Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Ramadhan Membentuk Kedisiplinan

Meskipun tidak setegang tahun lalu, ketika beberapa ibadah yang menuntut hadir massa masih dibatasi dengan ketat, seperti buka puasa bersama

Ramadhan Membentuk Kedisiplinan
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Ir. Herman Fithra, ST., MT, ASEAN.Eng

Oleh Dr. Ir. Herman Fithra, ST., MT, ASEAN.Eng

Ramadhan 1442 Hijriah tahun ini masih diselimuti oleh problem Covid-19. Meskipun tidak setegang tahun lalu, ketika beberapa ibadah yang  menuntut hadir massa masih dibatasi dengan ketat, seperti buka puasa bersama, shalat Tarawih, dan iktikaf, masalah pandemi Covid-19 masih ada di sekitar kita.

Saat ini kita perlu menjalankan ritual yang paling tua dalam sejarah peradaban agama monoteisme ini--sudah berlangsung sejak masa Nabi Ibrahim--dengan penuh disiplin di samping penuh kekhusyukan. Seperti puasa yang menghanguskan dosa, Covid-19 pada sisi lain juga ikut meremukkan dunia pendidikan.

Upaya Menteri Pendidikan memberlakukan sistem pembelajaran daring di era Covid melalui Surat Edaran Kemdikbud Nomo 4 tahun 2020. Sistem pembelajaran daring sejak awal tidak menuntut adanya ketuntasan hasil. Namun, di sisi lain ‘pilihan darurat’ itu dianggap sebagai cara untuk menyelamatkan generasi terdidik, terutama kalangan belia dari pandemi virus yang sangat menghebohkan tersebut.

Memasuki tahun 2021, kasus Covid-19 memang melandai di beberapa negara termasuk Indonesia. Namun, sejumlah negara lain seperti India, Russia, Perancis, Ukraina, dan Polandia kasus kembali meroket. Data Worldometers menyebutkan, kasus kematian akibat Covid-19 sudah tembus tiga juta jiwa dengan pasien terdampak di seluruh dunia mencapai 142 juta jiwa.

Tiongkok sebagai tempat kasus ini muncul pertama sekali di Wuhan pada Desember 2019 dan sempat berada di urutan pertama pada lima bulan pertama kasus muncul, kini sukses turun di urutan 95. Indonesia yang awalnya sempat diremehkan oleh sejumlah menteri tidak akan terdampak, kini malah berada di urutan 18 dunia dengan 1,6 juta kasus.

Apa yang membedakan Tiongkok dengan negara-negara yang kini terdampak besar Covid-19? Jawaban sederhana yang bisa diberikan adalah Tiongkok memberlakukan disiplin tinggi untuk menangani kasus tersebut. Kesadaran untuk menjalankan protokol kesehatan dan pemulihan yang terdampak oleh pemerintah bersinergi dengan ketaatan warga pada pemerintah. Tentu saja bukan ketaatan yang biasa.

Pemerintah Tiongkok menjalankan peraturan tentang penanganan Covid-19 secara komprehensif termasuk melakukan pendekatan represif-militer. Tapi, pilihan itu membuahkan hasil. Kasus Covid-19 di Tiongkok hanya muncul belasan per hari, ketika Indonesia saat ini masih bertengger di angka 2-4 ribuan per hari.

Jika memakai pendekatan keislaman, masyarakat di Tiongkok memiliki ketaatan kepada pemimpin yang paripurna, seperti amar dalam Islam yang termaktub dalam QS An-Nisaa' ayat 59 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah di kalangan kalian. Jika kalian berselisih pada sesuatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, (itu) jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian lebih baik dan lebih bagus akibatnya."

Dalam Islam, ketaatan kepada pemimpin menempati level penting yang disequensikan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul. Islam mengajarkan semangat untuk harmoni, baik untuk urusan teologis-ritualistik dan politik. Syeikhul Islam, Ibn Taimiyah, menafsirkan ayat ini dengan penjelasan bahwa "60 tahun bersama pemimpin yang zalim lebih baik dibandingkan satu malam tanpa pemimpin."

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved