Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Ramadhan Momentum Melawan Wabah

Memasuki tahun 2021 dan kini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah, pandemi Covid-19 belum juga mereda

Ramadhan Momentum Melawan Wabah
FOR SERAMBINEWS.COM
Zahrol Fajri, S.Ag, MH

Oleh Zahrol Fajri, S.Ag, MH

Memasuki tahun 2021 dan kini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah, pandemi Covid-19 belum juga mereda. Malah, akhir-akhir ini mulai ditemukan varian baru dari virus tersebut. Karena itu, kita tetap harus waspada dengan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Sebab, siapa pun dan apa pun profesinya bisa saja terpapar Corona, termasuk dokter, kepala daerah, anggota dewan, ulama, dan kalangan lainnya. Dengan kata lain, Covid-19 tidak pilih-pilih siapa yang akan dijangkitinya.

Pemangku kebijakan mulai dari pusat hingga daerah sudah melakukan berbagai usaha untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19. Upaya yang paling sering dilakukan adalah kampanye atau sosialisasi yang mengimbau masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan (protkes) seperti selalu memakai masker saat berada di luar rumah, rutin mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, dan dilarang berkumpul di keramaian.

Berbagai ikhtiar itu memang belum efektif seratus persen. Sebab, Covid-19 merupakan hal baru-- bukan hanya bagi pemerintah kita, tapi juga untuk dunia--yang penyebarannya sulit dikendalikan. Meski demikian, kondisi ini tak bisa kita jadikan alasan untuk mengklaim bahwa pemerintah tidak sukses memutuskan mata rantai penyebaran virus Corona. Tapi, butuh kesadaran kolektif dari semua elemen masyarakat untuk bisa menyesuaikan diri dengan tatanan hidup baru selama dan setelah wabah ini melanda.

Sebagai contoh, ketika orang tua kita meninggal karena terpapar Covid-19, maka anaknya tak bisa terlibat untuk memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya seperti selama ini. Karena itu, tak jarang hal tersebut akan memunculkan masalah baru. Salah satunya, terjadinya perebutan jenazah antara pihak rumah sakit dan keluarga korban.

Persoalan lain yang mendasar adalah budaya masyarakat kita yang suka berkumpul. Coba lihat di warung-warung kopi, sangat susah kita menemuka meja yang hanya ditempati oleh dua orang sesuai anjuran protkes. Tapi, rata-rata 4-8 orang duduk semeja. Hal ini jelas menjadi kendala dalam upaya memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

Di sisi lain, menutup warung kopi juga tidak mungkin. Ada banyak orang--seperti pemilik warung, pramusaji, dan penjual makanan lainnya--yang penghasilannya bergantung pada warung kopi. Jadi, menjadi tugas kita bersama agar upaya pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 bisa berjalan dan kegiatan ekonomi seperti warung kopi juga bisa terus berlangsung. Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu mulai dari ulama, guru/dosen, insan pers, anggota dewan, hingga tokoh masyarakat harus ikut memainkan perannya masing-masing.

Pemerintah Aceh juga sudah melakukan berbagai usaha untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19 di Bumi Serambi Mekkah. Program itu antara lain Gebrak Masker Aceh (GEMA), Gebrak Masker Sekolah (GEMAS), Gebrak Masker Dayah Aceh (GEMA DAYAH), dan Gerakan Nakes Cegah Covid-19 (GENCAR). Bahkan, yang terbaru Pemerintah Aceh saat ini sedang menjalankan program Gerakan Edukasi Vaksinasi Covid-19 (GESID) yang menyasar seluruh elemen mulai dari tenaga kesehatan, pejabat pelayanan publik, masyarakat, ulama, pelaku ekonomi esensial, lansia, dan pekerja di ruang publik.

Upaya lain tentunya menyukseskan program vaksinasi Covid-19 yang dicanangkan Pemerintah Pusat beberapa waktu lalu. Dalam beberapa bulan ke depan, kita berharap 3,7 juta penduduk Aceh sudah mendapatkan vaksin. Masyarakat Aceh tidak ragu terhadap program vaksinasi ini, karena sudah dinyatakan halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Sebagai bulan yang penuh berkah, Ramadhan yang sedang kita lalui sekarang hendaknya menjadi momentum kita untuk meningkatkan berbagai usaha melawan wabah ini. Sudah sepatutnya kita bersama-sama berusaha melawan virus Corona yang salah satu caranya dengan tetap mematuhi protkes yang dianjurkan oleh pemerintah seperti menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan mau divaksin.

Usaha tersebut tentunya harus diikuti dengan kita terus bertawakkal kepada Allah SWT dengan cara memperbanyak berbagai ibadah baik yang wajib maupun sunat serta terus berdoa kepada Sang Pencipta. Selain akan mendapat pahala yang berlipat ganda, dengan memperbanyak ibadah dan doa

di bulan suci ini mudah-mudahan Allah SWT segera mencabut wabah Corona dari muka bumi. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin

* Penulis adalah Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh. Email: dinaspdaceh.gmail.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved