Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Metafora Puasa

Dalam berkomunikasi dengan sesama setiap hari, kita sangat sering menggunakan metafora konseptual, disadari atau tidak

Metafora Puasa
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Jarjani Usman, M.Sc., M.S.

Oleh Dr. Jarjani Usman, M.Sc., M.S.

Dalam berkomunikasi dengan sesama setiap hari, kita sangat sering menggunakan metafora konseptual, disadari atau tidak. Metafora konseptual ialah penggunaan konsep yang konkrit atau mudah difahami untuk memahami konsep yang abstrak atau sulit difahami.

Demikian juga dengan konsep "puasa", yang bisa difahami dengan metafora. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Misbah, terdapat sejumlah ungkapan tentang "puasa" yang bersifat metaforis yang saling berkaitan.

Pertama, puasa adalah jalan menuju takwa kepada Allah. Derajat takwa dari perintah berpuasa terdapat dalam Alquran: "Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa" (QS. Al Baqarah: 183).

Takwa sering diartikan sebagai melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya, sebuah ciri penduduk surga. Kalau dipahami puasa sebagai jalan menuju ketakwaan, dan yang berjalan ke sana adalah orang-orang beriman. Agar sampai ke sana, dibutuhkan usaha yang kuat dan komitmen yang tinggi.

Kalau tidak, kita akan gagal di tengah jalan. Sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW, betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus" (HR. Ath Thabrani).

Kedua, puasa adalah terapi sejumlah penyakit. Pada metafora kedua ini, konsep yang mudah dipahami di sini adalah terapi atau pengobatan penyakit untuk menjelaskan tentang puasa. Berbagai pertanyaan bisa muncul dari metafora ini, yaitu: siapa yang diterapi, bagaimana terapi dengan berpuasa, penyakit apa saja yang diterapi, siapa saja yang telah sembuh dengan terapi puasa, dan apakah kita sudah mampu menggunakan puasa sebagai terapi?

Dengan menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, kita akan merasa penting untuk mengenali puasa yang bisa membantu menerapi sejumlah penyakit, baik fisik maupun mental. Di antara penyakit jasmani yang terobati dengan berpuasa, seperti menetralkan racun dalam tubuh. Sedangkan penyakit mental yang bisa diobati dengan berpuasa adalah rasa rakus seperti binatang, mengambil yang bukan hak, mengalihkan jatah orang lain, dan sebagainya.

Ketiga, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum, dan hawa nafsu. Konsep yang mudah dipahami dalam metafora tentang puasa ini adalah menahan diri dari makan dan minum, dan hawa nafsu. Apalagi ada batas waktu menahan diri, yaitu sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari di waktu Magrib.

Tentunya, kalau sekadar menahan diri dari makan dan minum pada waktu yang telah ditentukan tersebut, banyak orang bisa melakukannya. Namun upaya menjaga diri, seperti menjaga niat yang baik, kata-kata yang bermanfaat, dan perbuatan mulia, tak semua orang sanggup dan konsisten dalam hidup ini, padahal itu termasuk ciri orang bertakwa.

Dengan memahami semua metafora tersebut, kita akan merasa penting untuk berpuasa dalam hidup ini, apalagi memperoleh pahala berlimpah. Metafora pertama mengenai tujuan berpuasa; metafora kedua tentang sejumlah manfaat bagi fisik dan jiwa; dan metafora ketiga menjelaskan bagaimana pelaksanaan puasa dalam praktik sehari-hari.

Namun ketika merumuskan tujuan berpuasa (meraih ketakwaan), Allah menggunakan kata-kata harapan "la'allakum tattaqun" yang mengandung arti "semoga kalian menjadi bertakwa." Secara implisit, ini menunjukkan adanya kemungkinan gagal bagi sebagian orang dalam meraih tujuan takwa. Bukti bahwa tak semua orang mampu meraih ketakwaan, bahkan setelah berpuasa di bulan Ramadan berpuluh kali selama hidupnya, sangat mudah didapati dalam hidup ini.

Contohnya, meskipun sudah tua, banyak orang tidak merasa berdosa mengambil yang bukan haknya. Ada juga yang tidak sungguh-sungguh bekerja, padahal itu penting dalam menjalani kehidupan yang halal dan diridhai Allah. Wallahu'alam bish-shawab.

* Penulis adalah Dosen Universtias Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: jarjani@ar-raniry.ac.id

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved