Internasional
Presiden Komisi Uni Eropa Merasa Terluka, Sendirian Saat Bertemu Erdogan, Karena Dirinya Wanita
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan merasa terluka dan sendirian selama pertemuan dengan Presiden Turki di Ankara.
SERAMBINEWS.COM, BRUSSELS - Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan merasa terluka dan sendirian selama pertemuan dengan Presiden Turki di Ankara.
Dia mengaku diperlakukan dengan buruk hanya karena dia seorang wanita.
Von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara untuk membicarakan ketegangan hubungan Uni Eropa-Turki awal bulan ini.
Dilansir AFP, Selasa (27/4/2021) hanya dua kursi yang diletakkan di depan bendera Uni Eropa dan Turki untuk ketiga pemimpin tersebut.
Michel mengambil kursi di sebelah Erdogan.
Baca juga: Prancis Tuduh Turki Sengaja Menghina Ketua Komisi Uni Eropa
Von der Leyen berdiri memandangi para pria yang duduk, mengekspresikan keheranannya dengan suara "ehm", dan tanda kekecewaan.
Dia kemudian terlihat duduk di sofa besar berwarna krem, jauh dari rekan prianya.
Dia memberi penjelasan:
“Saya wanita pertama yang menjadi presiden Komisi Eropa."
"Saya adalah presiden Komisi Eropa, dan perlakuan seperti inilah yang saya temukan ketika mengunjungi Turki dua minggu lalu."
"Seperti presiden komisi, tapi saya tidak,” kata von der Leyen kepada anggota parlemen Uni Eropa.
“Saya tidak dapat menemukan pembenaran, bagaimana saya diperlakukan dalam perjanjian Eropa," tambahnya.
"Jadi, saya harus menyimpulkan itu terjadi karena saya perempuan, ”ujarnya.
“Apakah ini akan terjadi jika saya mengenakan jas, dan dasi?” tanyanya.
Von der Leyen, yang tidak secara terbuka menyalahkan Erdogan atau Michel atas insiden tersebut, mengatakan dia melihat tidak ada kekurangan kursi dalam pertemuan serupa di masa lalu.
“Saya sakit hati, dan sendirian sebagai wanita, dan sebagai orang Eropa," keluhnya.
"Karena ini bukan tentang pengaturan atau protokol tempat duduk," ungkapnya.
"Ini menjadi inti dari siapa kita yang sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh serikat kami," urainya.
"JUga menunjukkan seberapa jauh kami masih harus melangkah sebelum perempuan diperlakukan sama, selalu dan di mana-mana, " harapnya.
Baca juga: Skandal Sofagate, Turki Abaikan Ketua Komisi Uni Eropa, Tanpa Kursi Dalam Pertemuan dengan Erdogan
Kesalahan protokol yang terlihat di istana kepresidenan Turki memicu keributan publik.
Turki bersikeras permintaan protokol UE sendiri telah diterapkan.
Tetapi kepala protokol Dewan Eropa mengatakan timnya tidak memiliki akses, selama pemeriksaan persiapan ke ruangan tempat insiden itu terjadi.
Michel meminta maaf atas insiden itu.
Dia mengatakan seharusnya menyerahkan kursinya tetapi dia khawatir akan memicu insiden diplomatik yang lebih luas, terutama mengingat buruknya hubungan antara Turki dan blok 27 negara itu.
Von der Leyen mengatakan untungnya kamera hadir pada pertemuan itu dan gambar-gambar itu menjadi berita utama di seluruh dunia.
Tetapi dia mengatakan banyak wanita tidak seberuntung itu, dan mencatat peningkatan kekerasan terhadap wanita dan anak-anak selama pandemi virus Corona.
Kepala cabang eksekutif UE, yang pidatonya dipuji oleh beberapa anggota parlemen, juga mengatakan selama pembicaraan dengan Erdogan, dia mengangkat keputusan Turki untuk meninggalkan Konvensi Istanbul.
Bertujuan untuk memerangi kekerasan terhadap perempuan.
"Pengunduran diri salah satu anggota pendiri Dewan Eropa adalah sinyal yang buruk," kata von der Leyen.
Tetapi dia juga mencatat beberapa negara anggota UE belum meratifikasi konvensi tersebut dan yang lain bahkan mempertimbangkan untuk mundur.
"Ini tidak bisa di terima, karena seluruh jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah kejahatan," ujarnya.
"Kita harus menyebutnya kejahatan dan harus dihukum seperti itu, ”katanya.
Baca juga: Arab Saudi dan Bahrain Perkuat Kerjasama, Targetkan Kurangi Campur Tangan Iran dan Turki di Teluk
Von der Leyen mengatakan dia ingin Uni Eropa sendiri untuk bergabung dengan konvensi tersebut,.
Tetapi langkah tersebut diblokir oleh beberapa negara anggota.
Dia mengatakan pada akhir tahun, Komisi Eropa akan mengajukan undang-undang alternatif untuk mencegah dan memerangi kekerasan terhadap wanita dan anak-anak, baik offline maupun online.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pertemuan-presiden-turki-dan-uni-eropa.jpg)