Breaking News:

Masjid Raya Labui Pidie, Pernah Jadi Benteng Pertahanan Melawan Penjajahan Belanda

Dalam perjalanan sejarah, Masjid Raya Labui pernah disinggahi Sultan Iskandar Muda pada masa Kesultanan Aceh berkuasa (1607-1636)

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/ MUHAMMAD NAZAR
Seorang bocah melihat Masjid Raya Labui, Kecamatan Pidie, Pidie, Senin (26/4/2021). 

SALAH masjid yang memiliki sejarah di Aceh adalah Masjid Raya Labui. Masjid ini terletak di Kecamatan Pidie. Dalam perjalanan sejarah, Masjid Raya Labui pernah disinggahi Sultan Iskandar Muda pada masa Kesultanan Aceh berkuasa (1607-1636).

Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyinggahi Masjid Raya Labui--yang awalnya dikenal Masjid Po Teumeuruhom--untuk mengecek kesiapan masjid yang akan dijadikan benteng pertahanan melawan penjajahan Belanda. Batu bersusun--atau disebut diwai--yang dibangun melingkari masjid sebagai benteng pertahanan melawan penjajahan. Dipercayai warga Po Teumeuruhom adalah nama Sultan Iskandar Muda.

Saat meninggalkan Masjid Po Teumeuruhom, Sultan Iskandar Muda meninggalkan tongkat miliknya di masjid itu. Saat ini, tongkat kayu penuh ukiran itu diletakkan di mimbar (mihrab), yang dipegang khatib saat menyampaikan khutbah Jumat. Maski sudah berusia ratusan tahun, namun tongkat itu masih awet sampai sekarang. Pangurus masjid melapisi tongkat milik Sultan Iskandar Muda dengan cat berwarna emas.

Selain tongkat, mimbar yang ada di Masjid Raya Labui juga bernilai sejarah, Mimbar itu dibuat oleh seorang pengrajin yang sengaja didatangkan dari Cina. Kecuali itu, sumur galian dan kolam dengan sejumlah anak tangga peninggalan sejarah, juga  masih ditemukan di masjid tersebut.

Ketua I Pengurus Masjid Raya Labui, Tgk Muhammad Yusuf SAg mengatakan,  masjid itu awalnya bernama Masjid Po Teumeuruhom. Nama Po Teumeuruhom diyakini sebagai nama Sultan Iskandar Muda. Namun, versi lain Po Teumeuruhom merupakan ulama Aceh.

Masjid Po Teumeuruhom dibangun setelah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Masjid tersebut dibangun secara gotong-royong oleh masyarakat. Saat itu, masjid masih berdinding kayu, beratap daun rumbia dan bertiang batang kayu.

Seiring perkembangan, konstruksi bangunan Masjid Raya Labui diubah menjadi beton. Namun, bangunan masjid lama dipugar sehingga tetap berdiri kokoh berdampingan dengan bangunan masjid baru. Di Kompleks Masjid Raya Labui, awalnya ditanam puluhan batang kelapa.

Muhammad menyebutkan, di Masjid Raya Labui banyak warga yang melepaskan nazar. Bahkan, pasangan yang hendak melaksanakan nikah melaksanakan nazar dengan mengelilingi Masjid Raya Labui 3 hingga 7 kali dengan naik kuda. Saat datang ke masjid, pasangan hendak menikah bersama rombongan memukul rapai. Nazar itu dilaksanakan warga pada, Senin, Kamis dan Jumat. "Sampai sekarang warga yang melaksanakan nazar di masjid masih ada. Kecuali, warga bernazar naik kuda sudah mulai berkurang," jelasnya.

Ia menambahkan, Masjid Raya Labui mampu menampuang 2.000 jamaah. Pada bulan Ramadhan 1442 Hijriah ini, jumlah jamaah melaksanakan shalat Tarawih menyesaki masjid. Begitu juga pada pelaksanaan shalat Jumat, jamaah masjid membludak, sehingga banyak yang memanfaatkan bangunan masjid lama. Jamaahnya juga bukan hanya warga setempat, tapi ada dari kecamatan tetangga.

Selama Ramadhan, panitia masjid mengundang imam muda untuk memimpin shalat Tarawih, begitu juga penceramahnya, diundang dari luar. "Kami juga menyediakan ie bu kanji gratis kepada masyarakat. Siapa saja boleh mengambil ie bu kanji yang memang telah lama dilakukan di masjid tersebut," ujarnya.

Ia menambahkan, untuk memperindah Madjid Raya Labui, pengurus masjid sedang membangun satu menara setinggi 24 meter. Pembangunan menara itu belum rampung, sehingga butuh bantuan dana dari masyarakat dan donatur.(muhammad nazar)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved