Pemilihan Cawagub
Bikin Habis Energi, Politisi PNA Minta Partai Pengusung Lupakan Pemilihan Cawagub untuk Nova
Terkait proses pembahasan cawagub, Muhammad MTA menyarankan partai pengusung untuk menggelar rapat bukan lagi pada penentuan cawagub, tetapi bersatu d
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Masrizal | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Politisi Partai Nanggroe Aceh (PNA), Muhammad MTA mengatakan sebaiknya partai pengusung bersatu untuk fokus menyukseskan sisa periode pemerintahan Aceh Hebat dengan meninggalkan polemik pemilihan cawagub Aceh yang sudah masuk waktu penghujung.
"Terulur-ulurnya waktu di tingkat partai pengusung dalam pembahasan penentuan cawagub hanya menghabiskan energi, lebih baik energi ini disatukan untuk sama-sama berpikir dan bertindak dalam menyukseskan pemerintahan sisa periode ini," katanya kepada Serambinews.com, Kamis (29/4/2021).
Pernyataan disampaikan Muhammad MTA menanggapi ketidakpastian pembahasan calon wakil gubernur (cawagub) Aceh sisa masa jabatan 2017-2022 yang sudah berjalan enam bulan namun belum ada hasil.
Muhammad MTA merupakan salah satu figur yang meramaikan bursa cawagub dari PNA.
Namun namanya gugur setelah PNA memilih Sayuti Abubakar sebagai cawagub usulan PNA.
Terkait proses pembahasan cawagub, Muhammad MTA menyarankan partai pengusung untuk menggelar rapat bukan lagi pada penentuan cawagub, tetapi bersatu dalam menyelesaikan agenda-agenda visi-misi yang masih tertinggal.
"Dengan sisa waktu yang begitu terulur sangat lama dalam penentuan cawagub di tingkat partai pengusung, saat ini tidak strategis lagi kita bahas dan galang politik untuk adanya wagub," jelas mantan aktivis ini.
"Apalagi tahapan menghabiskan waktu lebih kurang 6-7 bulan, terutama tahapan-tahapan yang harus dilalui di tingkat DPRA. Jadi sudah sangat tidak strategis lagi. Kecuali Januari atau Februari fix di tingkat pengusung tempo hari," tambahnya.
Karena itu, Muhammad MTA meminta semua pihak lebih baik memikirkan kekompakan pemerintahan eksekutif dan legeslatif dimana lokomotif sebenarnya ada di partai pengusung.
"Saat ini mari kita fokus untuk konsolidasi politik untuk mengawal dan memikirkan program-program prorakyat secara bersama-sama," ujarnya.
• Dukcapil Serahkan 53 Akta Kematian Awak KRI Nanggala 402
• Kasus Rapid Test Antigen Bekas di Bandara Kualanamu, 5 Orang Jadi Tersangka, Keuntungan Rp1,8 Miliar
Terutama, lanjut dia, disaat kondisi masyarakat saat ini yang terhimpit masalah ekonomi, terlebih di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini mengalami trend grafik menanjak.
"Semua partai pengusung harus memposisikan diri sebagai “wakil gubernur” untuk membantu gubernur dalam menyukseskan program Aceh Hebat sampai habis periode ini," tutup Muhammad MTA.
Sebelumnya diberitakan, sudah enam bulan pembahasan calon wakil gubernur (cawagub) Aceh sisa masa jabatan 2017-2022 belum ada hasil.
Bahkan kini tidak terdengar lagi adanya pembahasan figur yang akan diusulkan sebagai cawagub dari tingkat partai pengusung.
Untuk diketahui ada lima partai pengusung Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah selaku Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 2017 silam.
Yaitu Partai Nanggroe Aceh (PNA), Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PDA), Partai Daerah Aceh (PDA), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
"Tidak ada pembicaraan lagi. Sampai saat ini belum bisa duduk partai pengusung dengan gubernur," kata Ketua DPW PKB Aceh, Irmawan kepada Serambinews.com, Kamis (29/4/2021).(*)