Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Internasional

Erdogan Marah Besar, Joe Biden Sebut Kekaisaran Ottoman Genosida Armenia

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin (26/4/2021) marah besar atas pengakuan Presiden Joe Biden terhadap warga Armenia dalam Perang Dunia I.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin (26/4/2021) marah besar atas pengakuan Presiden AS Joe Biden terhadap warga Armenia dalam Perang Dunia I.

Erdogan menegaskan pengakuan Biden atas genosida Armenia tidak berdasar dan berbahaya bagi hubungan bilateral..

"Presiden AS telah membuat komentar yang tidak berdasar dan tidak adil," kata Erdogan.

Dia menyampaikan dalam sambutan yang disiarkan televisi.

Dia memperingatkan akan memiliki dampak yang merusak hubungan Turki-AS saat ini dan di masa mendatang.

Apalagi, Turki telah menunjukkan kemarahan yang tak terduga setelah Presiden AS Joe Biden secara resmi mengakui pembantaian orang-orang Armenia tahun 1915 sebagai genosida.

Sebelumnya, terus menghindari penyebaran retorika pemberontak atau permusuhan terhadap sekutu NATO itu.

Turki menyatakan pembunuhan orang-orang Armenia tidak diatur secara sistematis dan mereka meninggal dalam kondisi masa perang, meninggalkan pemerintah dengan dua pilihan

Baca juga: Joe Biden Menegaskan Kekaisaran Ottoman Genosida Warga Armenia 1915

Entah itu dapat terus berhati-hati dan menghindari krisis diplomatik dengan AS pada saat lira Turki melemah terhadap dolar AS.

Atau dapat bergerak lebih jauh ke orbit Rusia dan berisiko merusak hubungan secara serius.

Reaksi Turki menjadi ujian untuk masa depan hubungan bilateral, yang sudah tegang karena tidak ada dukungan besar untuk negara tersebut di dalam Pemerintahan AS.

Biden juga menunda percakapan teleponnya yang ditunggu-tunggu dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan hingga 23 April 2021.

"Setelah Pentagon pendukung terbesar Turki di dalam pemerintahan AS, sekarang Pentagon berubah menjadi musuh terbesar Turki di Washington," kata Soner Cagaptay.

Dia seorang akademisi dari Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat kepada Arab News.

“Sekarang Erdogan membutuhkan AS lebih dari yang dia kira Washington membutuhkannya. Oleh karena itu, Biden memanfaatkan peluang ini," jelasnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved