Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Kebijakan AS Terhadap Islam Tergantung Presiden

Imam Besar Islamic Center of New York Amerika Serikat (AS), Imam Shamsi Ali, menceritakan bagaimana presiden-presiden di AS

Kebijakan AS Terhadap Islam Tergantung Presiden
FOR SERAMBINEWS.COM
IMAM SHAMSI ALI, Imam Besar di Islamic Center of New York, AS

* Cerita Imam Shamsi Ali (2-Habis)

Imam Besar Islamic Center of New York Amerika Serikat (AS), Imam Shamsi Ali, menceritakan bagaimana presiden-presiden di AS memiliki kebijakan yang memengaruhi umat Islam yang menetap di sana.

Shamsi mengatakan, masing-masing presiden memiliki gaya yang berbeda. Misalnya, ketika AS dipimpin oleh Donald Trump. Shamsi menjadi satu di antara banyak orang yang bersuara menentang Trump. Hal itu disampaikan Shamsi saat berdiskusi dengan Staf Direksi, Nur Hasanah dan Cecep Burdansyah, serta jajaran redaksi Tribun Network, pada Rabu (21/4/2021).

Berbeda misalnya, ketika AS dipimpin oleh Barrack Obama. Shamsi berujar, Obama jauh lebih bersahabat, lantaran sempat tinggal di Indonesia. Apalagi, ayah Obama merupakan seorang muslim asal Kenya. Berikut lanjutan (Bagian 2-Habis) petikan wawancara Tribun Network bersama Imam Shamsi Ali:

Setiap kepala pemerintahan tantangannya berbeda, apa perbedaannya?

Jadi masing-masing punya gaya. Walau Amerika itu adalah institusi yang sangat kuat, sehingga tidak bisa ditentukan orang per orang. Pengaruh orang per orang tidak terlalu besar. Beda dengan Indonesia wajahnya ditentukan oleh bosnya. Artinya, misalnya bos politik. Kalau antar bos politik tersenyum, ya tersenyum negara kita. Tapi, kalau antar bos politik tidak mau salaman, ya tidak mau salaman rakyat kita.

Amerika tidak begitu. Institusi. Siapa presiden tidak terlalu berdampak ke bawah. Mohon maaf, misalnya Trump yang rasis, anti-Islam, tapi justru kita biasa-biasa saja. Saya orang paling terbuka bersuara menentang Donald Trump. Dan sering kali mengkritik. Sampai-sampai perwakilan Amerika di Jakarta, selama Trump tidak pernah menerima saya.

Karena saya terbuka mengkritik Donald Trump. Ketika Trump membuat aturan melarang orang Islam masuk Amerika. Saya demonstrasi besar-besaran di Time Square puluhan ribu orang turun ke jalan dengan tema saya juga orang muslim, 90 persen non-muslim. Kalau sama Barrack Obama suasananya lebih nyaman. Karena ia lima tahun tinggal di Indonesia. Bapaknya seorang muslim. Walau dia bukan muslim. Karena ayahnya keturunan Kenya.

Bill Clinton lebih longgar karena beliau demokrat. Bush masalah sedikit karena 911. Walau dia didukung Kristen Evangelical, dan beliau Texas, sebenarnya Bush orang baik, hanya faktor 911 dipaksa situasi melakukan peperangan Afganistan dan Irak.

Presiden paling banyak bertemu saya adalah Bush. Ketika bertemu dengan saya, Beliau bercanda itu anak siapa karena saya orang paling kecil. Dia keliling bersalaman. Saya menyampaikan tiga hal. Pertama, presiden belasungkawa mewakili komunitas muslim terbesar di dunia, saya dari Indonesia.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved