan saja tanpa meningkatkan kualitasnya dengan bermacam-macam ibadah lain yang sangat tinggi nilai dan pahalanya.

Sehingga, kita tidak heran bila di awal Ramadhan semua masjid, meunasah, atau mushalla penuh sesak karena orang-orang berpacu melakukan ibadah Tarawih. Namun, pada pertengahan hingga akhir Ramadhan, jumlah jamaah terus menurun hingga mencapai angka terendah. Kondisi ini jelas merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Sebab, dalam bulan yang seharusnya menjadi ajang berlomba-lomba mengumpulkan pahala melalui berbagai jenis ibadah, malah sebaliknya menjadi jauh dari prinsip-prinsip pelaksanaan ibadah dengan senang hati dan ikhlas.

Di samping itu, ada juga sekelompok masyarakat yang sangat kaku dalam mempraktikkan ibadah-ibadah Ramadhan. Di sisi lain, mereka tidak melihat bagaimana keadaan orang yang sudah tua atau masih muda beribadah dalam bulan suci ini. Tapi, karena cara mengemas ibadah yang tidak bersemangat membuat mereka bosan dan meninggalkan ibadah tersebut.

Padahal, jika kita merujuk kepada nilai-nilai ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW serta dilanjutkan oleh para sahabat dan bahkan semua ulama, banyak sekali kegiatan atau `menu' yang bisa dilakukan di bulan suci Ramadhan ini.

Menu itu antara lain: Pertama, Shalat Rawatib. "Dua belas rakaat yang ditunaikan seseorang maka sebuah rumah di surga akan dibangunkan untuknya, yakni empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat sebelum Ashar, dua rakaat setelah Magrib, dan dua rakaat sebelum Subuh." (HR. An Nasai)

Kedua, Shalat Tahajjud. “Hendaklah kalian melakukan shalat malam/qiyamullail karena hal tersebut merupakan kebiasaan orang shalih sebelum kalian, karena qiyamullail tersebut sebagai bentuk  pendekatan kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, pelebur kesalahan, dan sebagai penolak sakit dari jasad.” (HR Tirmidzi).

Ketiga, Shalat Dhuha. "Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya akan Aku cukupkan untukmu (rezeki) di sepanjang hari itu." (HR. Ahmad). Keempat, Shalawat Nabi. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab [33] ayat 56).

Kelima, Qiraah dan Khatam Quran. "Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan "alif lam mim" satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf". (HR. Tirmidzi).

Keenam, Tasbih dan Istighfar. “Siapa mengucap Laa Ilaaha Illallah dan memanjangkannya maka dihapus baginya empat ribu dosa dari dosa-dosa besar.” (HR. Anas Bin Maik). “Demi Allah, sesunguhnya aku beristighfar (memohon ampun) kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. al-Bukhari).

Ketujuh, Menyantuni anak yatim/miskin. “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya." (HR. Sahl bin Sa'ad). Kedelapan, Umrah. "Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji." (HR. Bukhari).

Kesembilan, Silaturahmi. “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR Ibnu Majah).

Selain `menu-menu' tersebut, masih banyak ibadah lain yang dapat kita perkuat dalam bulan Ramadhan ini, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan manusia. Seperti, memenuhi hajat hidup orang lain (Qadhaul Hawaijinnas), atau memasukkan bahagia dalam hati orang lain (Idkhalul Surur Fii Qulubinnas), shalat sunat Istikharah, shalat sunat Istirzak, shalat sunat Birrul Walidain, shalat sunat selamat iman, dan shalat sunat Lailatul Qadar. Mudah-mudahan Ramadhan ini lebih baik dari Ramadhan yang sudah kita lalui. Aamiin ya Rabbal `Alamiin.

* Penulis adalah Pimpinan Dayah Raudhatul Qur’an, Tungkop, Aceh Besar, dan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: tgk.sulfanwandi@ar-raniry.ac.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved